Kota Jambi (ANTARA) - Sabtu pagi itu mendung masih menyelimuti langit Kota Jambi saat jamaah Shalat Idul Fitri berangsur memadati Masjid Jami Ba'alawi di Kelurahan Arab Melayu, Kota Jambi Seberang.
Pelaksanaan Shalat Idul Fitri yang dilanjutkan dengan silaturahmi bersalam-salaman bukan satu-satunya kegiatan di area Masjid Jami Ba'alawi.
Bagi masyarakat Kota Jambi Seberang, momentum Lebaran bukan sekadar aktivitas menyambung silaturahim setelah sebulan penuh menunaikan puasa Ramadhan. Di balik kemeriahan itu, tersimpan ritual sakral bernama "Injak Bumi" yang khusus dipersembahkan bagi warga yang memiliki bayi dalam tahap belajar berjalan.
Ritual "Injak Bumi" merupakan tradisi di mana setiap bayi diserahkan kepada para tokoh agama yang telah berkumpul di halaman masjid untuk dimintakan doa restu.
Dengan penuh kegembiraan, usai Shalat Idul Fitri, belasan orang tua mulai menghampiri para tokoh agama dan langsung menyerahkan buah hati mereka.
Tanpa banyak pertanyaan, seolah telah saling mengerti, sejumlah tokoh agama yang keluar dari dalam masjid langsung mengusap tubuh sang bayi sembari melantunkan doa dengan suara lirih. Mereka kemudian mengusap kepala bayi tersebut, menurunkannya ke tanah, lalu mengembalikannya ke pelukan orang tua.
Seusai ritual, orang tua bayi segera menaburkan bunga dan uang logam ke udara. Uang itu telah disiapkan sejak dari rumah. Atraksi itu sontak mengundang kerumunan anak-anak kecil yang sedari tadi menunggu dengan antusias.
Abu Umar, warga Arab Melayu sekaligus ayah dari Muhammad Raska, berbagi cerita di halaman Masjid Jami Ba'alawi, Kota Jambi Seberang. Ia menuturkan bahwa kegiatan injak bumi merupakan tradisi yang telah ada sejak lama.
"Jauh sebelum Indonesia merdeka, atau tepatnya sejak kawasan Jambi Kota Seberang mulai dihuni oleh sekelompok pribumi asli Jambi dan pendatang keturunan Arab, tradisi ini sudah hidup," ungkapnya.
"Sejak nenek moyang saya tinggal di sini, tradisi injak bumi sudah ada. Bahkan saya sendiri pernah melalui tahapan ini, dan kini giliran anak saya," katanya seusai mengikuti prosesi turun bumi.
Umar berharap, melalui doa yang dipanjatkan para pemuka agama, anaknya kelak tumbuh sehat serta memiliki akidah yang kuat dalam mengarungi kehidupan sehari-hari.
"Melalui keikhlasan doa yang diucapkan, kami ingin anak-anak di sini menjadi pribadi yang berguna bagi keluarga dan lingkungan," ujarnya.
Senada dengan Umar, Megawati, ibu dari Arsyad, yang telah hadir sejak pagi di halaman Masjid Jami Ba'alawi, menyampaikan harapannya. Usai menjalani ritual injak bumi, ia berharap buah hatinya dikaruniai kesehatan dan kelak menjadi anak saleh yang bermanfaat bagi sesama.
Megawati menambahkan, keempat anaknya selalu mengikuti tradisi yang telah menjadi bagian dari khasanah budaya warga Jambi Seberang ini.
"Ini (Arsyad) anak keempat saya. Rasanya ada yang kurang jika tidak ikut ritual seperti ini. Saya ingin anak saya didoakan," jelasnya.
Turun-Temurun
Tokoh agama setempat, Abdulah Hamid, menjelaskan bahwa tradisi injak bumi merupakan bagian dari upaya merawat warisan leluhur yang memiliki dimensi spiritual. Baginya, ritual ini adalah tradisi rutin yang diwariskan secara turun-temurun dari nenek moyang.
Salah satu inti ritual yang masih dijalankan adalah bentuk penghormatan terhadap bumi yang baru dipijak, khususnya bagi anak-anak atau pendatang baru. Tradisi ini dipercaya sebagai sarana mengambil berkah dan wujud rasa hormat terhadap tempat tinggal yang baru.
Ia menegaskan, adat ini tetap dijaga sebagai bagian dari syiar Islam yang berakulturasi dengan budaya lokal.
Doa yang dipanjatkan bertujuan memberikan perlindungan dari gangguan gaib, sebagaimana tercantum dalam potongan doa:
"A’udzu bikalimatillahittammati min syarri maa khalaq." Serta "Bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syai’un fil ardhi wa laa fissama’i wahuwas sami’ul ‘alim."
Inti dari pembacaan doa tersebut adalah memohon perlindungan kepada Allah SWT agar dijauhkan dari gangguan setan, iblis, maupun marabahaya lainnya saat seseorang mulai menempati atau menginjakkan kaki di suatu tempat baru.
"Intinya hanya itu, kita berusaha menjauhkan diri dari gangguan-gangguan gaib," ujarnya.
Kaya Sejarah dan Nilai
Khatib Masjid Jami Ba'alawi, Majdi Hasan Musa, mengatakan bahwa masyarakat Melayu Jambi Seberang adalah komunitas yang kaya akan sejarah dan nilai luhur.
"Di tepian Batanghari, dakwah pernah tumbuh dengan santun, dan ilmu berkembang dengan adab. Untuk itu, jangan sampai kita menjadi generasi yang hanya mewarisi tanah, tetapi kehilangan tuntunan," pesannya.
"Jangan sampai kita membangun rumah megah, tetapi justru merobohkan akhlak," tambahnya.
Melalui momentum Lebaran, ia mengajak masyarakat Melayu Jambi untuk saling mengunjungi dan menziarahi satu sama lain, karena hal tersebut termasuk amalan utama.
"Hal ini mencakup pula berbicara dengan sopan dan beradab. Orang Melayu sangat menitikberatkan adab dalam bertutur; kata-kata harus lembut, hormat kepada orang tua, dan tidak meninggikan suara," katanya.
Menurut dia, menggunakan bahasa yang halus dan menjaga perasaan orang lain adalah kunci. Saling memaafkan dan menghormati, khususnya nilai maaf-bermaafan, amat ditekankan terutama pada hari-hari perayaan.
Orang Melayu percaya bahwa memohon dan memberi maaf dapat menenangkan hati serta membersihkan hubungan antarmanusia.
"Keluarga adalah tiang negeri. Jika rumah tangga rapuh, maka runtuhlah masyarakat," ujarnya.
Ia juga berpesan agar mendidik anak dengan agama, bukan hanya dengan kemewahan. "Ajarkan adab sebelum ilmu, tanamkan rasa malu sebelum bangga," tuturnya.
"Kekuatan keluarga Melayu terletak pada paduan agama, adat, kasih sayang, dan tanggung jawab bersama," ucapnya menutup pembicaraan.







