Oleh: Kristianus Jehamit
Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Langit Nusa Tenggara Timur memasuki sebuah jeda yang unik, sebuah ritme sosial yang tidak hanya ditentukan oleh kalender, tetapi oleh kedalaman makna religius yang dihidupi masyarakat.
Di satu sisi umat Hindu merayakan Nyepi dalam keheningan total, jalanan lengang, lampu dipadamkan, aktivitas dihentikan, seolah dunia diajak berhenti sejenak untuk bernapas dalam kesadaran yang lebih dalam.
Keheningan itu bukan sekadar absennya suara, melainkan sebuah bahasa spiritual terhadap disisplin diri, pengendalian hasrat, dan penarikan diri dari hiruk-pikuk dunia.
Baca juga: Opini: UU PPRT dan Ujian Keberpihakan Negara pada Kerja Domestik
Tidak lama berselang, suasana berubah drastis, gema takbir menyambut Idulfitri, rumah-rumah terbuka, tangan-tangan saling berjabat, dan wajah-wajah berseri dalam semangat silaturahmi dan saling memaafkan.
Dua perayaan ini yang hadir dalam kontras antara sunyi dan riuh bukan hanya pemandangan sosial-religius yang khas tetapi juga cermin dari wajah keberagaman yang hidup, bergerak dan terus dinegosiasikan.
Perayaan keagamaan selalu menghadirkan wajah paling nyata dari religiusitas manusia, karena di sanalah iman tidak lagi bersembunyi dalam konsep tetapi menjelma dalam tindakan konkret.
Ia tampil sebagai bahasa eksistensial yang mengungkapkan relasi manusia dengan Yang Ilahi dan sesamanya.
Dalam konteks Nusa Tenggara Timur (NTT), momen perayaan Nyepi dan Idulfitri membuka ruang reflektif yang kaya, sebagai suatu kesempatan untuk tidak hanya merayakan perbedaan, tetapi juga menilai kembali bagaimana toleransi benar-benar dijalankan.
Apakah ia lahir dari kesadaran iman yang mendalam, ataukah hanya menjadi norma sosial yang diterima tanpa refleksi?
Di titik ini, religiusitas tidak lagi bisa dipahami secara privat melainkan sebagai kekuatan sosial yang membentuk cara hidup bersama.
Nyepi dengan keheningan totalnya, mengajak manusia masuk ke dalam dimensi kontemplatif yang seringkali terlupakan dalam kehidupan modern.
Ia memanggil manusia untuk berhenti, menahan diri, merefleksikan eksistensi, dan menata kembali relasi dengan alam semesta.
Keheningan ini bersifat radikal karena menuntut pelepasan dari ego dan keterikatan duniawi.
Sebaliknya Idul Fitri hadir dalam nuansa komunal yang hangat dan terbuka seperti silaturahmi, saling memaafkan dan mempererat solidaritas sosial.
Jika Nyepi adalah perjalanan ke dalam diri, maka Idulfitri adalah gerak keluar menuju sesama.
Namun di balik perbedaan ekspresi ini keduanya mengandung nilai fundamental yang sama tentang pemurnian diri dan rekonsiliasi.
Yang satu melalui keheningan, yang lain melalui relasi sehingga keduanya adalah jalan menuju kemanusiaan yang lebih utuh.
Namun di sinilah pertanyaan kritis muncul dan tidak bisa dihindari: apakah religiusitas yang dirayakan dalam dua momen ini benar-benar melahirkan toleransi yang kuat dan otentik?
Ataukah toleransi itu hanya berhenti pada level simbolik, yaitu sekadar gestur sosial yang indah di permukaan tetapi hampa di kedalaman?
Apakah membuka jalan bagi perayaan agama lain atau saling mengucapkan selamat sudah cukup untuk disebut toleransi?
Pertanyaan ini penting karena tanpa refleksi kritis, toleransi mudah direduksi menjadi formalitas sosial yang kehilangan dimensi etisnya.
Ia tampak hidup tetapi sebenarnya dangkal. Dalam perspektif teologi kontekstual iman tidak pernah berdirir di ruang hampa.
Ia selalu berakar dalam konteks sosial, budaya dan historis tertentu. Religiusitas di NTT, yang dikenal kuat, ekspresif, dan bukanlah identatif, seringkali dipuji sebagai contoh harmoni antarumat beragama.
Namun pujian ini perlu diuji secara kritis agar tidak jatuh dalam romantisme yang meninabobokan.
Sebab harmoni yang tidak pernah dipertanyakan berpotensi menjadi ilusi, meyembunyikan ketegangan, prasangka, atau bahkan eksklusivisme yang bekerja secara laten.
Dalam arti ini, teologi tidak boleh hanya menjadi legitimasi atas apa yang sudah ada, tetapi harus menjadi suara kritis yang membongkar apa yang tersembunyi.
Teologi kontekstual mengajak kita untuk membaca tanda-tanda zaman (signa temporum) dalam terang pengalaman konkret umat.
Ia tidak hanya bertanya tentang “apa yang diyakini?”, tetapi juga “bagaimana keyakinan itu dihidupi” dalam realitas sosial yang kompleks?”.
Dalam konteks Nyepi dan Idul Fitri, toleransi tidak cukup dipahami sebagai “tidak mengganggu” atau “saling menghormati” secara pasif.
Toleransi sejati menuntut keterlibatan aktif yaitu kesediaan untuk memahami yang lain dalam perbedaannya, membuka ruang dialog yang jujur, dan bahkan mengoreksi cara kita menghidupi iman jika ternyata ia melahirkan sikap eksklusif.
Dengan demikian, toleransi bukan sekadar sikap sosial, tetapi praksis teologis.
Di titik ini, religiusitas menghadapi ujian eksistensialnya yang paling mendasar.
Apakah ia menjadi jalan pembebasan yang memanusiakan, merangkul perbedaan, dan membangun solidaritas lintas identitas?
Ataukah ia justru menjadi alat legitimasi identitas yang secara halus membangun batas-batas kaku antara “kita” dan “mereka”?
Pertanyaan ini tidak bisa dijawab secara abstrak , tetapi harus dilihat dalam praktik sehari-hari, yaitu dalam cara kita berbicara tentang yang lain, dalam sikap kita terhadap perbedaan, dan dalam keberanian kita untuk melampaui zona nyaman identitas.
Realitas sosial di NTT tidak sepenuhnya steril dari potensi konflik berbasis identitas.
Politik identitas, dalam banyak kasus, dengan mudah memanfaatkan simbol-simbol religius untuk kepentingan kekuasaan.
Dalam situasi seperti ini, agama kehilangan dimensi profetisnya dan berubah menjadi alat mobilisasi massa.
Toleransi pun direduksi menjadi retorika publik yang kehilangan daya transformasinya.
Ia dirayakan di permukaan, dalam slogan, seremoni dan narasi resmi, tetapi rapuh di akar, kearena tidak dibangun di atas kesadaran kritis dan komitmen etis yang mendalam.
Di sinilah peran teologi kontekstual menjadi krusial dan tidak tergantikan. Ia tidak hanya menafsirkan iman dalam bahasa yang relevan, tetapi juga mengkritisi praksis sosial yang menyertainya.
Dalam terang ini, Nyepi dan Idulfitri tidak boleh berhenti sebagai perayaan ritual yang berulang setiap tahun, tetapi harus menjadi momen profetis yang menggugat, menginterupsi dan mentransformasi cara kita memaknai serta menghidupi toleransi.
Teologi harus berani bertanya: apakah perayaan ini benar-benar mengubah kita atau sekadar menghibur?
Keheningan Nyepi seharusnya menuntun kita untuk bertanya dengan jujur: sejauh mana kita telah memberi ruang bagi yang berbeda dalam hidup kita?
Apakah kita sungguh-sungguh mampu diam dari prasangka, menahan diri dari penghakiman dan membuka diri terhadap alteritas?
Sementara itu semangat rekonsiliasi Idulfitri menantang kita lebih jauh: apakah kita benar-benar siap memaafkan, bukan hanya secara verbal tetapi secara eksistensial?
Apakah kita mampu membangun relasi yang melampaui sekat identitas, ataukah kita hanya berdamai di permukaan tanpa menyentuh akar perpecahan?
Dengan demikian toleransi tidak lagi dipahami sebagai kompromi dangkal atau sekadar strategi sosial untuk menjaga stabilitas.
Ia harus dilihat sebagai komitmen etis yang lahir dari kedalaman religiusitas itu sendiri.
Toleransi adalah buah dari iman yang matang, iman yang tidak takut pada perbedaan, tetapi justru diperkaya olehnya.
Ia bukan sekadar koeksistensi, tetapi kooperasi; bukan hanya penerimaan pasif, tetapi keterbukaan aktif terhadap yang lain sebagai sesama manusia.
Akhirnya di antara Nyepi dan Idulfitri kita tidak hanya merayakan perbedaan, tetapi juga diuji oleh perbedaan itu.
Religiusitas di NTT menemukan maknanya yang paling otentik, bukan ketika ia tampak harmonis dipermukaan, tetapi ketika ia berani menhadapi ketegangan dengan kejujuran, mengolahnya dalam refleksi kritis dan melahirkan kembali sebagai praksis toleransi yang nyata dan berkelanjutan.
Di sanalah iman menjadi hidup, bukan sebagai identitas yang kaku tetapi sebagai perjalanan yang terus terbuka.
Sebab pada akhirnya toleransi bukan hasil sampingan dari religiusitas melainkan ukuran sejauh mana religiusitas itu benar-benar manusiawi, sejauh mana ia mampu menghadirkan wajah Allah dalam relasi yang adil, terbuka dan penuh kasih di tengah dunia yang majemuk. (*)