TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Marak netizen melakukan live streaming di sosial media saat hari suci Nyepi 2026. Di antaranya ada yang menghidupkan lampu, hingga keluar rumah.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi Bali (PHDI Bali), I Nyoman Kenak mengatakan, pelanggaran Nyepi 2026 ini jumlahnya jauh berkurang dari tahun 2025 lalu.
"Itu kembali mulai dari mulat sarira diri sendiri, tapi yang melanggar itu kan akan diproses. Tapi secara general, saya menyampaikan ucapan terima kasih ke semua pihak umat Hindu dan umat yang lainnya," jelasnya pada Sabtu 21 Maret 2026.
Lebih lanjutnya ia mengatakan secara general, penerapan Catur Brata Penyepian cukup baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, namun mungkin tidak sempurna sekali.
Baca juga: Ogoh-ogoh Sapa Warang Gemeh, Wawancara Khusus Marmar Herayukti: Hidup Itu, Peristiwa Demi Peristiwa
"Pasti ada satu, dua pelanggaran itu masih batas kewajaran. Tapi kita berusaha lah memberikan teladan kepada mereka imbauan. Nggak bosan-bosannya untuk mengedukasi tentang pelaksanaan itu. Tapi yang pasti hasilnya udah maksimal," imbuhnya.
Bahkan saat Nyepi harus berbarengan dengan Takbiran Idul Fitri situasinya masih sangat damai dan kondusif.
"Kalau yang sengaja (melanggar Catur Brata Penyepian) biar berubahlah diberikutnya yang pasti kita tidak bosan memberikan edukasi," paparnya.
Edukasi ke masyarakat lebih ditekankan pada peran masing-masing di Bendesa dan semua pihak. Juga terdapat sanksi sosial di masing-masing warga, selain itu sanksi hukum pada pelanggaran berat pada beberapa tahun lalu terjadi penebasan.
"Tapi di masing-masing desa kan punya pararem sendiri. Kalau terbukti melanggar itu pasti Bendesa apakah memberikan teguran atau gimana, kan banyak juga yang minta maaf setelah ditegur. Itu wujud dari peduli kita terhadap kesucian hari suci kita," bebernya.
Disinggung apakah akan ada usulan penonaktifan WIFI saat Nyepi tahun berikutnya, Kenak mengatakan belum ada arahan ke kebijakan itu.
"Kalau saya, contohnya full 24 jam walaupun ada WIFI di rumah, saya matiin. Memang karena saya ingin agar tidak selalu terganggu dengan suasana khusuk merenung di merajan, tapi kan nggak semua orang berpikiran demikian. Yang belum, ayo kita sama-samalah melalui medsos kita berusaha membenahi. Tapi kita nggak boleh bosan-bosannya memberikan edukasi mendidik, gitu lho kepada umat," pungkasnya.