TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Ogoh-ogoh Sapa Warang Banjar Gemeh Denpasar sukses hipnotis ribuan penonton saat malam Pengerupukan di Catus Pata Denpasar, Bali, Rabu 18 Maret 2026.
Lantas apa makna ogoh-ogoh Sapa Warang dan bagaimana proses pembuatannya?
Berikut wawancara khusus Tribun Bali dengan Seniman asal Gemeh, Marmar Herayukti pada, Sabtu 21 Maret 2026 di Kota Denpasar.
-Sapa Warang disebut sebagai salah satu mahakarya terbaik dan fenomenal pada malam Pengerupukan 2026, apa yang menurut Anda membuatnya begitu menonjol dan fenomenal?
Baca juga: Metaksu, Ribuan Warga Terbius Saat Sapa Warang Gemeh Bali Mesolah, Marmar: Saya Ikut Hening
Mungkin dari ide konsep yang tidak biasa, setelah itu penggarapannya juga dari komposisi bentuk yang tidak umum.
Lalu saya munculkan karakter rahasia sebetulnya dari bagian wajah yang tidak umum orang bikin biasanya.
Jadi sebenarnya secara angle itu sebenarnya wajahnya bolak balik. Jadi yang umum kita lihat dari bawah itu sebetulnya bagian belakangnya, tapi seolah-olah dia menghadap ke depan, padahal itu sebenarnya bagian belakang.
Nah mungkin itu salah satunya sih, termasuk juga saya tambahkan banyak detail di dalam setiap partnya.
Seperti bagian kulit, bagian wajah, begitu pun dandanannya menonjol Bali banget yang saya ambil sebenarnya era-era Bali yang lebih kuno. Mungkin komposisi-komposisi itu yang bikin dia menjadi spesial ya selain konsepnya juga.
Yang saya garap cukup panjang sebetulnya daripada ogoh-ogoh yang lain. Ini agak lebih panjang seperti dari Kiai Nirnur kemarin, ini mungkin lebih panjang. Saya punya spare waktu seminggu-dua minggu lebih panjang daripada Kiai Nirnur.
-Masyarakat bahkan rela menunggu sampai dini hari untuk melihat Sapa Warang—bagaimana Bli membaca fenomena ini?
Saya pikir saya lebih merasa diapresiasi ya. Sepertinya bukan cuma Sapa Warang yang ditunggu, tapi syukurnya kalau begitu pengakuannya menunggu Sapa Warang saya akan merasa sangat senang.
Itu juga membuat saya semakin semangat setiap tahunnya untuk membuat karya yang layak untuk ditunggu tidak mengecewakan.
Mungkin mereka juga yang menunggu itu satu merasa penasaran apa yang akan ditampilkan setelah melihat Ogogonya langsung pada siang hari atau pagi harinya.
Nanti malam pengurupukan seperti apa sih performance yang akan kita tampilkan mungkin itu sih.
Jadi mereka rela menunggu berdasarkan malah saya lihat itu ramai banget. Jutaan orang mungkin rame banget padat.
-Fenomena yang menarik juga, ribuan warga yang memadati Catus Patas tampak langsung hening saat Sapa Warang tampil, bagaimana Bli merespon pemandangan langka ini?
Itu satu aura yang nggak bisa di-create begitu saja. Nggak bisa dibuat-buat. Jadi itu semuanya satu pola energi yang saya sering menemukan di beberapa tempat.
Contohnya di catus patas itu ketika ketemu sesuatu energi dari ogoh-ogohnya sendiri, dari apa yang akan kita tampilkan, terus dari energi penonton itu ketemu. Itu beberapa kali terjadi seperti itu.
Contoh pada saat laliharan dulu juga begitu. Orang pada diem semua. Mungkin pada saat masuk orang suara-suaranya besar banget tuh.
Setelah masuk mulai gamelan semua jadi hening. Menurut saya itu pola yang nggak bisa dibuat-buat. Dan saya menikmati di dalam situ.
Saya juga ikut jadi bagian dari penonton yang hening itu sebetulnya pada hari itu.
Sama seperti yang lain, menurut saya perasaan yang dirasakan oleh penonton itu kurang lebih apa yang saya rasakan pada saat itu.
Saya bahkan tidak merasa saya orang yang membuat itu. Saya merasa bagian dari orang yang melihat pada saat itu. Karena memang waktunya ogoh-ogoh itu yang solah.
-Apa yang Bli rasakan ketika berdiri dan diangkat bersama Sapa Warang dan melihat begitu besarnya antusiasme warga?
Pertama ketika saya melihat dari atas itu. Saya bisa melihat lebih banyak Apa yang terjadi di bawah atau di samping-samping.
Sebenarnya lebih fokus pada bahaya sih. Karena penonton kan sulit banget diatur. Semua berdesakan masuk.
Jadi ketika saya naik. Saya beri tanda hati-hati yang di ujung-ujung. Beberapa saya lihat bahwa anak-anak malah di depan.
Itu yang selalu saya notice setiap saat kalau saya gak naik. Biasanya saya ada di bawah sanan. Saya di bawah sanan saya suka kasih kode ke orang tuanya. Mundur anaknya hati-hati Karena si pengangkat sanan ini tidak akan bisa mengontrol sanannya dengan baik.
Sedangkan penonton terlalu antusias akan maju. Nah itu sebenarnya bentuk antisipasi satu. Yang kedua sebenarnya di situ itu kemarin ada pola yang agak lucu sih. Karena saking padatnya setelah kita muter itu kita bingung mau keluarnya sebelah mana.
Karena biasanya penanda kita itu balai pengungang yang ada di rumah jabatan gubernur itu, di Jaya Saba itu.
Tapi kemarin itu balai pengungangnya mati lampunya. Gak ada lampunya sama sekali. Jadi kita sempat bingung gimana nih kemana keluarnya.
Pas saya naik itu kelihatan lah. Saya nunjuk-nunjukkan, Samping itu saya punya kesempatan untuk menyapa teman-teman.
Pas saya naik itu ternyata pada bersorak. Saya kesempatan untuk menyapa dan memberikan salam lah. Ada satu salam yang sering saya perlihatkan pada saat saya main band sebetulnya.
Saya selalu begini, saya selalu bilang. Itu sebenarnya tanda kesapaan bahwa kita mesti kuat Jadi pribadi itu mesti kuat dalam gempuran banyak hal.
Termasuk sepertinya pantas saya tampilkan di pose itu. Saya tampilkan pada saat pengurupukan. Bahwa inilah kekuatan budaya.
Kekuatan budaya bisa bicara banyak di depan siapa saja Di depan gempuran apa saja Sebenarnya kita punya jadi diri yang kuat. Gestur itu tidak diberubah dengan alami. Gestur yang saya punya selama ini.
-Apa pesan dan makna terdalam dari Sapa Warang yang ingin Anda sampaikan ke masyarakat?
Sapa Warang itu bicara tentang ada satu hal yang sangat alamiah. Yang sangat kodrati, yang dibawa oleh manusia sejak lahir.
Dia itu bagaikan mantra pertama yang diucapkan oleh manusia pada saat dia lahir. Itu adalah tangisan.
Dalam segi bahasa tangis itu mengandung tangi. Tangi itu artinya sadar atau bangun. Begitu juga dalam bahasa Bali disebut ngeling atau eling.
Eling juga berarti ingat. Saya berpandangan bahwa tangis ini adalah satu alat yang diberikan Tuhan pada kita untuk mengiringi kita dalam perjalanan hidup kita.
Karena sangatlah sudah diatur bahwa manusia dalam hidupnya itu akan menemui banyak rintangan, tantangan.
Bahkan itu mungkin menyesakkan, menyakitkan dan lain sebagainya. Bahkan menyenangkan sekalipun Semua itu diiringi oleh tangisnya itu sendiri. Jadi setiap kejadian mau itu bahagia, mau itu senang, pencapaian yang luar biasa.
Rasa haru, kangen, sampai rasa sakit sekalipun. Itu kalau menyentuh dengan halus dan kita maknai dengan halus dan benar dengan rasanya.
Itu akan diiringi dengan tangis itu. Jadi Sapa Warang sebenarnya kita harus ingat pada diri kita dan apa sebenarnya tujuan kita hidup.
Jadi hidup itu gak tentang senang-senang, gak tentang mencari kebahagiaan saja. Hidup itu justru tentang melewati tantangan demi tantangan.
Hidup itu juga justru melewati peristiwa demi peristiwa. Sehingga kita sadar fungsi kita hidup ini seharusnya seperti apa.
Nah kalau saya pandang sih kenapa manusia jauh dengan kata alam yang sekarang ada ini. Karena dia gak ngerti proses alami. Banyak yang gak ngerti proses alami. Yang dia pikir adalah kalau melihat sesuatu keberhasilan yang dipikir adalah ujung keberhasilannya.
Dia gak membaca prosesnya bahwa proses itu ada banyak jalan berduri dan lain sebagainya yang harus ditempuh. Sehingga manusia mengupayakan dirinya untuk tetap bahagia.
Seperti pencapaian orang lain. Tidak ingat dengan apa swadarmanya, apa sebenarnya tujuan hidupnya. Nah tangisan ini selalu mengingatkan kita saat kita terlalu happy. Kita balik lagi bahwa ada hal lain yang juga sama tandanya nangis.
Tapi sebenarnya bukan happy. Ini pesan yang menurut saya pesan yang seharusnya kita punya semua, kita tahu semua.
Tapi patut diceritakan lagi. Karena ini memang secara personal ini sangat spiritual banget tapi dianggap hal yang seperti kedatangannya itu seperti hal yang ditolak semua orang. Orang gak suka menangis sekarang.
Orang gak suka menangis karena dalam dirinya mungkin terlalu banyak berekspektasi tentang bahagia dan lain sebagainya.
Pesan Sapa Warang ini adalah sebenarnya kalau kita ingin tahu, jadi kita harus mengalami.
Kalau mengalami itu awalnya pasti kita ingat dulu. Ketika kita ingat, maka kita akan bangkit. Kalau sudah bangkit, nanti muncul rasa rindu.
Nah kalau orang yang sudah rindu, tanpa berangkat ke sana, dia sudah ada di sana. Rindu itu sama siapa sebetulnya? Ada sesuatu yang dalam hati kita yang gak pernah bohong Yang badan ini selalu jujur sama kita.
Makanya disitu saya simbolkan dengan bentuknya Ibu Pertiwi. Ibu Pertiwi yang terkoyak badannya tapi tetap menangisi kita. Pengelingne raga gitu.
Jadi diingatkan kita sama Ibu Pertiwi itu bahwakamu harus ingat, badan ini selalu jujur. Bagian paling kecil dari bumi ini adalah badan kita. Badan ini selalu jujur ngasih tahu kita, termasuk ngantuk, lapar, dan sakit, apapun itu.
Dia jujur, tapi manusia pikirannya yang selalu berharap banyak, selalu menolak itu. Seolah enggak, enggak ngantuk kok bisa dengan yang lain dan lain sebagainya. Itu yang ingin saya sampaikan bahwa eling Harus ingat.
Kita harus selalu mendengarkan kata hati. Dan kalau kita lupa, kita harus ingat.Kenapa kita gak pernah menangis. Dalam banyak hal yang kita lihat, kejadian-kejadian luar biasa di dunia. Saya gak bicara secara personal aja.
Memang penggambarannya sapa warang adalah sangat personal. Tapi kalau kita lihat elemen-elemen yang ada di sana, sebenarnya apa yang terjadi di dunia ini? Ada meriam di depannya.
Yang sebenarnya bentuknya itu saya ambil dari Jaladwara atau pancuran air suci Tapi bentuknya keluarnya bukan air suci lagi, tapi bentuknya menjadi meriam yang menghancurkan banyak hal.
Itu sebenarnya simbol-simbol yang saya bikin bahwa manusia hanya mengejar apa yang dia mau saja. Bukan menjalani apa yang menjadi tugasnya.
-Apakah Sapa Warang mengandung kritik sosial thd kondisi Bali saat ini?
Saya gak berhak untuk mengkritik orang lain dalam hal ini. Karena ini adalah hal yang personal.
Tapi sepertinya saya punya tugas dan hak juga untuk mengingatkan bahwa saya yakin di luar sana banyak yang berpikir seperti saya, merasakan seperti saya juga masih.
Cuma kesempatan bicara mereka mungkin belum ada. Saya mencoba menceritakan ini lebih awal dengan harapan banyak yang akan bercerita ini.
Karena menurut saya, di masa sekarang ini di Bali khususnya tapi dunia juga kita lebih butuh punya hati punya rasa daripada punya kekuatan.
-Bisa dijelaskan ide awal dan konsep dari Sapa Warang?
Saya tuh mengamati tentang tangisan. Apa fungsi tangis ini sebenarnya dalam dunia ini? Karena terlalu banyak kesedihan kan belakangan ini yang kita lihat. Banyak banget kesedihan yang lama-lama tidak menjadi pemicu untuk menangis.
Sedih, tapi orang udah gak bisa menangis Kenapa? Ada sesuatu yang kering. Kalau saya lihat, kehidupan tuh gak akan berjalan kalau air itu tidak mengalir. Berarti ada air mata yang tidak mengalir, tidak lagi mengalir berarti ada kematian sebetulnya dalam diri kita.
Sebenarnya berasal dari situ, dan dalam prosesnya itu saya banyak menulis, menggali, menulis lagi, banyak menuliskan apa yang ada di benak saya, apa yang jadi pertentangan dalam hati saya, saya tuliskan.
Setelah itu baru saya rangkum dalam bentuk konsep, ide cerita, pesan apa yang ingin saya sampaikan, baru muncul ke karakter dalam bentuk tulisan.
Habis itu dalam sketsa, dalam bentuk visualnya sketsa dulu, baru dalam bentuk market sebelum menjadi ogoh-ogoh.
-Seperti apa proses kreatif Bli dalam memvisualisasikan Sapa Warang dari konsep menjadi bentuk ogoh-ogoh? Apa yang menjadi tantangan terberat selama pengerjaannya?
Yang paling berat itu sebenarnya kendalanya adalah penyesuaian waktu antara tim semua. Jadi timnya kan macam-macam tuh latar belakangnya, ada kesibukannya macam-macam.
Ada yang sekolah, ada yang kerja, ada juga seperti saya yang urusan kerja dan keluarga juga. Banyak di situ, time management itu adalah tantangan banget.
Nah syukurnya kita bisa melalui itu dengan ter-planning dengan baik, kita bisa melalui tahap demi tahap dengan mulus sebetulnya kemarin itu.
Bahkan kita menargetkan h-8 itu udah clear semua persiapan kita dan memang selesai.
Hanya satu aja kemarin itu yang bisa lebih panjang kita garap adalah bagian pengecatan.
Kalau diperhatikan kemarin sepah warang itu tidak di cat secara pakai kompresor seperti biasa ya, pake airbrush gitu, enggak. Itu manual semua pakai kuas.
Jadi pengerjaannya cukup panjang dan kenapa pilih aja seperti itu untuk memunculkan tekstur yang sesuai dengan keinginan saya dan kita masih punya cukup waktu. Jadi keputusannya masih bisa diambil di situ.
-Bagaimana Bli mendefinisikan seorang Marmar Hariyukti sebagai seorang seniman patung dan ogoh-ogoh?
Ini agak sulit. Tapi yang jelas kalau saya berkarya, saya selalu berkarya dengan sejujur mungkin. Apa yang ingin saya sampaikan, saya sampaikan. Tapi saya punya satu prinsip dalam berkarya itu bahwa seni itu sarana komunikasi yang dibuat dengan sangat indah sehingga orang mau terpancing untuk berkomunikasi di dalamnya.
Jadi bertukar pikiran itu dimulai dari sesuatu yang indah. Ibaratnya kalau kita ngobrol, skill berbicara kita harus diatur dulu. Apa yang harus kita ucapkan, mana yang tidak perlu diucapkan. Begitupun berdalam berkesenian.
Itu kira-kira yang bisa menggambarkan saya dalam berkarya sebetulnya. Bukan berarti saya terlalu banyak perhitungan atau banyak menjaga perasaan orang, tidak.
Saya tetap akan berbicara dengan sangat tegas dan dengan sangat lugas tapi dengan bahasa-bahasa yang sebisa mungkin saya bikin indah.
-Ogoh-ogoh Banjar Gemeh identik dengan sosok Marmar, bagaimana pendapat Bli soal ini?
Itu hal yang wajar dalam satu daerah dari dulunya juga begitu umpamanya. Ada satu seka gambuh umpamanya. Kebetulan di desa saya ini, di gemah kita dulu punya gambuh.
Dalam gambuh ini, gambuhnya terkenal di mana-mana tapi di dalamnya itu ada satu sosok namanya Pekak Nyarikan Sriada dikenalnya beliau. Beliau adalah maestro yang asal banjar gemah. Beliau adalah seorang penari.
Seorang penari yang pada masa itu sangat terkenal. Jadi identiknya ketika orang membicarakan topeng ataupun gambuhnya gemah, itu nama beliau nggak bisa dihilangkan. Akan melekat di situ. Hal itu sebenarnya yang sangat umum lahir di mana-mana justru itu membuat satu wilayah itu menjadi tetap bersemangat karena ada satu tokoh.
Sama saja seperti umpamanya kita dalam satu tempat ada tokoh spiritual dan lain sebagainya itu membuat orang-orang yang lain terguiding untuk melakukan atau membuat sesuatu yang bermanfaat. Umpamanya tokoh ini berbicara tentang manfaatnya bagi orang banyak.
Paling tidak yang lainnya kalau tokoh ini bicara bagi seluruh masyarakat umpamanya. Paling nggak yang lainnya yang mengikuti buat keluarganya lah minimal. Hal seperti itu saya anggap hal yang wajar Sangat wajar.
Dan saya berterima kasih dengan kepercayaannya di Banjar Gemah ini. Sampai sekarang saya masih dipercaya.
Selain untuk berkesenian, saya juga dititipkan anak-anak dari teman-teman saya yang sekarang anak muda yang baru remaja-remaja yang baru masuk di pemuda itu dititipkan untuk punya waktu untuk ngobrol sama mereka.
Untuk cari tahu gimana sih sebenarnya pemikiran anak muda. Saya malah takut kalau ada gap di antara kami ini antara generasi yang sebelumnya yang seniornya sama yang juniornya kalau ada gap generasi itu menurut saya apa yang diceritakan oleh nilai-nilai kerukunan itu nilai kuno yang sangat luar itu nggak bisa kita teruskan sama mereka.
Karena mulai dari gap bahasa aja kalau kita nggak ngerti bahasa mereka kita akan dianggap aneh dan kita akan menganggap mereka sembarangan gitu.
Padahal itu ada hal sebenarnya yang harus dijalin sama mereka. Menurut saya kesempatan itu bagus banget dan saya berterima kasih.