MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM -- Dewan Pembina Yayasan Badan Waqaf Universitas Muslim Indonesia (UMI), AGH Prof Dr Umar Shihab MA (1939-2026), meninggal di Jakarta, Jumat (20/3/2026) malam.
Anggota DPR-RI Fraksi Golkar asal Sulsel (1992-1999) ini dimakamkan di TPBU Yayasan Mohdar, Tapos-Depok, Jawa Barat, Sabtu (21/3/2026) usia shalat Idul Fitri 1447 H.
Seratusan saudara, kerabat, sahabat dan kolega ikut mengantar jenazah guru besar tafsir, dan mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini.
Tiga adik kandung Umar, M Quraish Shihab (82), M Alwi Shihab (80), dan Dr Ahmad Nizar Shihab (75), terlihat di antara kerabat dan pelayat.
Menteri Agama RI (2014-2019) Lukman Hakim Syaifuddin (64), juga hadir.
Bersama Umar, Lukman duduk di komisi VIII (Agama dan Kesra) DPR-RI periode 1997-1999.
Baca juga: AGH Umar Shihab Ulama Bugis yang Sejak Dulu Selalu Membela Syiah
Lukman bercerita, "kala berjalan di sisi kanan mendampingi Quraish shihab yang duduk bergerak di atas kursi roda elektrik, selepas shalat jenazah menuju liang lahat kakak kandungnya, Abi Quraish berkata lirih kepadaku: "Pak Lukman, sekarang kita ini sedang menunggu giliran", tulis Lukman di akun microblog-nya, Sabtu (21/3/2026).
Spontan politis PPP itu menimpali, "Insyaallah kita masih diberi umur panjang."
Quraish dan kakaknya selisih empat tahun. Sedangkan Alwi Shihab (80), adalah adik ke-lima Umar, dari total 13 saudara sekandung pasangan ulama khas Arab-Bugis Abdurrahman Shihab (1915-1987) dan bangsawan Bugis Rappang, Asma Aburisy (1917-1993).
Dalam buku Cahaya, Cinta, dan Canda, karya Quraish Shihab (2015) terekam perjuangan orang tuanya mendidik 12 putra-putrinya.
Juga perhatiannya terhadap dunia pendidikan, politik, dakwah dan ekonomi.
Umar anak ketiga dari 13 saudara. Dia dan lima saudaranya, Nur Shihab, Ali Shihab, Umar Shihab, Muhammad Quraish Shihab, Wardah Shihab, dan Alwi Shihab, lahir di Rappang, Kabupaten Sidrap, sekitar 170 km tenggara Kota Makassar.
Setelah kelahiran Alwi Shihab dan kemerdekaan Indonesia, 1946, keluarga ini migrasi ke Makassar
Setelah tinggal jadi pendidik selama 10 tahun di Sidenreng Rappang.
Abdurrahman dan istrinya Asma Aburisy lalu tinggal di JL Sulawesi Lorong 194/7, Kelurahan Butung, Kampung Buton, sekitar Pasar Boetoeng, tak jauh dari Pelabuhan Makassar.
Saat itulah, ayah Umar aktif merintis dakwah dan pendidikan Islam dan merintis pendidikan Islam di Masjid Raya, Makassar bersama Hadji Kalla, mendiang ayah M Jusuf Kalla.
Tujuh adik Umar antara lain; Nina Shihab, Sida Shihab, Ahmad Nizar Shihab, Abdul Mutalib Shihab, Salwa Shihab, Ulfa Shihab, dan Latifah Shihab, lalu lahir di Makassar.
Saat tamat SD, dan bersamaan ayahnya dilantik menjadi Rektor Ke 2 UMI Makassar (1959-1965), Umar mengikuti dua jejak dua kakaknya masuk madrasah Tsanawiyah di Pondok Pesantren Darul Nashihin, Lawang, Malang, Jawa Timur.
Belakangan, Quraish Shihab dan Alwi juga lanjut di pesantren yang didirikan Al Habib Muhammad bin Husein Baabud, 5 Agustus 1940 ini.
Umar sempat kembali ke Makassar untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultas Ushuluddin IAIN Alauddin, Makassar dan diikuti dua adiknya, Quraish dan Alwi.
Ayah Umar, sempat menjadi Rektor Institut Agama Islam Negeri Alauddin Ujung Pandang ke-3 antara tahun 1973–1979, menggantikan KH Muhyiddin Zain, mendiang ayah Prof Dr Majdah M Zain, mantan Rektor UIM Makassar.
Selepas menyelesaikan kuliah di IAIN Makassar, 1966, Umar juga melanjutkan kuliah tafsir di Universitas Al Azhar Kairo, Mesir, dan jadi pembimbing adiknya Quraish di sana.
Tahun 1988, Umar sempat kembali ke menyelesaikan studi magister hukum di Unhas.
tahun 1969, dia menikah dengan Syarifah Khadijah Aisyah S Mengga, putri Bupati Polmas Sayyid S Mengga (1926-2007).
Kini salah satu anaknya, Ari Ikkhtifar Shihab, menjadi anggota DPRD Sulbar.
Umar adalah kakak ipar dari dia mantan Wakil Gubernur Sulawesi Barat, Mayjen TNI Salim S Mengga (1948-2026) dan Aladin S Mengga.
Kenangan Lukman
Lukman mengenang, saat menjabat legislator, Umar dikenang sebagai sosok politisi yang "tak banyak mengobral bicara di komisi bidang agama itu."
"Namun," tambahnya, "setiap kali berbicara, tak hanya para menteri dan jajaran eksekutifnya yang langsung diam terkesima.
Kami pun sesama anggota legislatif dibuat hening karena ingin menyimak buah pikirannya. Wibawa Beliau mengagumkan.
Pandangan dan pendapatnya selalu dinanti banyak kalangan.
Almarhum selalu menekankan pentingnya menjaga kebersamaan di tengah keragaman dan kemajemukan," tulis Lukman.
Saat menjabat Ketua MUI (1998-2015), Umar termasuk salah satu pembela Mazhab Syiah.
Dia meyakini, Syiah bukan golongan umat yang layak dihujat karena memiliki dasar teologi sejarah yang kuat, dan bagian dari Rahmatan Lil Alamin.
Ulama kelahiran Rappang, Sidrap, AGH Prof Dr Umar Shihab MA (1939-2026), meninggal dunia dengan tenang di Jakarta, Jumat (20/3/2026) malam.
Kakak kandung mufassir Prof Dr M Quraish Shihab (82) dan Prof Dr M Alwi Shihab (80) ini meninggal di usia 86 tahun, usai shalat Isya.
Saat menjabat Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah Majelis Ulama Indonesia (MUI, 1998-2015), sarjana syariah IAIN Alauddin Makassar (1966) ini, senantiasa jadi pembela kelompok Syiah.
Meski saat itu, banyak ulama MUI menyebut ajaran Syiah masuk kategori sesat.
Dalam sebuah diskusi Sunni - Syiah di kantor MUI di Jakarta, awal tahun 2012 silam, alumnus Universitas Al Azhar Mesir ini, menegaskan sikapnya.
“Yang mau anti Syiah silahkan, yang mengatakan Syiah sesat silahkan. Itu pilihan masing-masing. Tapi menurut saya Syiah tidak sesat,” tandasnya seperti dilansir Eramuslim.com, di Kantor MUI, Senin (20/1/2012).
Umar Shihab berdalih, otoritas kerajaan Arab Saudi, justru memberi penghormatan ke kelompok yang besar dan berkembang di Iran ini.
“Saudi Arabia sendiri saja mengakui Syiah, padahal mereka negara Wahabi. Saya sendiri menghadiri beberapa kegiatan Muktamar Alam Islami yang berpusat di Mekkah disana juga hadir perwakilan ulama syiah,” tandasnya.
Dalam penyelenggaran ibadah haji. “Ketika ibadah haji disiapkan bus khusus untuk kaum Syiah oleh pemerintah Saudi,” ujarnya.
Dalam dialog itu, Wakil Ketua Komisi Luar Negeri MUI, Ustadz Zaytun Rasmin, yang kini menjabat sebagai Ketua Ormas Wahdah Islamiyah, menyebut logika Umar Shihab keliru dan tak bisa dijadikan pijakan untuk membolehkan ajaran Syiah .
“Itu kan bisa jadi karena politik. Jadi tidak bisa dijadikan alasan, karena permasalahan Syiah adalah permasalah akidah dan pokok ajaran mereka yang menyimpang,” ujarnya.
TAhun 2011, di Teheran, Iran, Umar Shihab juga menegaskan pembelaannya ke Mazhab Syiah.
Di hadapan lebih dari seratus pelajar Indonesia yang belajar di Iran, Ketua MUI, Prof.Dr. KH. Umar Shihab Kamis (28/4) mengatakan, “Sunni dan Syiah bersaudara,sama-sama umat Islam, itulah prinsip yang dipegang oleh MUI. Jika ada yang memperselisihkan dan menabrakkan keduanya, mereka adalah penghasut dan pemecah belah umat, mereka berhadapan dengan Allah swt yang menghendaki umat ini bersatu.”
Rombongan MUI terdiri dari ketua pusat, beberapa ketua harian dan ketua komisi, namun beberapa dari rombongan telah bertolak ke tanah air sehingga tidak sempat mengikuti pertemuan dengan para pelajar Indonesia tersebut.
“Dalam kunjungan ini kami telah melakukan beberapa hal, diantaranya, atas nama ketua MUI. KH. Prof. DR. Umar Shihab dan atas nama Majma Taghrib bainal Mazahib Ayatullah Ali Tashkiri, telah dilakukan penandatanganan MOU kesepakatan bersama.
Di antara poinnya adalah kesepakatan untuk melakukan kerjasama antara MUI dengan Majma Taghrib bainal Mazahib dan pengakuan bahwa Syiah adalah termasuk mazhab yang sah dan benar dalam Islam. ” Jelas Wakil Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah, DR. Khalid Walid. (thamzil thahir)