TRIBUNBANTEN.COM - Arus lalu lintas di ruas Tol Jakarta–Cikampek diterapkan sistem rekayasa lalu lintas berupa contraflow pada H+1 Lebaran 2026.
Contraflow adalah sistem rekayasa lalu lintas yang mengubah sebagian arah arus kendaraan menjadi berlawanan dengan arah normal (melawan arus) di lajur yang terbatas, bertujuan mengurai kemacetan parah atau meningkatkan kapasitas jalan.
Adapun kebijakan ini diterapkan, menyusul meningkatnya mobilitas kendaraan atas diskresi dari kepolisian.
Sistem contraflow ini mulai diberlakukan pada hari ini, Minggu (22/3/2026) pagi.
VP Corporate Secretary and Legal PT Jasamarga Transjawa Tol (JTT) Ria Marlinda Paallo mengatakan, rekayasa contraflow diterapkan mulai KM 47 wilayah Teluk Jambe, Karawang hingga KM 65 ruas Tol Jakarta-Cikampek.
"Penerapan contraflow dilakukan sebagai langkah responsif berdasarkan kondisi lalu lintas aktual di lapangan," ucap Ria dalam keterangannya.
Meski diterapkan contraflow, aspek keselamatan tetap menjadi perhatian utama demi kelancaran arus kendaraan.
Baca juga: Arti Taqabbalallahu Minna wa Minkum, Ucapan saat Hari Raya Idul Fitri 2026
JTT bersama Kepolisian terus memantau perkembangan situasi lalu lintas dan melakukan pengaturan terbaik guna memastikan perjalanan pengguna jalan tetap aman dan nyaman.
"Penerapan buka tutup akses contraflow dilakukan secara situasional dengan mempertimbangkan aspek keselamatan, kapasitas jalan, dan efektivitas penguraian kepadatan lalu lintas," tukasnya.
Pihak JTT juga mengimbau seluruh pengguna jalan tol untuk selalu mematuhi rambu lalu lintas serta mengikuti arahan petugas di lapangan, terutama saat melintasi jalur dengan rekayasa lalu lintas.
Selain itu, pengguna jalan diharapkan merencanakan perjalanan dengan baik serta memastikan kondisi kendaraan dalam keadaan prima, sehingga perjalanan dapat berlangsung aman hingga sampai ke tujuan.
Antisipasi Arus Balik
Kepolisian menyiapkan skema rekayasa lalu lintas berupa one way lokal untuk mengantisipasi kepadatan saat arus balik Lebaran 2026.
Rencana ini mulai diberlakukan pada 23 Maret, dengan mempertimbangkan lonjakan volume kendaraan di jalan tol.
Kakorlantas Polri Irjen Pol Agus Suryonugroho mengatakan, kebijakan tersebut disiapkan berdasarkan peningkatan jumlah kendaraan selama periode mudik. Tercatat, volume kendaraan naik dari 258 ribu menjadi 270 ribu kendaraan.
“Tentu kita antisipasi. Dari persentase-persentase tadi udah kita hitung," kata dia kepada wartawan, Sabtu (21/3/2026).
Ia menjelaskan, sekitar 66 persen kendaraan diprediksi berasal dari arah Trans Jawa.
Sedangkan 30 hingga 35 persen lainnya bergerak menuju wilayah Jawa Barat.
Kondisi ini menjadi perhatian utama dalam pengaturan lalu lintas saat arus balik.
“Terus yang dari Trans Jawa, kurang lebih hampir 66 persen, ini yang harus kita kelola,” ujarnya.
Lebih lanjut, rekayasa lalu lintas akan dilakukan secara bertahap.
Pada tahap awal, one way lokal direncanakan diberlakukan dari KM 414 hingga KM 70.
“Bila perlu di tanggal 23 ini kami sudah lakukan one way lokal sepenggal tahap pertama," ucap dia.
Jika arus kendaraan masih tinggi, skema tersebut akan diperpanjang hingga KM 263 Pejagan.
Bahkan, rekayasa dapat kembali dilanjutkan hingga KM 70 apabila lonjakan kendaraan masih terjadi.
Selain itu, di sekitar KM 70 juga disiapkan skema contraflow.
Penerapannya bersifat situasional, bisa dimulai dari KM 70 hingga KM 55 atau bahkan diperpanjang sampai KM 36, menyesuaikan kondisi lalu lintas di lapangan.
"Sampai 70 karena dia menyempit, ketemu di 70, dan melebar nanti setelah ke 36 ke arah Jakarta, nanti akan kita persiapkan contraflow juga. Contraflow dari kilometer 70 sampai mungkin 55 atau mungkin sampai 36. Nanti kita lihat flow-nya tinggi atau tidak," pungkasnya.