Beijing (ANTARA) - Beberapa tahun yang lalu, hanya ada segelintir pasien yang datang ke klinik tidur di Rumah Sakit Rakyat Wilayah Huimin di Binzhou, Provinsi Shandong, China timur. Kini, jumlah tersebut telah meningkat tiga kali lipat, dengan kunjungan tahunan naik dari sekitar 200 menjadi 600.

"Ini bukan karena tiba-tiba ada lebih banyak orang yang tidak bisa tidur," tutur Yin Jianfeng, selaku direktur di klinik tersebut. Tetapi karena ada lebih banyak orang yang mau mencari bantuan.

Meningkatnya jumlah pengunjung tersebut mencerminkan meluasnya masalah tidur di China dan meningkatnya kesadaran masyarakat tentang pola tidur yang sehat, sebuah tantangan yang menjadi sorotan ketika negara tersebut memperingati Hari Tidur Sedunia pada Sabtu (21/3).

Menurut survei yang diterbitkan pada 2025, warga China berusia 18 tahun ke atas tidur rata-rata 7,06 hingga 7,18 jam, sementara 48,5 persen melaporkan mengalami masalah tidur, persentase yang meningkat seiring bertambahnya usia.

Survei yang dilakukan oleh Perhimpunan Penelitian Tidur China dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China menunjukkan bahwa rata-rata, orang dewasa di China biasanya tidur mulai pukul 23.15 dan bangun pada pukul 06.38.

Di kalangan anak muda, tidur larut malam telah menjadi hal biasa, dengan sekitar separuhnya baru tertidur setelah tengah malam.

Para tenaga profesional yang bekerja di bawah tekanan tinggi, penderita penyakit kronis, dan orang-orang yang memiliki masalah kesehatan mental termasuk di antara kelompok yang paling berisiko mengalami insomnia.

Huang Zhili, seorang profesor di Universitas Fudan sekaligus ketua Perhimpunan Penelitian Tidur China, menuturkan bahwa peningkatan dalam hal insomnia berkaitan erat dengan pesatnya perkembangan industri dan digital China, yang telah menjadikan persaingan semakin ketat, beban kerja lebih berat, serta meningkatnya ketergantungan terhadap perangkat elektronik.

Penggunaan perangkat elektronik yang berlebihan dapat mengganggu tidur melalui stimulasi cahaya dan suara, sementara paparan informasi yang terus-menerus juga dapat meningkatkan kecemasan.

Huang juga memperingatkan bahwa gangguan tidur semakin banyak memengaruhi kaum muda, yang masalah tidurnya sering dikaitkan dengan penggunaan ponsel pintar yang berlebihan, tekanan akademis, dan harapan orang tua.

Di Rumah Sakit Huashan Shanghai, layanan terkait kualitas tidur telah ditawarkan selama lebih dari dua dekade, dan pusat gangguan tidur di rumah sakit tersebut kini menjadi pilihan utama bagi pasien.

Bagi Profesor Yu Huan dari departemen neurologi di rumah sakit itu, lonjakan permintaan itu sangat mencolok. Jam praktik rawat jalan yang dahulu dibatasi hanya setengah hari, kini diperluas dari siang hari hingga pukul 22.00.

"Kunjungan pasien ke klinik tidur meningkat pesat," kata Yu, seraya menghubungkan tren tersebut dengan gaya hidup serbacepat dan meningkatnya kesadaran masyarakat akan kesehatan.

Untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat dan meningkatkan aksesibilitas layanan terkait kualitas tidur bagi lebih banyak orang, China meningkatkan upaya untuk memperluas klinik tidur ke luar kota-kota besar.

Pada Februari 2025, otoritas kesehatan China mengeluarkan peraturan yang mewajibkan setiap kota setingkat prefektur untuk memiliki setidaknya satu rumah sakit yang menyediakan layanan klinik tidur per akhir tahun tersebut.

Hingga akhir Desember 2025, kunjungan rawat jalan ke klinik tidur di seluruh negeri telah meningkat 39 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sehingga memudahkan lebih banyak pasien untuk mengakses perawatan profesional yang lebih dekat dengan tempat tinggal mereka.

Beberapa daerah bertindak lebih jauh. Di Shandong, klinik tidur telah diperluas hingga tingkat wilayah guna meningkatkan aksesibilitas. Hingga Oktober 2025, lebih dari 300 institusi medis di seluruh provinsi tersebut telah membuka layanan semacam itu.

"Seiring semakin banyaknya klinik tidur, stereotipe seputar rumah sakit jiwa secara bertahap mulai runtuh. Banyak pasien tidak lagi menderita gangguan tidur dalam diam. Mereka mulai mencari bantuan," ungkap Li Xirong, direktur pusat pengobatan tidur di Pusat Kesehatan Mental Shandong.

Seiring dengan perluasan layanan terkait kualitas tidur, semakin banyak pengakuan bahwa perawatan untuk gangguan tidur membutuhkan lebih dari sekadar obat-obatan.

Li mengatakan bahwa banyak pasien dahulu memiliki kesalahpahaman umum bahwa pil tidur adalah satu-satunya cara untuk mengobati insomnia.

"Menggunakan pil tidur agar bisa tertidur sama seperti mendapatkan tidur palsu," kata Li, seraya mengatakan bahwa ketergantungan jangka panjang pada obat tidak hanya gagal mengatasi masalah tidur yang mendasar, tetapi juga dapat membahayakan tubuh.

Terapi tanpa obat-obatan, termasuk terapi perilaku kognitif, penyesuaian gaya hidup, dan perawatan berbasis alat seperti mesin CPAP atau stimulasi magnetik transkranial, semakin banyak digunakan di klinik.

Olahraga teratur, meditasi, dan praktik kesadaran juga dianjurkan sebagai bagian dari pendekatan holistik untuk tidur yang lebih baik.

Pengobatan tradisional China (traditional Chinese medicine/TCM), termasuk akupunktur, pengobatan herbal, dan pijat tui-na, juga digunakan untuk mengatasi masalah tidur dan meningkatkan keseimbangan secara keseluruhan.

Didirikan pada 2006, klinik tidur di Rumah Sakit Guang'anmen yang berada di bawah naungan Akademi Ilmu Kedokteran China kini menangani hampir 100.000 kunjungan pasien rawat jalan setiap tahunnya, dengan pasien insomnia menyumbang sekitar 60 hingga 70 persen dari total kunjungan.

"Keunggulan TCM terletak pada pendekatan individualnya," kata Hong Lan, seorang dokter senior dari klinik tersebut.

"Itu (TCM) tidak hanya berfokus membantu pasien untuk bisa tidur, tetapi juga menekankan keseimbangan tubuh dan pikiran secara keseluruhan," tutur Hong.