Anies Respon Prabowo: Teror Air Keras KontraS Bukan Kriminal Biasa, Bongkar Dalang Utama
Darwin Sijabat March 22, 2026 02:11 PM

 

TRIBUNJAMBI.COM - Mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, memberikan respons menohok terkait kasus penyiraman air keras yang menimpa aktivis KontraS, Andrie Yunus.

Menanggapi instruksi Presiden Prabowo Subianto untuk mengusut tuntas kasus ini, Anies menegaskan komitmen kepala negara harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata oleh seluruh jajaran aparat penegak hukum tanpa kecuali.

Peristiwa yang terjadi di Jakarta Pusat pada 12 Maret 2026 tersebut kini memasuki babak baru setelah empat prajurit TNI aktif teridentifikasi sebagai pelaku.

Anies Baswedan menilai, keterlibatan personel terlatih memperkuat dugaan bahwa aksi ini adalah serangan terencana terhadap pejuang demokrasi.

Anies menekankan ketika Presiden Prabowo sudah mengategorikan kasus ini sebagai tindakan terorisme, maka seluruh instansi di bawahnya wajib bergerak selaras.

Ia menuntut agar arahan presiden dijalankan secara konsisten untuk membuktikan bahwa negara benar-benar hadir melindungi suara kritis masyarakat sipil.

“Bahwa Pak Presiden bersikap ingin melindungi demokrasi, aparat di bawahnya harus menjalankan arahan Presiden," tutur Anies di Jakarta, Sabtu (21/3/2026).

Bukan Sekadar Aksi Sporadik

Sebagai sosok yang pernah menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies melihat Andrie Yunus sebagai simbol konsistensi masyarakat sipil dalam menyuarakan alarm kemunduran demokrasi.

Baca juga: JK Desak Bongkar Aktor Intelektual Teror Air Keras KontraS Sampai Tuntas

Baca juga: Trump Ultimatum Iran 48 Jam: Buka Selat Hormuz atau Kegelapan Total!

Oleh karena itu, ia meyakini mustahil serangan sekeji ini hanya inisiatif personal dari segelintir oknum di lapangan.

“Ketika ada kejadian ini bukan kriminal biasa, dari awal ini bukan kriminal biasa. Dan tidak mungkin hanya dikerjakan oleh 1-2 orang secara sporadik," jelas Anies.

Anies mendesak agar penyelidikan tidak berhenti pada para eksekutor, melainkan harus menyentuh level pemberi perintah.

Elaborasi mengenai latar belakang munculnya tugas penyiraman air keras tersebut menjadi kunci untuk mengungkap motif sebenarnya di balik pembungkaman aktivis.

“Peristiwa ini harus diselidiki sampai pada pemberi perintahnya. Dan harus dielaborasi mengapa ada perintah itu, mengapa sampai ada tugas itu," pungkasnya.

Prabowo soal Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus

Presiden Prabowo Subianto buka suara terkait kasus penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus.

Diketahui, peristiwa ini terjadi pada Kamis (12/3/2026) malam ketika Andrie hendak pulang setelah menghadiri siniar atau podcast yang diadakan di Kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Kini terungkap pelaku penyiraman air keras pada Andrie Yunus ini merupakan empat orang anggota TNI dan telah ditetapkan sebagai tersangka.

Prabowo menegaskan apa yang dilakukan para tersangka adalah tindakan biadab. Bahkan, dirinya menyebut insiden ini setara dengan aksi terorisme. 

Baca juga: Teror Air Keras KontraS: Fatia Ungkap Jejak Kelam Ancaman Sejak Era Munir

Baca juga: Gus Yaqut Eks Menag Bebas dari Rutan KPK, Lebaran 2026 di Rumah Disorot

Prabowo memerintahkan agar aparat mengusut kasus ini hingga tuntas dan menangkap aktor intelektualnya.

"Ini terorisme, tindakan biadab, harus kita kejar dan harus kita usut. (Sampai aktor intelektualnya harus ditangkap?) Termasuk siapa yang nyuruh, siapa yang bayar," katanya saat bertemu dengan jurnalis dan pengamat di kediaman pribadinya di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, dikutip dari YouTube Najwa Shihab, Kamis (19/3/2026).

Dia juga menegaskan tidak akan melindungi pelaku meski berasal dari pemerintahan.

Namun, Prabowo turut berharap jika aktor intelektual bukan bagian dari pemerintahan, maka pengusutan secara maksimal juga harus dilakukan.

"(Jika aktor intelektual dari pemerintahan apakah akan dilindungi?) Tidak akan, saya jamin. Tapi sebaliknya, kalau ini provokator yang bukan dari pemerintah, jelas kita akan usut kok," tegasnya.

Di sisi lain, Prabowo menegaskan pemerintahan yang dipimpinnya tidak pernah membatasi kebebasan berpendapat dan berekspresi.

"Dibandingkan dengan banyak negara, apa kita batasi nggak? Coba rasakan. TikTok, fake news, hoaks, kebohongan yang disiarkan setiap hari, coba dilihat. Coba bandingkan dengan yang lain," katanya.

Namun, dia juga meminta publik agar melihat adanya pihak yang memang ingin memprovokasi.

Prabowo juga mengatakan hal tersebut telah lama terjadi di berbagai negara di mana ada pihak yang mengatasnamakan pihak lain untuk melakukan aksi teror.

"Kadang-kadang kan peristiwa itu dibuat seolah untuk provokasi. Itu ada buku intelijen, itu namanya false flag operation, di mana melakukan aksi teror yang seolah-olah dilakukan Palestine padahal aslinya Mossad," jelasnya.

Insiden penyiraman air keras

Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunusmenjadi korban penyiraman air keras di kawasan Jakarta Pusat pada Kamis (12/3/2026) malam.

Koordinator KontraS, Dimas Bagus Arya menerangkan kejadian tersebut usai Andrie Yunus menghadiri acara podcast berjudul "Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia” di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) sekitar pukul 23.00 WIB.

"Telah mengalami serangan penyiraman air keras oleh Orang Tidak Dikenal (OTK) yang mengakibatkan terjadinya luka serius di sekujur tubuh terutama pada area tangan kanan dan kiri, muka, dada, serta bagian mata," kata Dimas dalam keterangannya, Jumat (13/3/2026).

Dimas mengatakan usai insiden itu, Andrie Yunus pun langsung dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.

"Dari hasil pemeriksaan, Andrie mengalami luka bakar sebanyak 24 persen," tuturnya.

Dimas melanjutkan, dari informasi awal yang diterima pihaknya, Andrie Yunus awalnya tengah mengendarai sepeda motornya di Jalan Salemba I - Talang, Jakarta Pusat.

Kemudian, dua orang pelaku menghampiri secara melawan arah Jalan Talang (Jembatan Talang) dengan mengendarai kendaraan roda dua, yakni diduga merupakan motor matic Honda Beat tahun 2016 sampai dengan 2021. 

"Pelaku merupakan 2 orang laki-laki yang melakukan operasinya dengan menggunakan satu motor, masing-masing berperan menjadi pengemudi dan penumpang," ucapnya.

Baca juga: Sorotan untuk Kabais TNI, Letjen Yudi Abrimantyo Diminta Evaluasi Usai Kasus Air Keras

Baca juga: ASN Termasuk di Jambi Bakal WFH Sehari Sepekan Pasca Lebaran, Demi Hemat BBM

Adapun ia menyampaikan ciri-ciri dari terduga pelaku yang pertama yakni mengenakan kaos berwarna kombinasi putih-biru, celana gelap diduga jeans, dan helm berwarna hitam.

Pelaku kedua yakni penumpang belakang menggunakan penutup wajah atau masker menyerupai ‘buf’ berwarna hitam yang menutupi setengah wajah, kaos berwarna biru tua, dan celana panjang berwarna biru yang dilipat menjadi pendek dan diduga berbahan jeans. 

"Salah satu pelaku kemudian menyiramkan air keras ke arah korban hingga mengenai sebagian tubuh korban. Akibat serangan tersebut, korban langsung berteriak kesakitan hingga menjatuhkan motornya," jelasnya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, tidak ditemukan adanya barang milik korban yang hilang atau dirampas baik saat kejadian maupun setelah peristiwa berlangsung.

"Atas informasi yang kami himpun tersebut, kami menilai bahwa tindakan penyiraman air keras ini merupakan upaya untuk membungkam suara-suara kritis masyarakat khususnya pembela HAM," ucapnya.

Puspom TNI Amankan 4 Prajurit

Sebelumnya Sebanyak empat prajurit TNI telah diamankan diduga terkait penyiraman air keeas kepada Wakil Koordinator KontraS Andrie Yunus.

Komandan Pusat Polisi Militer (Danpuspom) TNI Mayjen Yusri Nuryanto mengatakan keempat prajurit dari Angkatan Laut dan Angkatan Udara tersebut diserahkan oleh Detasemen Markas Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI pada Rabu (18/3/2026) pagi kepada Puspom TNI.

Ia mengatakan keempat prajurit yang belum ditetapkan tersangka itu merupakan personel Detasemen Markas BAIS TNI.

Jadi inisialnya NDP pangkatnya Kapten, SL pangkatnya Lettu, inisial BHW pangkatnya Lettu, dan yang terakhir inisial ES pangkatnya Serda," kata Yusri saat konferensi pers di Markas Besar TNI, Jakarta pada Rabu (18/3/2026).

"Kita akan profesional dan akan kita lakukan secara transparan. Artinya sesuai dengan peraturan perundangan yang ada di lingkungan TNI," kata Aulia di Balai Media TNI, Jakarta pada Selasa (17/3/2026).

Aulia mengatakan internal TNI saat ini tengah bekerja menggunakan metode-metode khusus yang dimiliki oleh institusi militer. 

Dia menjamin proses penyelidikan akan dilakukan secara cermat tidak mengambil kesimpulan secara terburu-buru. 

"Sehingga ini kita akan lakukan secara profesional, tidak gegabah. Ya artinya metode-metode yang ada di lingkungan kami di TNI, aparat penegak hukum sekarang sedang bekerja," ujarnya. 

Baca juga: Pengguna Jalinsum dari Jambi Waspada, BMKG: Hujan Deras di Sejumlah Daerah Sumsel dan Riau

Baca juga: Mobil Tertimpa Pagar Roboh Saat Hujan Deras di Kota Jambi Dini Hari Tadi

Baca juga: Trump Ultimatum Iran 48 Jam: Buka Selat Hormuz atau Kegelapan Total!

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.