SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Pemakaian gandik yang dilakukan peserta Lomba Lari 100 meter di Kota Palembang menuai kontroversi.
Budayawan Sumatera Selatan, Vebri Alintani, menilai tindakan tersebut tidak tepat dan mencoreng kebudayaan setempat.
Ia menegaskan bahwa gandik merupakan aksesoris perempuan, sementara laki-laki seharusnya menggunakan tanjak.
“Laki-laki memakai gandik itu jelas salah. Gandik digunakan oleh perempuan, sedangkan laki-laki menggunakan tanjak,” kata Vebri, Minggu (22/3/2026).
Baca juga: Apa Itu Gandik? Aksesoris di Kepala yang Dipakai Peserta Ramadan Run hingga Picu Reaksi Budayawan
Menurutnya, perbedaan penggunaan hiasan kepala ini merupakan pengetahuan umum, khususnya bagi masyarakat Palembang.
Ia menyayangkan masih adanya kesalahan dalam penggunaan atribut budaya tersebut.
“Jika masih ada laki-laki yang memakainya, itu sudah keterlaluan,” tambahnya.
Vebri juga menilai bahwa tindakan tersebut menunjukkan kurangnya kepedulian terhadap budaya lokal.
Terlebih, kejadian itu berlangsung di ruang publik dengan banyak penonton.
Ia menegaskan, seharusnya masyarakat yang melihat dapat saling mengingatkan apabila ada hal yang tidak sesuai, bukan justru membiarkannya hingga menjadi viral.
Selain itu, ia mengajak masyarakat Palembang untuk lebih memahami budaya dasar daerahnya.
Ia mencontohkan bahwa seperti halnya kerudung yang identik dengan perempuan, gandik juga memiliki fungsi dan makna khusus yang tidak boleh disalahgunakan.
Baca juga: Peserta Pria yang Pakai Gandik di Ramadan Run Palembang Jadi Sorotan, Itu Budaya Identitas Perempuan
Ia juga berharap momentum ini dapat menjadi pembelajaran bersama agar masyarakat lebih peduli dan memahami budaya Kota Palembang.