Laporan Wartawan TribunLombok.com, Ahmad Wawan Sugandika
TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK TENGAH - Momen menjelang Lebaran tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi waktu “balas dendam” kuliner bagi warga di Lombok Tengah.
Fenomena ini terlihat jelas di warung Bakso Jembatan Sempur yang berlokasi di Jl. Purbaya, Peresak, Kecamatan Batukliang, yang diserbu para pembeli pada H-1 Lebaran, Minggu (22/3/2026).
Antusiasme warga yang luar biasa membuat area warung padat sejak pagi hari. Bahkan, fasilitas parkir tidak lagi mampu menampung kendaraan roda dua maupun roda empat hingga meluber ke bahu jalan sepanjang hampir 100 meter.
Kemacetan di sekitar lokasi pun tak terelakkan akibat banyaknya pelanggan yang datang silih berganti.
Bagi sebagian besar pengunjung, menyantap bakso seolah menjadi “kewajiban” untuk menetralisir rasa setelah berhari-hari mengonsumsi hidangan bersantan khas hari raya seperti opor dan lainnya.
Salah seorang pembeli asal Desa Pajangan Kopang, Ulunda Juniarti mengaku tidak keberatan meski harus mengalokasikan waktu lebih lama demi semangkuk bakso favoritnya itu.
“Saya rela menunggu hampir satu jam demi mendapatkan satu porsi bakso di sini,” ucap Ulinda.
Senada dengan Ulinda, seorang warga asal Semparu, Sudirman mengungkapkan bahwa makan di tempat ini sudah menjadi tradisi turun-temurun setiap masa Lebaran tiba.
“Sudah tradisi mas, kalau pulang sehabis bersilaturahmi pasti mampir. Meski antre panjang dan parkir jauh, rasanya ada yang kurang kalau belum makan bakso di sini saat Lebaran,” katanya.
Baca juga: Momen Sinta Agathia Kepincut Bakso Rumput Laut hingga Jamu Mulegati di Bazar Ramadan Desa Bilebante
Kondisi ini praktis membuat para pekerja di warung bakso legendaris tersebut kewalahan melayani pesanan yang membludak.
Eka (30), salah seorang karyawan Bakso Jembatan Sempur menjelaskan bahwa pihaknya sampai harus menerapkan sistem shift untuk menyiasati lonjakan pengunjung.
“Buka jam 8 pagi sampai jam 8 malam. Kami buka dari H-5 sebelum Lebaran dan saat hari Lebaran pun tetap buka setelah salat Id. Tapi kalau hari Lebaran seperti ini, kita sistemnya shift-shiftan karena cukup kewalahan melayani pembeli yang ramai datang. Pengunjung pun terkadang harus antre sembari menunggu bangku kosong,” jelas Eka.
Lonjakan pembeli ini pun membawa berkah ekonomi yang signifikan bagi pemilik warung, di mana omzet harian diperkirakan naik hingga berkali-kali lipat dibandingkan hari-hari biasa.
“Kalau omzetnya itu bos yang tau, tapi alhamdulillah kalau rame seperti ini pasti meningkat drastis,” katanya.
(*)