Oleh: Christian Andre Tuwo, S.Pd (Guru SMAS Katolik Rex Mundi Manado)
Sebagai seorang guru SMA, saya bersyukur dapat bertemu, berinteraksi dan berkenalan dengan anak anak muda yang kreatif, multitasking, energik dan ceria.
Setiap tahun selalu ada yang pergi dan ada pula yang datang.
Sebuah siklus yang bagi saya merupakan proses renewal yang terus menerus bagi kami para guru khususnya guru guru generasi milenial yang harus menghadapi murid-murid dari generasi Z (Gen-Z).
Semakin tahun bertambah saya merasa seperti sudah jauh ketinggalan dengan apa yang sedang dialami oleh generasi anak anak SMA sekarang.
Diperlukan banyak riset untuk bisa dapat minimal mengimbangi apa yang ada dalam pikiran mereka itu pun sering kali mereka masih kurang paham dengan apa yang kami maksud.
Informasi tentang mereka mungkin bisa didapatkan dengan cara meriset di internet tapi usia tetap menjadi faktor penentu.
Penyampaian informasi dari generasi X atau Milenial kepada generasi Z terkesan kaku dan sering sulit diterima oleh mereka meskipun apa yang disampaikan mungkin adalah hal hal yang menjadi tren di kalangan gen Z.
Contoh, seorang guru mungkin menyisipkan beberapa lagu K-Pop, mencoba berbahasa ala ala anak Jaksel atau bahkan mungkin menari mirip artis artis tersebut di tik tok tapi bagi gen Z justru menjadi norak dan akhirnya ditertawakan.
Memang serba salah menjadi guru di zaman sekarang.
Kesenjangan zaman antara guru dan murid menimbulkan gejolak di sekolah yang membuat murid sering kehilangan minat untuk belajar dan lebih asyik dengan dunia mereka.
Sekolah hanya menjadi tempat yang membosankan bagi mereka--tidak lebih dari sekadar tempat untuk menghabiskan waktu sebelum akhirnya kembali ke rumah dan disibukkan dengan main game dan scrolling di medsos.
Jika sudah demikian, apakah memang anak anak muda sekarang tidak memedulikan masa depan?
Apakah mereka memang sama sekali tidak peduli dengan apa yang sedang terjadi di sekitar mereka?
Bagaimana peran pendidikan dalam pengembangan karakter anak anak muda yang termasuk dalam Gen-Z dan Gen-Alpha?
Ada kesenjangan generasi antara guru dan murid yang harus dicari jembatannya (Bridging generation)---guru beradaptasi dengan gen Z yang kreatif namun bersamaan dengan itu tetap mengajarkan empati dan berpikir kritis.
Guru perlu menciptakan disrupsi (membuat sesuatu dengan cara yang baru) siap menyesuaikan dengan kebutuhan murid sekarang.
Hal ini tidak bermaksud mengecilkan peran guru dengan mengikuti semua apa yang diinginkan oleh muridnya.
Dalam sejarah Indonesia tercatat bagaimana peran antara generasi yang lebih tua dengan yang muda dalam menciptakan perubahan terlihat dalam diri organisasi Budi Utomo yang digagas oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo usia saat usianya 56 tahun dengan Dr. Soetomo, Soeradji dan Goenawan yang berusia 20 tahun.
Alhasil segala perbedaan generasi mengantarkan perjuangan mereka menjadi motor bagi dimulainya pergerakan nasional 1908.
37 tahun kemudian seakan terjadi pergolakan antara golongan Tua (Sukarno, Hatta, dan Ahmad Subarjo) dengan golongan muda (Sukarni, Chaerul Saleh, Wikana, Sayuti Melik dan Yusuf Kunto) mengenai arah kemerdekaan.
Namun pada akhirnya sejarah mencatat 16 sampai dengan 17 Agustus 1945 menjadi bagian dari perjalanan heroik para pejuang bangsa the founding father Indonesia.
Kerja sama antara golongan tua dan golongan muda menghasilkan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.
Kita juga mengenang bagaimana munculnya generasi muda angkatan 1966, dan angkatan 1998 yang berhasil menggulingkan rezim orde lama dan orde baru.
Benang merah dari peristiwa sejarah ini dapat diartikan bahwa dalam setiap perubahan yang digagas oleh anak muda selalu melibatkan tenaga dan pikiran kaum tua juga.
Hal ini menggambarkan betapa pentingnya kolaborasi antar generasi. Anak muda membutuhkan pengalaman orang tua sedangkan orang tua membutuhkan semangat dan rasa ingin tahu yang dimiliki oleh orang muda.
Dalam pemikiran Ki Hadjar Dewantara pendidikan itu haruslah menyenangkan. Sedangkan dalam diri anak anak Indonesia, sekolah itu menyeramkan.
Mereka lelah belajar seperti robot dari pagi hingga sore kemudian diteruskan lagi belajar mandiri di rumah karena tugas tugas yang sepertinya tak kunjung habis.
Sekolah menjadi tempat yang membelenggu kreatifitas anak.
Mungkin hal inilah yang membuat anak anak lebih betah bermain game online atau pun berselancar di medsos dan bermain tik tok karena hanya disitulah mereka dapat dengan bebas mengekspresikan diri mereka.
Ki Hijar Dewantara menyamakan sekolah itu bagaikan taman bermain---tidak ada sekat; tempat bertemunya keberagaman dan imajinasi.
Sekolah harusnya demikian: membebaskan dan membentuk karakter. Taman yang luas dan berwarna merangsang otak untuk berimajinasi. Apabila hal itu telah terpenuhi maka apa yang dikatakan Albert Einstein akan terbukti benar adanya bahwa "imajinasi jauh lebih hebat daripada pengetahuan".
Hal ini selaras juga dengan perkataan Sukarno yang menginspirasi anak anak muda, "bermimpilah setinggi langit karena jika engkau jatuh maka engkau akan jatuh dihamparan bintang bintang".
Perkataan Bung Karno ini menyiratkan bahwa mimpi (imajinasi) penting bagi perkembangan kreativitas anak muda dalam mengejar cita citanya. Pendidikan yang membebaskan akan memberi ruang bagi anak muda untuk belajar bersama, beradaptasi dan tentunya belajar menghormati sesama baik yang muda maupun orang tua.
Ada cukup banyak perbedaan pengertian mengenai siapa sebenarnya Gen Z dan Gen Alpha.
Dalam tulisan ini saya coba menggabungkan pengertian kedua generasi ini berdasarkan kutipan buku Mendidik Gen Z dan Gen Alpha karya J Sumardiata dan Wahyu Kris (2018) serta buku Seni Mengajar Gen Z dan Gen Alpha karya Anitalia Stefany Welayana (2024) membagi Gen Z pada anak kelahiran 1995-2012, kemudian Gen Alpha pada anak kelahiran 2013-2025.
Karakter Gen Z dan Gen Alpha memiliki beberapa kesamaan karena mereka adalah warga digital (digital native) yang hidup pada masa transisi teknologi modern yang berkembang begitu pesat sehingga dapat dikatakan kedua generasi ini hidup dan tinggal dalam teknologi dan perkembangan kecerdasan artifisial.
Jika merujuk pada definisi ini maka dapat disimpulkan bahwa mayoritas anak anak yang masuk kategori Gen Z sekarang adalah anak anak yang sedang menempuh pendidikan SMA dan sementara belajar di bangku kuliah.
Karena sudah terbiasa dengan teknologi dalam hal ini penggunaan gawai (gadget) maka hal ini memengaruhi cara belajar dari generasi Z dan Alpha.
Mereka adalah generasi paperless yang tidak akrab dengan kertas dan pensil sehingga ada kecenderungan mereka menjadi generasi yang tingkat konsentrasinya jauh lebih pendek. Mereka lebih suka belajar melalui video pendek, animasi dan grafik.
Dengan banyaknya arus informasi yang mereka terima setiap hari maka perlu bagi pendidik maupun orang tua untuk mengawasi penggunaan gadget generasi ini. Mereka mudah terpapar hoax karena sulitnya mereka menyaring informasi dengan benar.
Kemampuan multitasking mereka ternyata juga berdampak negatif apabila tidak didampingi. Mereka jadi lebih sulit untuk berkonsentrasi dan tidak fokus pada pembelajaran.
WhatsApp TribunManado.co.id : KLIK