Laporan Wartawan TribunLombok.com, Rozi Anwar
TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK TIMUR - Tradisi Tiyu atau Festival Pawai Kuda kembali menjadi agenda tahunan yang dinanti masyarakat Desa Jantuk, Kecamatan Sukamulia, Lombok Timur.
Kegiatan budaya ini digelar selama dua hari pada momen Idulfitri, tepatnya pada tanggak 1 dan 2 Syawal, sebagai bentuk perayaan kemenangan setelah Ramadan.
Kata “Tiyu” dalam bahasa setempat berarti pawai dengan kuda. Tradisi ini tidak hanya menjadi hiburan rakyat, tetapi juga sarat nilai sejarah dan identitas budaya masyarakat setempat.
Asal-usul Tiyu memang tidak tercatat secara resmi dalam dokumen sejarah. Namun, berdasarkan cerita turun-temurun, tradisi ini diyakini bermula dari masa konflik antara Kerajaan Selaparang di Lombok Timur dan Kerajaan Karangasem dari Bali.
Dalam kisah tersebut, pasukan Karangasem sempat menginvasi wilayah Lombok Timur. Kerajaan Selaparang kemudian meminta bantuan pasukan berkuda dari Kerajaan Gowa di Sumbawa.
Setelah berhasil memukul mundur pasukan lawan, sebagian prajurit Gowa memilih menetap di wilayah yang kini menjadi Desa Jantuk.
Kuda-kuda yang awalnya digunakan untuk perang kemudian dimanfaatkan sebagai simbol perayaan kemenangan, yang hingga kini diwariskan dalam bentuk tradisi Tiyu.
Kepala Desa Jantuk, Yudi Hermawan, mengungkapkan bahwa cerita tersebut masih menjadi rujukan utama masyarakat dalam memahami asal-usul tradisi ini.
"Cerita yang kami terima dari orang tua terdahulu menyebutkan bahwa tradisi ini berkaitan dengan prajurit Kerajaan Gowa yang datang membantu peperangan di Lombok Timur dengan menunggangi kuda," katanya, Minggu (22/3/2026).
Ia menambahkan, pelaksanaan Tiyu pada Idulfitri juga memiliki makna simbolis yang kuat.
"Ini juga menjadi bentuk perayaan kemenangan setelah sebulan penuh menahan hawa nafsu," ujarnya.
Antusiasme masyarakat terlihat dari membludaknya penonton yang memadati rute pawai sepanjang sekitar 500 meter. Pawai biasanya dimulai usai salat Asar sekitar pukul 16.00 WITA dan mencapai puncaknya pada pukul 03.00 WITA dini hari, sesuai tradisi turun-temurun.
Pada Idulfitri 1447 Hijriah tahun 2026, tercatat sebanyak 189 ekor kuda ikut serta dalam pawai. Peserta berasal dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, baik laki-laki maupun perempuan.
Menariknya, sebagian besar kuda didatangkan dari luar Desa Jantuk, seperti Lombok Barat, Lombok Utara, Lombok Tengah, hingga Lombok Timur, karena keterbatasan jumlah kuda di desa tersebut.
"Karena minimnya kuda di Desa Jantuk, peserta menyewa dari daerah lain dengan harga bervariasi, antara Rp3 juta hingga Rp5 juta, tergantung ukuran dan kelincahan," jelas Yudi.
Bagi warga, Tiyu bukan sekadar tradisi, tetapi juga menjadi ajang gengsi dan kebanggaan. Para peserta berlomba menampilkan kuda terbaik dengan postur gagah dan atraktif.
Baca juga: Tradisi Turun-temurun, Ribuan Warga Lombok Timur Nyekar Massal saat Idulfitri
Salah satu peserta, Andi, mengaku telah mempersiapkan diri jauh-jauh hari demi mendapatkan kuda yang sesuai.
"Mau tidak mau harus keluar mencari, karena di sini tidak ada kuda dan kami ingin mendapatkan yang bagus," ucapnya.
Menurutnya, kualitas kuda sangat memengaruhi rasa percaya diri saat tampil di hadapan ribuan penonton.
Bahkan, warga Desa Jantuk disebut lebih mengutamakan biaya sewa kuda dibandingkan membeli pakaian Lebaran. Tradisi ini juga menjadi magnet bagi perantau untuk pulang kampung.
"Selama mereka memiliki darah Jantuk, pasti pulang," pungkas Andi.
(*)