11 Tahun Menahan Rindu Kampung Halaman: Ibu Nur Hanya Bisa Saksikan Pemudik di Terminal Cicaheum
Muhamad Syarif Abdussalam March 23, 2026 10:43 AM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Tas-tas besar ditenteng, koper diseret, dan panggilan keberangkatan bersahut-sahutan di Terminal Cicaheum. 

Orang-orang bergegas pulang, mengejar momen Lebaran bersama keluarga. 

Nur (61) tetap duduk di balik lapak kecilnya di kawasan Terminal Cicaheum, tanpa rencana mudik, seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Terakhir mudik tahun 2015,” katanya, saat berbincang dengan Tribunjabar.id, Minggu (22/3/2026). 

Artinya, sudah sekitar satu dekade lebih ia tak mudik ke Padang, kampung halamannya. 

Di saat banyak orang berlomba pulang untuk Lebaran, Nur justru bertahan di tempat yang sama menunggu pembeli yang tak seramai dulu.

“Ah, sepi ya. Sekarang (sudah Lebaran), pembeli masih sepi,” ucapnya.

Padahal penumpang tetap ada. Terminal tidak benar-benar kosong. Bus datang dan pergi tanpa henti. Namun, menurut Nur, ada perbedaan yang terasa jelas dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Penumpang mah ada. Banyak. Tapi enggak ada yang jajan,” katanya.

Ia menyebut kondisi ekonomi sebagai penyebabnya. 

“Susah duit. Sekarang mah ya, duitnya susah.”

Selama 30 tahun berdagang di Terminal Cicaheum, Nur sudah melihat banyak perubahan. Dari masa ketika angkot memenuhi jalur dan pembeli datang tanpa henti, hingga sekarang ketika dagangannya sering tak tersentuh.

“Dulu mah ramai. Zaman dulu, zaman Suharto,” kata dia.

Kala itu, beras yang ia jual bisa mencapai puluhan karung dalam seminggu.

“20 karung seminggu,” ujarnya.

Kini, dua kilogram pun belum tentu habis dalam sehari. 

“Kadang-kadang habis, kadang-kadang enggak,” katanya.

Situasi ini membuatnya tak punya banyak pilihan. Ia tetap berjualan setiap hari, meski sering harus membuang makanan yang tak laku. 

Nur mencoba peruntungan dengan menjual sop buah dan kolak. Salah satu kudapan yang paling banyak dicari untuk takjil. 

“Cuman dua hari enggak jualan lagi, dibuang, Dek. Enggak ada yang beli,” tuturnya.

Disinggung soal rencana pengalihan Terminal Cicaheum menjadi Bus Rapid Transit (BRT) di Kota Bandung membuatnya bingung memikirkan nasib ke depan.

Ia tak tahu harus pindah ke mana, apalagi dalam kondisi keuangan yang serba terbatas. Penghasilannya habis untuk modal harian.

“Sekarang nyimpen uang Rp 100 ribu saja susah. Boro-boro beli baju, atau buat pindah lapak," ujarnya.

Lebaran, yang bagi banyak orang identik dengan pulang dan berkumpul, bagi Nur hanyalah hari biasa. Ia tetap di lapaknya, sendirian, jauh dari anak-anaknya di Padang.
“Anak jauh di Sumatera,” katanya.

Sejak ditinggal sang suami, Nur berjuang seorang diri di Kota Kembang. Hampir seluruh waktunya dihabiskan di Terminal Cicaheum. 

Kondisi ini membuat rumahnya yang tak jauh dari sana sering kosong, tak ada orang. 

Mirisnya, tempat tinggalnya pernah dibongkar dan barang-barangnya raib diambil orang.

Peralatan dapur, tabung gas, hingga mesin serut es semuanya hilang.

“Gas tiga kilo, panci catering diambil,” tuturnya.

Ia bahkan masih ingat detail barang-barang itu, seolah belum rela melepasnya. 

“Gilingan es dulu beli sekitae Rp 800 ribu sekarang mungkin sejuta setengah,” katanya.

Tak ada yang bisa ia lakukan selain mengikhlaskan. 

Dia pun tak ingin berdiam diri dengan keadaan. Nur kini lebih sering tidur di lapaknya. 

Nur pun tetap berjualan warung nasi padang, khas makanan dari daerah tempat tinggalnya. 

"Sekarang jualan nasi padang, ada mie juga. Warung kecil-kecilan, penumpang sebelum berangkat atau datang bisa ke sini. Jualan minuman dingin juga," pungkasnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.