TRIBUNTRENDS.COM - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah memasuki fase yang semakin berbahaya. Ancaman demi ancaman dilontarkan secara terbuka oleh para pemimpin dunia, memperlihatkan eskalasi konflik yang tak lagi sekadar retorika diplomatik, melainkan berpotensi menjalar menjadi konfrontasi berskala luas.
Pemerintah Iran secara tegas memperingatkan akan menyerang fasilitas energi di kawasan Teluk jika pembangkit listriknya menjadi target serangan.
Pernyataan keras ini disampaikan sebagai respons langsung atas ancaman dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Baca juga: AS Tawarkan Rp 168 Miliar Buat Tangkap Mojtaba Khamenei, Satu Per Satu Pejabat Tinggi Iran Gugur
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa setiap serangan terhadap infrastruktur Iran akan dibalas dengan menghancurkan fasilitas vital di kawasan.
“Segera setelah pembangkit listrik dan infrastruktur di negara kita menjadi sasaran, infrastruktur vital serta infrastruktur energi dan minyak di seluruh wilayah akan dianggap sebagai sasaran yang sah dan akan dihancurkan secara permanen,” tulisnya.
Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa konflik dapat meluas ke sektor energi global yang selama ini menjadi urat nadi ekonomi dunia.
Sebelumnya, Donald Trump mengancam akan membombardir fasilitas listrik Iran jika jalur strategis Selat Hormuz tidak dibuka dalam waktu 48 jam.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia, tempat sebagian besar distribusi minyak global melintas. Gangguan di kawasan ini langsung berdampak pada lonjakan harga energi dunia.
Iran menegaskan bahwa jalur tersebut pada dasarnya tetap terbuka, namun tidak bagi Amerika Serikat dan sekutunya.
Situasi ini telah memicu kekhawatiran akan krisis minyak global yang lebih parah. Penutupan de facto Selat Hormuz disebut-sebut telah menciptakan krisis energi terbesar sejak dekade 1970-an.
Ghalibaf bahkan memperingatkan bahwa serangan terhadap Iran akan berdampak panjang terhadap harga minyak dunia.
Baca juga: Netanyahu Terpukul! Donald Trump Pasang Badan untuk Gas Iran, Ada Apa dengan AS-Israel?
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan bahwa negaranya tidak akan tunduk pada tekanan eksternal. Ia menyebut ancaman militer justru memperkuat persatuan nasional.
“Ilusi untuk menghapus Iran dari peta menunjukkan keputusasaan melawan kehendak sebuah bangsa yang sedang menciptakan sejarah. Ancaman dan teror hanya memperkuat persatuan kita,” katanya.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa gangguan di Selat Hormuz lebih disebabkan oleh ketakutan pasar dan perusahaan asuransi terhadap konflik yang dipicu pihak lain.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga mengeluarkan peringatan keras. Mereka menyatakan siap menutup sepenuhnya Selat Hormuz jika ancaman militer AS benar-benar direalisasikan.
Tak hanya itu, perusahaan-perusahaan yang memiliki keterkaitan dengan Amerika Serikat juga disebut berpotensi menjadi target.
Iran dilaporkan telah melancarkan serangan balasan menggunakan drone dan rudal ke sejumlah wilayah, termasuk target yang diklaim sebagai aset militer AS di kawasan seperti Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyerukan keterlibatan internasional yang lebih luas dalam menghadapi Iran. Ia bahkan mengklaim bahwa beberapa negara mulai bergerak mendukung aliansi AS-Israel.
Baca juga: Diamuk Donald Trump, Netanyahu Kini Patuh Janji Tak Bakal Serang Fasilitas Energi Iran Lagi
Perkembangan ini menunjukkan bahwa konflik yang telah berlangsung selama beberapa pekan kini berada di titik kritis. Ancaman terhadap infrastruktur energi, jalur pelayaran global, dan keterlibatan banyak negara membuka kemungkinan terjadinya krisis yang lebih luas baik secara militer maupun ekonomi.
Jika eskalasi terus berlanjut, dampaknya tidak hanya dirasakan di Timur Tengah, tetapi juga di seluruh dunia melalui lonjakan harga energi, gangguan perdagangan, hingga ketidakstabilan geopolitik global.
***
(TribunTrends/Kompas)