Denada Bongkar Kisah Putranya Ressa, Tegaskan Tak Pernah Menelantarkan Anak
M Zulkodri March 23, 2026 12:03 PM

BANGKAPOS.COM--Suasana haru menyelimuti pengakuan Denada Tambunan saat untuk pertama kalinya ia secara terbuka menceritakan kisah putranya, Ressa Rizky Rossano.

Dalam perbincangan yang emosional, penyanyi sekaligus aktris itu menegaskan bahwa dirinya tidak pernah menelantarkan sang anak, seperti yang selama ini sempat menjadi anggapan sebagian publik.

Dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, Denada mengungkap bahwa keputusan besar yang ia ambil puluhan tahun lalu bukanlah sesuatu yang ringan.

Ada rasa takut, bingung, malu, sekaligus tanggung jawab yang bercampur menjadi satu ketika ia mengetahui dirinya hamil di tengah situasi sosial yang saat itu jauh berbeda dibanding sekarang.

Dalam perbincangannya di kanal YouTube milik Feni Rose, Denada mengingat kembali masa-masa awal tahun 2000-an, saat ia harus berhadapan dengan realitas yang tidak mudah diterima, baik oleh dirinya sendiri maupun lingkungan sekitar.

Menurutnya, masyarakat pada masa itu belum se-terbuka sekarang dalam memandang perempuan yang hamil di luar pernikahan.

Ia mengatakan bahwa tekanan sosial kala itu sangat besar.

"Aku melihat sekarang bahwa masyarakat kita mungkin sudah jauh lebih bisa permisif terhadap itu. Tapi sekian puluh tahun yang lalu, keadaannya jauh berbeda," katanya.

Bukan hanya soal omongan orang, tetapi juga tentang bagaimana masa depan dirinya dan anak yang sedang dikandungnya akan dipandang oleh masyarakat.

Dalam situasi yang serba penuh tekanan tersebut, Denada mengaku sempat merasa sangat sendirian.

Meski begitu, di tengah ketakutan yang menghimpit, Denada justru merasakan satu hal yang sangat kuat dalam dirinya, yakni naluri sebagai seorang ibu.

Ia merasa bahwa anak yang dikandungnya adalah darah dagingnya sendiri, seseorang yang harus ia jaga, lindungi, dan perjuangkan, apa pun risikonya.

Denada menuturkan bahwa sejak awal ia sebenarnya sudah memantapkan hati untuk mempertahankan kehamilan tersebut.

Ia tidak ingin menganggap kehadiran anaknya sebagai kesalahan, meskipun ia menyadari bahwa situasi yang mengiringi kehamilan itu bukanlah sesuatu yang ideal.

Bagi Denada, kesalahan mungkin ada pada keadaan, tetapi bukan pada anak yang dikandungnya.

Pernyataan itu menjadi salah satu bagian paling emosional dari pengakuannya.

Ia menegaskan bahwa bagi dirinya, Ressa bukan pernah menjadi beban, bukan pula sesuatu yang ingin ia singkirkan.

Justru sebaliknya, kehadiran Ressa saat itu memberinya kekuatan untuk bertahan di tengah badai penilaian sosial.

Dalam cerita tersebut, Denada juga mengungkap bahwa ia sempat berbicara dengan ayah kandung Ressa mengenai kehamilan itu.

Namun, sejak awal ia mengaku sudah sedikit banyak memperkirakan bahwa ia tidak bisa terlalu berharap pada dukungan dari pihak tersebut.

Walau demikian, Denada memilih untuk tidak menyimpan kebencian.

Ia menegaskan bahwa dirinya tidak ingin menyalahkan siapa pun.

Sikap itu menunjukkan bahwa sejak awal Denada sadar, apa yang harus ia lakukan adalah fokus pada keselamatan dan masa depan anaknya, bukan larut dalam penyesalan atau kemarahan terhadap masa lalu.

Keputusan untuk melanjutkan kehamilan pun menjadi pilihan besar yang harus ia tanggung sendiri.

Saat itu, Denada merasa seperti hanya ada dirinya dan sang bayi yang sedang melawan dunia.

Perasaan itulah yang kemudian menumbuhkan ikatan batin begitu kuat antara dirinya dan anak yang belum lahir tersebut.

Namun, perjalanan itu tidak sepenuhnya berjalan mulus. Denada mengakui bahwa ada masa di mana ia tidak berani jujur kepada ibunya, Emilia Contessa.

Pertimbangkan tawaran Emilia Contessa

Percakapan Terakhir Denada dan Emilia Contessa Sebelum Meninggal, Sempat Drop dan Dilarikan ke RS
Percakapan Terakhir Denada dan Emilia Contessa Sebelum Meninggal, Sempat Drop dan Dilarikan ke RS (Kolase Istimewa)

Rasa takut dan bingung membuatnya memilih menyembunyikan kehamilan itu sampai usia kandungannya cukup besar. 

Ia sendiri bahkan mengaku tak lagi mengingat pasti di bulan ke berapa akhirnya ia membuka semuanya kepada sang ibu.

Ketika kehamilan itu akhirnya diketahui, Denada harus menghadapi fase lain yang tidak kalah berat.

Di satu sisi ia bersikeras ingin mempertahankan anaknya dan merawatnya sendiri.

Namun di sisi lain, ia juga mulai dihadapkan pada berbagai pertanyaan realistis dari ibunya mengenai masa depan Ressa.

Pertanyaan-pertanyaan itu, menurut Denada, sangat menohok sekaligus membuka matanya.

Emilia Contessa bertanya bagaimana nanti nasib anak itu ketika lahir, bagaimana saat masuk sekolah, bagaimana jika suatu hari Ressa mulai bertanya tentang ayahnya, dan apakah Denada benar-benar siap menghadapi semua kemungkinan sosial yang akan dihadapi anaknya.

"'Kamu udah pikirin belum nanti kalau misalnya lahir, mau bagaimana?' Sekolahnya gimana? Pada saat dia di sekolah nanti kamu siap belum, pertanyaan dari mengenai situasinya dia?'" kenang Denada soal pertanyaan dari ibunya.

Denada mengaku saat itu ia belum benar-benar memikirkan sejauh itu.

Naluri keibuannya sangat kuat, tetapi ia juga sadar bahwa cinta saja mungkin tidak cukup untuk menjawab seluruh tantangan hidup yang akan datang.

Ia mulai memahami bahwa membesarkan anak bukan hanya soal keinginan untuk selalu dekat, tetapi juga soal menciptakan lingkungan terbaik bagi tumbuh kembang sang anak.

Dalam situasi itulah, ibunya kemudian menawarkan satu jalan yang sangat berat namun dianggap paling realistis.

Emilia mengusulkan agar Ressa dirawat oleh keluarga dekat, yakni Om Dino dan Tante Ratih. 

Mereka adalah bagian dari keluarga besar yang tinggal di Banyuwangi, tempat sebagian besar keluarga dari pihak ibu berada.

Awalnya, tawaran itu tentu bukan sesuatu yang mudah diterima Denada. 

Sebagai ibu kandung, ia ingin berada di sisi anaknya, merawatnya sendiri, melihat tumbuh kembangnya setiap hari.

Namun seiring waktu, ia mulai mempertimbangkan usulan tersebut dengan hati yang semakin terbuka.

"Bayangan aku pada saat itu, Resa akan berada bersama om Dino dan Tante Ratih, keluarga dekat, keluarga besar," ujar Denada.

Denada membayangkan bahwa bila Ressa tumbuh bersama Om Dino dan Tante Ratih, sang anak akan memiliki lingkungan keluarga yang lebih utuh.

Ia akan melihat sosok ayah dan ibu dalam satu rumah, tumbuh di tengah keluarga besar yang dekat, dan mendapatkan kasih sayang yang melimpah dari banyak orang.

"Tinggalnya akan di Banyuwangi, di mana Banyuwangi ini daerah di mana 90 persen keluarga mama tinggal di situ. Aku pikir perfect, Ressa akan tumbuh di satu keluarga, rumah tangga di mana dia akan melihat ada sosok bapak, ibu, dia akan disayang semua orang," lanjutnya.

Bagi Denada, bayangan itu perlahan terasa seperti jawaban atas ketakutan-ketakutan yang selama ini menghantuinya.

Ia merasa Ressa layak mendapatkan kesempatan untuk tumbuh dalam suasana yang lebih stabil, lebih aman, dan lebih terlindungi dari berbagai kemungkinan stigma sosial yang mungkin akan muncul bila ia membesarkan anak itu sendirian.

Selain itu, Denada juga mengaku sempat memikirkan soal masa sekolah Ressa di masa depan.

Ia tidak ingin sang anak menjadi sasaran pertanyaan atau perlakuan yang bisa melukai mentalnya.

Dalam benaknya saat itu, hidup di lingkungan keluarga besar di Banyuwangi akan memberi Ressa perlindungan yang lebih kuat.

Meski berat, Denada akhirnya mengambil keputusan yang menurutnya paling baik untuk anaknya.

Ia mengizinkan Ressa diasuh oleh Om Dino dan Tante Ratih. Namun keputusan itu, sekali lagi, bukan berarti ia menyerahkan anaknya lalu pergi begitu saja tanpa kepedulian.

Denada menegaskan bahwa sejak awal ia tetap menjadi ibu yang memperhatikan putranya. Walau tidak selalu hadir secara terbuka, ia diam-diam terus memantau perkembangan Ressa melalui ibunya.

Ia mengikuti kabar tumbuh kembang sang anak, menjaga koneksi emosional itu dalam caranya sendiri, meski dari kejauhan.

Pengakuan ini menjadi penting karena sekaligus membantah anggapan bahwa dirinya menelantarkan anak.

Dalam sudut pandang Denada, keputusan tersebut justru diambil dengan penuh luka dan pertimbangan, demi memberikan kehidupan yang lebih baik bagi Ressa.

Cerita yang disampaikan Denada bukan sekadar kisah pribadi seorang figur publik.

Ini adalah gambaran tentang betapa rumitnya pergulatan seorang perempuan ketika harus memilih antara keinginan hati dan realitas sosial.

Ia harus memikirkan masa depan anaknya, menghadapi rasa bersalah, tekanan keluarga, penilaian masyarakat, dan di saat yang sama tetap berdiri sebagai seorang ibu.

Banyak orang mungkin melihat keputusan seseorang hanya dari hasil akhirnya.

Namun lewat pengakuan ini, Denada memperlihatkan bahwa di balik sebuah keputusan besar, ada proses panjang yang penuh air mata, ketakutan, dan pengorbanan batin yang tidak terlihat oleh publik.

Ia juga menunjukkan bahwa menjadi ibu tidak selalu berarti harus selalu hadir secara fisik setiap saat.

Kadang, dalam kondisi tertentu, cinta seorang ibu justru terlihat dalam keputusan paling pahit yang ia ambil demi kebaikan anaknya, meski keputusan itu menyakitkan dirinya sendiri.

Kisah Denada pun membuka ruang empati baru di mata publik. Bahwa tidak semua pilihan hidup bisa dinilai hitam-putih.

Ada konteks zaman, tekanan sosial, kondisi psikologis, serta keterbatasan yang mungkin tidak dipahami banyak orang.

Kompas.com/TribunStyle.com

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.