Taryana Panen Uang Jika Sudah Masuk Masa Lebaran, Berkarya Sudah Hampir 40 Tahun
Ignatia Andra March 23, 2026 04:14 PM

 

TRIBUNJATIM.COM - Perahu wisata di Laut Taman Impian Jaya Ancol sudah 40 tahun membersamai Taryana, seorang warga di sekitar tempat wisata.

Momen libur Lebaran setiap tahunnya selalu membawa berkah tersendiri bagi para penyedia jasa wisata.

Taryana (54), seorang nakhoda perahu wisata di laut Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara.

Bagi Taryana, lonjakan pengunjung saat libur panjang adalah "masa panen" yang paling ditunggu-tunggu untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah.

Mengenakan seragam kaus lengan panjang berwarna kuning dan oranye bertuliskan "Perahu Wisata Ancol", Taryana tampak sigap memegangi tali tambang.

Ia membantu penumpang menaiki perahu kayu berwarna biru muda bernomor 39 yang bernama "Bontang", melewati sebilah papan kayu yang dijadikan jembatan.

Di momen libur Lebaran, Taryana menyebut, perahunya bisa bolak-balik mengangkut penumpang hingga belasan kali dalam sehari.

"Sehari kira-kira bisa ya 12 sampai 15 kali lah mungkin, ya. Ibaratnya kalau misalnya tiap satu jam sekali kita berangkat. Nah, itu kan berarti dalam seharian kita 12 jam kerja, 12 kali berangkat," kata Taryana.

Kondisi biasa memprihatinkan

Kondisi ini, kata dia, sangat berbanding terbalik jika dibandingkan dengan hari-hari biasa di luar musim libur.

Pada hari biasa, perahunya paling banyak hanya berlayar lima kali, itu pun dengan jumlah penumpang yang jauh dari kapasitas maksimal yaitu 30 orang.

"Kalau hari-hari biasa di luar Lebaran itu biasanya paling cuma lima kali lah berangkat. Itu pun ya orangnya enggak mungkin penuh, paling berapa seadanya orang saja kita angkut kan, namanya kita butuh pemasukan," ucap dia.

Baca juga: Alasan Prabowo sudah Kunjungi 26 Negara selama Menjabat Jadi Presiden RI

Untuk menikmati sensasi berkeliling perairan Ancol dengan perahu kayu, pengunjung hanya perlu merogoh kocek seharga Rp 20.000 per orang.

Rutenya mengitari perairan sekitar Ancol hingga menuju area Marina Beach Sand.

"Rutenya ya sini saja, sekitar sini muter-muter. Terus ke Marina situ atau bisa request sebenarnya mau ke mana. Misalnya pengunjung mau ke Pantai Lagoon, Pantai Timur, bisa request, nanti kita tinggal tentukan apa misalnya harganya sama atau beda," ujar dia.

Taryana menuturkan, ia tidak selalu menunggu kapalnya terisi penuh 30 orang untuk berangkat.

Tak mau penumpang menunggu

Jika sudah ada 10 hingga 15 orang, ia akan mulai menyalakan mesin agar penumpang tidak terlalu lama menunggu

"Kadang kalau misalnya kita sudah nunggu 15 sampai 20 menit mau naik kapal, kasihan juga yang mau naiknya kalau nunggu terlalu lama. Misal sudah terkumpul yang penting 10-15 orang, setengahnya gitu, ya sudah berangkat kita," ujar dia.

Namun, ia tak menampik terkadang penumpang memang harus menunggu cukup lama agar dirinya tak boncos dalam hal bensin.

"Karena kan kita juga harus mikirin bensinnya, ongkosnya. Kemudian juga biar penumpang ini ya kita sama-sama enak saja. Kalau kita angkutnya sedikit-sedikit kan boros di bensin juga," sambung dia.

Jejak karirnya

Taryana sendiri mengaku telah menawarkan jasa perahu wisata Ancol sejak tahun 1988, atau hampir 40 tahun yang lalu.

Ia meneruskan jejak sang ayah yang sudah lebih dulu menawarkan jasa serupa di Ancol sejak pertama kali dibuka pada tahun 1967.

Di luar mengangkut wisatawan, Taryana terkadang masih melaut untuk mencari ikan, atau meminjamkan kapalnya kepada nelayan lain agar perahu tersebut tidak dibiarkan menganggur bersandar di bebatuan.

Dari pekerjaannya inilah, Taryana mampu menafkahi keluarganya hingga saat ini.

Di tengah kondisi ekonomi yang kian menantang, ia menitipkan harapan besar agar kawasan wisata Ancol selalu dipadati pengunjung.

"Harapannya ke depannya semoga Ancol semakin ramai terus lah, semakin baik. Karena kalau ramai kan pengunjungnya enak, kitanya juga enak. Inginnya ramai terus lah supaya bisa aktif terus kapalnya, bisa cari nafkahnya dari sini," tutup dia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.