7 Laga Penentuan Tottenham di Liga Inggris, Tak Ada Jalan Mudah Hindari Degradasi
Muhammad Nursina Rasyidin March 23, 2026 04:25 PM

TRIBUNNEWS.COM – Tottenham Hotspur menghadapi situasi genting jelang akhir musim Liga Inggris 2025/2026. Kekalahan kontra Nottingham Forest 3-0 pada pekan 31 membuat Tottenham semakin dekat dengan zona degradasi.

Spurs kini terdampar di peringkat ke-17 klasemen dengan raihan 30 poin, hanya unggul satu angka dari zona degradasi. Kondisi ini membuat tujuh laga tersisa menjadi penentuan hidup-mati bagi klub asal London Utara tersebut.

Performa Tottenham tengah berada di titik terendah. Mereka tercatat tanpa kemenangan dalam 13 pertandingan terakhir di Liga Inggris 2025/2026, 

Kemenangan terakhir Tottenham di liga terjadi saat mengalahkan Crystal Palace 1-0 pada Desember 2025 lalu.

Rentetan hasil buruk ini tak hanya berdampak pada posisi klasemen, tetapi juga memukul mental dan kepercayaan diri para pemain.

 
Klub
D
M
S
K
GM
GK
-/+
P
16
35
Nottm Forest
31
8
8
15
31
43
-12
32
17
35
Tottenham
31
7
9
15
40
50
-10
30
18
35
West Ham
31
7
8
16
36
57
-21
29
19
35
Burnley
31
4
8
19
33
61
-28
20
20
35
Wolves
31
3
8
20
24
54
-30
17
Lihat selengkapnya →

7 Laga Berat Menanti

Liga Inggris 2025/2026 kini hanya menyisakan 7 pekan lagi, dan tak ada waktu bagi Spurs untuk kembali menelan kekalahan.

Dari tujuh laga tersisa, Tottenham akan menjalani empat pertandingan tandang dan tiga laga kandang dan semuanya berpotensi menjadi batu sandungan.

Laga tandang:

  • Sunderland (12 April)
  • Wolverhampton Wanderers (25 April)
  • Aston Villa (2 Mei)
  • Chelsea (17 Mei)

Dari empat laga tandang tersebut, hanya Wolves yang dinilai relatif bisa memberi peluang bagi Spurs untuk mencuri poin penuh.

Sementara itu, Sunderland justru tengah tampil impresif dan kini berada di posisi ke-11 dengan 43 poin. Mereka bahkan baru saja membuat kejutan dengan mengalahkan Newcastle United dengan skor 2-1.

Baca juga: Inter Milan Bergerak Cari Kiper Baru, Sasaran Nerazzurri Ada di Tottenham

Adapun tiga laga kandang Tottenham akan menghadapi:

  • Brighton & Hove Albion (18 April)
  • Leeds United (9 Mei)
  • Everton (24 Mei)

Brighton berpotensi menjadi lawan paling menyulitkan. Spurs bahkan tidak pernah menang dalam tiga pertemuan terakhir melawan Brighton (dua kalah, satu imbang).

Sementara itu, Leeds dan Everton menjadi laga yang wajib dimenangkan, mengingat Tottenham mampu mengalahkan keduanya pada putaran pertama musim ini.

Ancaman Kerugian Besar

Selain faktor olahraga, ancaman degradasi juga membawa dampak finansial besar.

Menurut laporan Sportbible, Tottenham berpotensi mengalami kerugian lebih dari £250 juta (sekitar Rp5,6 triliun) jika terdegradasi dari Premier League.

Angka tersebut mencakup kehilangan hak siar, sponsor, hingga penurunan nilai komersial klub.

Situasi ini menjadi ancaman degradasi paling serius yang dihadapi Tottenham dalam beberapa dekade terakhir.

Jika tidak segera bangkit, bukan tidak mungkin Spurs akan mencatat salah satu momen paling kelam dalam sejarah klub.

Dengan tujuh laga tersisa, Tottenham tidak lagi memiliki ruang untuk kesalahan, setiap poin kini menjadi penentu nasib mereka di kasta tertinggi sepak bola Inggris.

Mentalitas dalam Hindari Degradasi

Bagi West Ham United dan Nottingham Forest, situasi seperti ini bukanlah hal baru.

Para pemain dan pendukung kedua tim sudah terbiasa berada dalam tekanan pertempuran bertahan di liga. Mereka memahami betul dinamika tersebut, termasuk bagaimana menjaga mental dan tetap berjuang hingga peluang benar-benar tertutup secara matematis.

Dukungan dari suporter pun cenderung konsisten, tetap mengalir hingga akhir, apa pun situasinya.

Namun, kondisi berbeda terlihat di kubu Tottenham Hotspur.

Setelah menelan kekalahan telak 0-3, para pemain Spurs tampak kehilangan arah. Bahasa tubuh mereka menunjukkan kelelahan mental dengan kepala tertunduk, minim komunikasi, serta ekspresi yang mencerminkan turunnya kepercayaan diri.

Atmosfer di tribun pun mencerminkan hal serupa. Banyak pendukung memilih meninggalkan stadion sebelum laga usai.

Sebagian yang bertahan hanya terdiam dalam keterkejutan, sementara lainnya meluapkan kekecewaan terhadap performa tim serta keputusan manajemen.

Situasi ini memperlihatkan bahwa tekanan dalam perburuan bertahan di liga tidak hanya menguji kualitas tim di lapangan, tetapi juga kekuatan mental serta loyalitas di luar lapangan.

(Tribunnews.com/Ali)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.