Biar bagaimanapun, kami akan tetap berusaha menata kembali runtuhan ini menjadi rumah tinggal yang nyaman ketika ekonomi kami sudah membaik,

Tapanuli Tengah-Sumatera Utara (ANTARA) - Di bawah terik matahari siang yang menyengat, Ingotan Tua Draha berdiri mematung di atas timbunan lumpur yang dahulu adalah lantai rumahnya.

Sesekali ia menatap sisa bangunan yang hampir tak lagi dikenali. Rumah yang puluhan tahun menjadi tempat berteduh keluarganya kini terkubur pasir dan tanah, menyisakan kenangan yang sulit diselamatkan.

Banjir bandang dan longsor yang menerjang Kecamatan Tukka, Kelurahan Pasar Tukka, mengubah hidupnya dalam sekejap. Bersama istri dan delapan anaknya, ia kini harus memulai kembali dari nol.

Tak ada lagi rumah untuk pulang. Alih-alih tinggal di pengungsian, Ingotan memilih mengontrak rumah dengan biaya sendiri. Keputusan itu diambil bukan karena mampu, melainkan karena keadaan yang memaksa.

“Kalau di tenda tidak mungkin. Kami ini banyak, ada delapan anak saya,” katanya pelan, sambil mengusap keringat dengan handuk kecil.

Bagi seorang ayah, kenyamanan anak-anaknya menjadi pertimbangan utama. Ia tahu, hidup berdesakan di tenda bukanlah lingkungan yang layak bagi keluarga sebesar mereka, terlebih sebagian anaknya masih duduk di bangku sekolah.

Masalahnya, setelah bencana datang, penghasilan tak lagi mengalir seperti dulu. Aktivitas ekonomi yang menjadi sandaran hidup ikut lumpuh. Tabungan keluarga yang seharusnya menjadi pegangan masa depan kini perlahan habis untuk membayar biaya kontrakan.

Namun Ingotan tak melihatnya sebagai kerugian. Baginya, keselamatan dan rasa aman bagi istri serta anak-anak jauh lebih penting daripada sisa uang yang tersimpan.

Di Desa Pasar Tukka sendiri, fasilitas pengungsian masih terbatas. Tenda pun belum tersedia. Dalam situasi serba tidak pasti itu, ia dan istrinya sepakat mengambil risiko: mencari tempat tinggal sementara meski tanpa kepastian bantuan.

Harapan sempat datang ketika pemerintah menjanjikan bantuan uang sewa sebesar Rp600 ribu bagi penyintas. Akan tetapi, empat bulan setelah bencana berlalu, bantuan tersebut belum juga sampai.

“Katanya ada bantuan kontrak, tapi belum cair. Sudah lama kami tunggu,” ujarnya, menyimpan harap yang belum padam.

Mengontrak rumah tanpa kepastian bantuan berarti menambah beban baru bagi keluarga itu. Tetapi bagi Ingotan, pilihan tersebut sudah jelas. Sebagai kepala keluarga, ia merasa tak punya ruang untuk menyerah.

Selama anak-anaknya masih memiliki tempat untuk tidur dengan aman, segala pengorbanan terasa layak dijalani.

Di tengah lumpur yang belum sepenuhnya kering, Ingotan terus melangkah, membangun kembali kehidupan yang sempat hanyut bersama banjir, sedikit demi sedikit, dengan keteguhan seorang ayah yang tak ingin keluarganya kehilangan harapan.

Kehidupan masa lalu

Sebelum bencana alam terjadi, kehidupan masyarakat Pasar Tukka yang sebagian besar warganya berprofesi sebagai petani padi dan karet, terjalin cukup erat dan harmonis.

Untuk bertahan hidup, masyarakat di sana mengandalkan semangat gotong royong yang kuat, saling membantu antar tetangga maupun kerabat yang tinggal berdekatan.

Kini, kampung yang hampir tertimbun lumpur dan pasir itu tak lagi terlihat riuh seperti hari-hari sebelumnya. Keceriaan dan keramaian desa tersebut hanya tinggal kenangan masa lalu.

Warga penyintas bencana banjir bandang dan longsor di Kecamatan Tukka, Kelurahan Pasar Tukka, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara (ANTARA/Chairul Rohman)

Bertani selama ini menjadi sumber penghidupan utama warga di sana. Namun, sawah dan kebun karet yang kini hampir tak lagi terlihat membuat roda perekonomian masyarakat terhenti untuk sementara waktu.

Salah satu jalan yang ditempuh adalah beralih profesi. Kini, menjadi kuli bangunan menjadi pilihan yang banyak diambil warga untuk mulai menata kembali kehidupan mereka pascabencana.

“Kebun habis, kerjaan juga tidak ada. Sekarang kalau ada kawan mengajak kerja bangunan, baru ikut,” ujar Ingotan.

Di sisi lain, ia merasa kondisi warga Pasar Tukka belum sepenuhnya mendapat perhatian. Ia mendengar bantuan mulai disalurkan di wilayah lain, sementara di tempatnya masih banyak warga yang menunggu.

Harapan pun masih ia gantungkan, terutama kepada pemerintah. Ia berharap bantuan yang dijanjikan dapat segera terealisasi sehingga beban yang ia tanggung sedikit berkurang.

Lebih dari itu, ia juga berharap adanya perbaikan infrastruktur, khususnya sungai yang menjadi penyebab bencana. Baginya, langkah tersebut penting agar warga dapat kembali membangun kehidupan mereka.

Impian itu sederhana: memiliki kembali rumah sendiri, tempat ia dan keluarganya dapat hidup dengan tenang tanpa harus memikirkan biaya kontrak setiap tahun.

Warga penyintas bencana banjir bandang dan longsor di Kecamatan Tukka, Kelurahan Pasar Tukka, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. (ANTARA/Chairul Rohman)

Untuk saat ini, ia memilih bertahan dengan keadaan yang ada. Mengontrak rumah secara mandiri menjadi bentuk perjuangan nyata yang ia lakukan demi keluarganya.

“Pasrah saja sekarang. Yang penting kami masih bisa bertahan,” ucapnya.

Sebelum bencana alam terjadi, rumah Ingotan Tua Draha merupakan hunian yang layak bagi sepuluh orang anggota keluarganya. Ia mengenang rumah itu sebagai tempat yang nyaman meski dihuni banyak orang.

Ruang tamunya cukup luas untuk menerima tamu yang datang berkunjung, terlebih saat momen Lebaran seperti sekarang.

Kini, rumah yang telah dihuni selama puluhan tahun itu hanya tinggal kenangan. Yang tersisa hanyalah bagian toilet yang masih terlihat, sementara bagian lainnya telah tertimbun lumpur dan pasir.

Rumah yang berada di pinggir jalan itu bahkan kini dapat dilalui kendaraan yang melintas, akibat tumpukan pasir dan lumpur yang telah mengeras.

Meski demikian, Ingotan Tua Draha berjanji kepada istri dan anak-anaknya bahwa ia akan kembali menata kehidupan yang lebih baik ketika roda perekonomian mulai pulih.

Saat ini, Ingotan bersama istri dan delapan anaknya tinggal di sebuah rumah petak yang dibaginya menjadi beberapa ruang tidur sederhana agar mereka tetap dapat beristirahat dengan nyaman.-

Tanggapan pemerintah

Bupati Tapanuli Tengah, Masinton Pasaribu, menjelaskan bahwa pemerintah daerah terus bekerja secara maksimal untuk memulihkan kehidupan warga penyintas banjir bandang dan longsor di sejumlah wilayah terdampak.

Menurut dia, pemerintah tidak tinggal diam dan terus mempercepat proses pemulihan di desa-desa yang terdampak bencana agar masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan yang lebih layak.

“Kalau ada warga yang menyewa rumah secara mandiri, sebenarnya sudah ada beberapa bantuan, baik dari organisasi nonpemerintah maupun dari pemerintah provinsi. Bantuan dari provinsi itu, kalau tidak salah, diberikan untuk satu bulan. Nanti akan kita upayakan agar mereka bisa menerima bantuan pada bulan berikutnya,” kata Masinton Pasaribu.

Untuk itu, pemerintah terus melakukan pendataan terhadap warga yang benar-benar terdampak, khususnya mereka yang mengalami kerusakan rumah cukup parah. Warga yang masuk dalam data valid dengan kategori kerusakan berat berhak menerima bantuan tersebut.

Saat ini, pendistribusian bantuan masih dilakukan secara bertahap mengingat banyaknya keluarga yang mengalami kerusakan tempat tinggal yang serius.

Ia juga mengajak masyarakat untuk aktif terlibat dalam proses pendataan guna mempercepat penanganan agar bantuan dapat disalurkan secara tepat sasaran.

“Kalau belum terdata dalam kategori rumah rusak berat, silakan mengajukan pendataan,” ujarnya.

Kisah Ingotan Tua Draha menjadi gambaran nyata bagaimana warga terdampak bencana harus mengambil keputusan sulit di tengah keterbatasan. Tidak semua dapat menunggu bantuan datang; sebagian harus bergerak sendiri, meski dengan risiko dan beban yang besar.

Di Pasar Tukka, di antara puing-puing yang masih tersisa, sosok seorang ayah dengan delapan anak yang terus berjuang menjadi simbol keteguhan kepala keluarga dalam memikul tanggung jawabnya.

“Biar bagaimanapun, kami akan tetap berusaha menata kembali runtuhan ini menjadi rumah tinggal yang nyaman ketika ekonomi kami sudah membaik,” kata.Ingotan Tua Draha.