TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Jalur Nagrog menjadi salah satu titik krusial arus mudik di wilayah timur Kabupaten Bandung.
Barisan kendaraan selama mudik lebaran kerap kali mengular di wilayah tersebut.
Lampu rem menyala berderet kala hujan. Memantul di aspal nan basah yang tak henti diguyur hujan.
Pada Sabtu, 21 Maret 2026 malam lalu, ada momen heroik yng dilakukan Satlantas Polresta Bandung.
Di tengah kondisi lalu lintas pada hari itu yang nyaris tersendat, Kasat Lantas Polresta Bandung, Kompol Ega Prayudi memilih cara yang tak biasa untuk memastikan penyebab kepadatan di wilayah turunan Nagrog.
Putra komedian senior Thukul Arwana ini turun langsung, berjalan kaki untuk menysuri jalur padat kendaraan di Jalan Nagrog, Kabupaten Bandung itu.
Baca juga: Simpang Palimanan Cirebon Jadi Lautan Kendaraan Jelang One Way, Warga Terjebak Antrean Tanpa Celah
Memang, kondisi lalu lintas kala itu di kawasan tersebut sangat padat.
Dan aksi tersebut sempat viral di media sosial.
Tercatat berdasarkan data Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Bandung, pada saat itu volume kendaraan mencapai 137.113 unit.
Di mana angka trsebut naik 6,42 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
"Waktu itu di Nagrog terjadi kepadatan peningkatan volume kendaraan. Kami harus mencari troublenya (Kendala) di mana. Saat itu saya berinisiatif berjalan kaki mencari untuk troublenya," ujarnya kepada Tribun Jabar pada Senin (23/3/2026)
Keputusan tersebut diambil bukan tanpa alasan. Kendaraan yang biasa digunakan untuk patroli tak bisa bergerak leluasa di tengah padatnya arus.
Sepeda motor pun sulit menembus rapatnya kendaraan.
Selain itu, Teknologi seperti drone atau pesawat tanpa awak, yang selama ini membantu pemantauan lalu lintas pun tidak dapat berfungsi maksimal akibat cuaca yang tidak mendukung.
"Mobil dan motor bahkan drone yang biasa kami mengecek untuk ekor itu tidak bisa kita fungsikan dengan maksimal. Makanya saya memilih untuk berjalan kaki agar saya mengetahui betul apa kendala yang ada di jalur itu," katanya.
Di bawah guyuran yang kala itu hujan lebat, diri dan para petugas kepolisian lainnya menyusuri satu per satu titik kepadatan, mencari kemungkinan adanya kecelakaan atau mogok, hingga hambatan lainnya.
"Kurang lebih saya jalan 1 kilo mulai dari SPBU sampai Nagrog karena kondisi kendaraan meningkat dan dalam kondisi hujan," ucapnya.
Seragam yang dikenakannya basah oleh hujan. Namun langkahnya tidak berhenti. Baginya, memastikan kndisi real di lapangan menjadi hal penting agar keputusan yang diambil tepat sasaran.
Hasil penelusuran tersebut justru menunjukkan fakta yang cukup melegakan. Tidak ditemukan adanya insiden kecelakaan maupun kendaraan mogok di sepanjang jalur yang disisir.
"Ternyata setelah saya sisir, alhamdulilah nihil trouble, hanya saja memang kendaraan saat itu volume cukup tinggi jadi dipastikam untuk kendaraan tidak ada trouble mogok ataupun kecelakaan," ujarnya
Berdasarkan temuan tersebut, akhirnya Satlantas Polresta Bandung menerapkan rekayasa lalu lintas berupa sistem satu arah atau one way guna mempercepat pergerakan kendaraan.
Keputusan dan tindakan tersebut, bukan dilakukan untuk tugas semata. Melainkan untuk mastikan masyarakat dapat beraktivitas dengan rasa nyaman dan aman saat melintasi Kabupaten Bandung.
Di balik hiruk pikuk arus mudik lebaran, rupanya sosok-sosok yang kerap luput dari perhatian. Sosok itu adalah polisi. Mereka tetap berdiri di tengah hujan, panas, dan padatnya kendaraan.
Memastikan perjalanan masyarakat tetap aman dan lancar. Mereka tanpa banyak sorotan terus berjaga, mengatur, dan memastikan setiap pemudik bisa sampai ke tujuan dengan selamat.