Laporan Wartawan TribunSolo, Erlangga Bima
TRIBUNSOLO.COM, WONOGIRI – Cabuk Wonogiri menjadi salah satu kuliner legendaris yang wajib dicoba saat berkunjung ke Kabupaten Wonogiri.
Di tengah gempuran makanan kekinian, hidangan tradisional ini tetap bertahan dan memiliki penggemar setia.
Berbeda dengan cabuk rambak khas Solo, cabuk asli Wonogiri memiliki ciri khas warna hitam pekat dan proses pembuatan yang unik.
Tak heran, kuliner ini kerap diburu pecinta makanan tradisional, terutama saat momen tertentu seperti Lebaran.
Cabuk Wonogiri dibuat dari biji wijen yang dihaluskan, kemudian dikukus dan dipres untuk memisahkan minyaknya.
Setelah itu, bahan tersebut diberi pewarna alami dari arang batang padi sehingga menghasilkan warna hitam khas.
Tekstur dan bentuknya sekilas menyerupai tempe, namun cabuk tidak bisa langsung dikonsumsi.
Pembeli harus mengolahnya kembali dengan bumbu sebelum disantap.
"Jadi cabuk ini seperti tempe, kalau beli tempe kan harus dimasak dulu, cabuk ini ya sama," paparnya.
Salah satu produsen cabuk yang masih bertahan hingga kini adalah rumah produksi milik Sarmin (75), warga Dusun Pengkol RT 2 RW 1, Desa Pokoh Kidul, Kecamatan Wonogiri.
Usaha ini telah berlangsung sejak sebelum Indonesia merdeka, menjadikannya sebagai warisan kuliner turun-temurun hingga generasi kelima.
"Sudah dari wareng saya itu. Dari simbok, simbah, mbah buyut, mbah canggah, wareng. Wareng itu setelah mbah canggah. Mungkin sejak tahun 1930-an," ujarnya, belum lama ini.
Pada masa jayanya, cabuk Wonogiri menjadi primadona kuliner.
Bahkan, Sarmin mengungkapkan bahwa produk cabuknya pernah dibeli oleh utusan Presiden ke-2 RI, Soeharto.
"Dulu kan Pak Harto pernah tinggal di Wuryantoro. Utusannya sering ke sini. Mungkin buat bancakaan begitu," ujarnya.
Saat ini, pembeli cabuk didominasi pedagang pasar, meski ada juga pelanggan dari luar kota yang sengaja mencari bahan kuliner tradisional ini.
Baca juga: Kuliner Enak di Wonogiri Selain Bakso-Mie Ayam, Ada Soto Daging Hingga Sate Kambing
Permintaan cabuk biasanya meningkat signifikan saat momen Lebaran.
Dalam satu kali produksi, Sarmin bisa mengolah hingga 30 kilogram wijen, jauh lebih banyak dibanding hari biasa yang hanya sekitar 10 kilogram.
Fenomena ini menunjukkan bahwa cabuk Wonogiri masih memiliki tempat di hati masyarakat, terutama sebagai sajian khas saat hari besar.
Baca juga: Kisah Samin Pembuat Cabuk Khas Wonogiri, Dulu Sering Diborong Utusan Soeharto Semasa Jabat Presiden
Bagi wisatawan yang berkunjung ke Wonogiri, cabuk menjadi salah satu kuliner wajib yang patut dicoba.
Selain cita rasanya yang khas, cabuk juga menyimpan nilai sejarah panjang dan proses tradisional yang unik.
Keberadaannya yang tetap bertahan hingga kini menjadi bukti bahwa kuliner tradisional mampu bersaing dengan makanan modern, sekaligus menjaga identitas budaya lokal.
(*)