TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Suasana meriah dan penuh keceriaan menyelimuti area Cinepolis Plaza Medan Fair saat para cast dan kru film Pelangi di Mars hadir langsung menyapa para penggemar, Senin (23/3/2026).
Sejak awal kehadiran, ratusan penonton yang didominasi anak-anak dan keluarga tampak antusias memadati lokasi untuk melihat lebih dekat sosok di balik karakter animasi favorit mereka.
Sorak sorai penonton langsung pecah ketika Vanya Rivani, pengisi suara sekaligus body actor karakter Kimchi, muncul di hadapan publik.
Dengan ramah, ia menyapa penggemar, melambaikan tangan, dan sesekali berinteraksi dengan anak-anak yang tampak begitu antusias.
Vanya juga berbagi cerita mengenai bagaimana ia menghidupkan karakter Kimchi, mulai dari pengisian suara hingga pendalaman ekspresi gerak yang membuat karakter tersebut terasa lebih nyata.
Tak kalah menarik, kehadiran Messi Gusti yang memerankan karakter Pelangi turut mencuri perhatian.
Ia tampil penuh energi dan kehangatan, mengajak penonton untuk lebih mengenal karakter yang ia bawakan.
Dalam sesi interaksi, Messi menceritakan tantangan dan keseruan selama proses produksi, termasuk bagaimana membangun emosi karakter agar dapat tersampaikan dengan baik kepada penonton.
Kemeriahan semakin terasa dengan hadirnya Bimoky, pengisi suara karakter Robot Batik.
Karakter unik yang kental dengan nuansa budaya ini menjadi favorit banyak penonton.
Bimoky pun tak segan berinteraksi langsung, bahkan menirukan suara khas Robot Batik yang langsung disambut tawa dan tepuk tangan meriah dari para penggemar.
Tak hanya para cast, produser Dendi Reynando dan sutradara Upie Guava juga turut hadir meramaikan acara.
Keduanya memberikan gambaran lebih dalam mengenai proses kreatif di balik film Pelangi di Mars.
Mulai dari pengembangan ide cerita, desain karakter, hingga tantangan teknis dalam produksi animasi yang membutuhkan ketelitian dan kerja tim yang solid.
Upie Guava menegaskan bahwa Pelangi di Mars adalah jawaban atas keresahannya terhadap ketergantungan teknologi luar negeri.
"Kami bisa saja ambil jalan pintas pakai jasa Amerika yang sudah proven, tapi kami tidak mau. Kami mau ini asli Indonesia, dirajut oleh anak-anak SMK dan mahasiswa yang belajar sendiri dari YouTube," ujarnya.
Lebih dari sekadar visual, Upie membawa misi besar untuk menanamkan literasi Science Fiction (Sci-Fi) kepada anak-anak Indonesia. Menurutnya, film Sci-Fi adalah tolok ukur sebuah negara dalam merencanakan masa depan.
"Kenapa kalau ada meteor jatuh atau masalah dunia, pahlawannya selalu Amerika? Kenapa nggak Indonesia? Di film ini, tokoh utamanya Pelangi, anak dari astronot Indonesia bernama Prathiwi—terinspirasi dari astronot nyata kita, Ibu Prathiwi Sudarmono," tegasnya.
Dendi Reynando mengungkapkan bahwa riset dan pengembangan (Research and Development) film ini memakan waktu hingga tiga tahun sejak 2020.
Menggunakan teknologi Virtual Production yang menjadikannya sebagai early adapter di dunia, film ini ingin memberikan standar baru bagi sinema keluarga.
"Negara-negara besar memiliki literasi sci-fi yang kuat. Pemimpin dan inovator hebat lahir dari apa yang mereka tonton dan baca saat kecil. Video call atau ChatGPT sudah ada di film sci-fi puluhan tahun lalu sebelum jadi kenyataan. Kami ingin memicu ilmuwan masa depan Indonesia lewat film ini," ujar Dendi.
Sepanjang acara, suasana terasa hangat dan interaktif. Para penggemar tidak hanya menyaksikan, tetapi juga berkesempatan berfoto bersama serta mendapatkan pengalaman langsung bertemu dengan para tokoh di balik layar film tersebut.
(cr26/tribun-medan.com)