Saatnya Kembali pada Pembentukan Karakter
suhendri March 23, 2026 11:03 PM

Oleh: Herlian, S.Pd., Gr. - Kepala SMA IT CAHAYA

KITA bisa melihat makin majunya dunia teknologi makin banyak perubahan pada dunia pendidikan. Berkembangnya teknologi di dalam dunia pendidikan sangat memengaruhi proses belajar murid. Zaman yang maju ini, sekolah berlomba mencetak murid berprestasi. Nilai tinggi, peringkat membanggakan, segudang sertifikat menjadi salah satu tolok ukur dalam keberhasilan.

Namun di balik itu semua, muncul kegelisahan kita sebagai pendidik, orang tua, dan masyarakat. Sekarang masih banyak sekali generasi mudah menyerah, kurang jujur, dan kehilangan arah hidup yang tidak fokus pada satu tujuan. Inilah tanda bahwa pendidikan kita masih berat sebelah, kuat dalam transfer of knowledge, tetapi lemah dalam transfer of character. Padahal, ilmu tanpa karakter ibarat cahaya tanpa arah (terang, tetapi tidak menuntun).

Allah Swt mengingatkan kita, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11).

Pendidikan sejati bukan memindahkan isi buku ke kepala murid. Ia adalah proses membentuk manusia seutuhnya yang memiliki akal, hati, dan perilaku. Dalam Islam, ini dikenal sebagai tazkiyatun nafs (penyucian jiwa).

Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad). Hadis ini menegaskan bahwa misi utama pendidikan dalam Islam adalah pembentukan akhlak. Ilmu penting, tetapi akhlak adalah fondasi. Tanpa akhlak, ilmu bisa disalahgunakan; dengan akhlak, ilmu menjadi cahaya kebaikan. Inilah makna pendidikan yang utuh.

Tanggung jawab bersama dalam pendidikan karakter

Sering kali pendidikan karakter diserahkan sepenuhnya kepada sekolah. Padahal, dalam Islam, tanggung jawab ini bersifat kolektif. Orang tua adalah madrasah pertama, guru adalah teladan di sekolah, dan lingkungan adalah penguat nilai.

Allah Swt berfirman “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka….” (QS. At-Tahrim: 6). Ayat ini memberikan ketegasan bahwa keluarga adalah benteng utama pendidikan. Sekolah dan masyarakat kemudian memperkuatnya. Artinya, pendidikan karakter adalah kerja bersama, bukan tugas satu pihak.

Karakter tidak lahir dari teori di ruang kelas saja. Ia tumbuh dalam keseharian, mulai dari cara berbicara, bersikap, menghadapi kegagalan, hingga memperlakukan orang lain. Rumah, sekolah, masjid, bahkan lingkungan pergaulan adalah ruang kelas yang sesungguhnya.

Rasulullah Saw tidak hanya mengajar di masjid, tetapi juga mendidik melalui interaksi sehari-hari. Setiap peristiwa menjadi sarana pendidikan. Inilah konsep pendidikan yang hidup, bukan hanya diajarkan, tetapi dicontohkan.

Proses untuk membentuk kepribadian anak dimulai sedini mungkin. Islam menekankan bahwa setiap anak lahir dalam keadaan suci (fitrah). Rasulullah Saw bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah….” (HR. Bukhari dan Muslim)

Fitrah anak ini perlu dijaga dan diarahkan sejak awal. Menunda pendidikan karakter sama saja membiarkan kebiasaan buruk tumbuh tanpa kendali. Karena itu, masa kanak-kanak adalah fondasi emas dalam membentuk kepribadian.

Dalam Islam, pembentukan karakter anak tidak dilakukan secara instan, melainkan melalui proses yang penuh kesadaran dan konsistensi. Salah satu cara utama adalah melalui keteladanan (uswah hasanah), di mana anak belajar dari apa yang ia lihat setiap hari, terutama dari orang tuanya.

Selain itu, pembiasaan juga menjadi kunci penting, karena perilaku baik yang dilakukan secara berulang akan tertanam kuat dalam diri anak. Nasihat yang menyentuh hati pun memiliki peran besar, bukan sekadar kata-kata, tetapi disampaikan dengan kelembutan, waktu yang tepat, dan penuh kasih sayang sehingga mudah diterima oleh jiwa anak.

Di samping itu, lingkungan yang baik turut membentuk karakter anak secara signifikan. Anak yang tumbuh dalam suasana yang positif, penuh nilai kebaikan, dan dikelilingi oleh orang-orang yang saleh akan lebih mudah meniru dan menginternalisasi perilaku tersebut.

Tidak kalah penting, doa dan kedekatan dengan Allah menjadi fondasi utama dalam pendidikan karakter. Orang tua tidak hanya berusaha secara lahiriah, tetapi juga menggantungkan harapan kepada Allah agar anak tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia. Dengan memadukan semua cara ini, pendidikan karakter dalam Islam menjadi lebih utuh. Menyentuh aspek lahir dan batin sekaligus.

Kisah keteladanan Rasulullah Saw paling menyentuh, ketika seorang pemuda datang meminta izin untuk berzina. Rasulullah Saw tidak memarahinya. Beliau justru mendekatinya dengan penuh kasih. Beliau bertanya, apakah kamu rela jika itu terjadi pada ibumu, saudara, anak-anak perempuanmu? Kemudian pemuda itu menjawab, tidak.

Rasulullah Saw kemudian menanamkan rasa empati dan kesadaran dalam hatinya, hingga pemuda itu berubah. Beliau juga mendoakannya.

Dalam kisah singkat keteladanan Rasulullah Saw ini, kita bisa mengambil hikmahnya bahwa ini adalah sebuah metode yang luar biasa dan bisa kita terapkan dalam pendidikan kita. Di mana Rasulullah tidak menghakimi, tetapi memahami, tidak memaksa, tetapi menyentuh hati. Pendidikan karakter bukan hanya tentang larangan semata, tetapi tentang membangun kesadaran dari dalam.

Arah pendidikan kita

Sudah saatnya kita merefleksikan kembali arah pendidikan. Dunia tidak hanya membutuhkan orang pintar, tetapi juga orang yang jujur, amanah, dan berakhlak mulia. Kita sebagai pendidik tetap belajar terus-menerus untuk mengubah karakter anak dan murid kita. Karena pendidikan sejati bukan hanya tentang apa yang murid ketahui, namun juga siapa mereka saat tidak ada yang melihat.

Tanamkan selalu di setiap aktivitas pembelajaran, di sekolah, di rumah, dan di lingkungan dengan ilmu yang bermanfaat. Karena di situlah proses sebuah karakter akan terbentuk. Jika ilmu adalah cahaya, maka karakter adalah arah.

Tanpa arah, cahaya bisa menyesatkan. Namun, dengan arah yang benar, cahaya akan menerangi jalan menuju masa depan yang penuh keberkahan. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.