Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Michaella Uzurasi
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Dua mahasiswa Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, dengan latar belakang program studi yang berbeda akhirnya menghasilkan pemikiran yang sama tentang emisi karbon, dari lomba berbeda yang diikuti keduanya.
Adrianus Rivaldo Seda Makin (A) merupakan mahasiswa Prodi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Undana, bersama timnya, Alfinda Fitria A. Mustofa dan Graceana J. C. Ngaro berhasil menjuarai lomba debat tingkat nasional yang digelar oleh Universitas Budi Luhur dengan essay berjudul "Optimalisasi Pajak Karbon dalam Mewujudkan Ekonomi Hijau untuk Meningkatkan Pendapatan Nasional dan Mendukung Visi Indonesia Emas 2045" pada tahun 2024 lalu.
Sementara Paulus Crystian Kapi, mahasiswa Prodi Ilmu Hukum, Fakultas Hukum Undana bersama tim dari Indonesia berhasil meraih penghargaan 3rd Best Innovation Project dengan inovasi Carbon Track App dalam ajang Indonesian Youth Excursion Network (IYEN) yang diselenggarakan di Bangkok, Thailand pada Juni 2025 lalu.
Keduanya berbagi pengalaman dan pandangan terkait emisi karbon dalam Undana Talk, Rabu, 18/03/2026.
Baca juga: Wawancara Eksklusif Undana Talk - Gewang dan Porang Sebagai Superfood Lokal NTT
Berikut cuplikan wawancara eksklusif bersama Pos Kupang.
Bagaimana awalnya anda tertarik dengan isu pajak karbon?
A : Awalnya saya dan tim, kedua teman saya, Alvin Mustofa dan Grace Ngaro bersama dosen pembimbing, waktu itu kami mengikuti lomba yang diselenggarakan oleh Universitas Budi Luhur, lombanya tingkat nasional.
Tema yang diberikan oleh panitia lomba itu bagaimana kita bisa melihat ekonomi hijau dan juga mendukung visi Indonesia Emas 2045. Untuk itu kami coba membedah literasi, membaca lebih banyak jurnal, kira-kira apa yang memiliki kaitan langsung dengan ekonomi hijau dan visi Indonesia Emas 2045 karena didalam visi Indonesia Emas 2045 itu salah satunya mendukung Green Economy jadi setelah membedah jurnal kami merasa bahwa ini menarik menulis mengenai pajak karbon karena menurut kami pajak karbon di satu sisi meningkatkan pendapatan negara, di sisi lain mendukung lingkungan yang lebih berkelanjutan. Akhirnya kami memutuskan untuk menulis tentang pajak karbon.
Bagaimana sampai ada ide untuk membuat aplikasi Carbon Track App?
P : Pertama, waktu ikut kegiatan saya semester empat dan ada mata kuliah hukum lingkungan dan salah satu yang saya ingat adalah tentang salah satu pasal Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 tentang lingkungan hidup yang mengatakan di pasal 65 bahwa setiap orang mempunyai hak untuk hidup di lingkungan baik dan sehat, jadi saya berpikir bagaimana kita sebagai mahasiswa mampu mendukung hak tersebut dimana kewajiban kami sebagai agent of change untuk membawa perubahan dan saya pikir bahwa, apa sih yang selama ini ada di depan mata kita tapi tidak pernah diperhatikan.
Nah setelah berdiskusi dengan teman-teman saya di kelompok waktu kegiatan di Thailand, ketemulah satu ide dengan masalah pokoknya yaitu tentang emisi karbon.
Dari sudut pandang kalian, sepenting apa anak muda memahami emisi karbon?
A : Dari saya, yang pertama kita perlu mengetahui bahwa seringkali ada pepatah yang mengatakan bumi ini diwariskan kepada anak cucu kita tetapi saya sendiri berpendapat bahwa sebenarnya kita ini meminjam bumi dari anak cucu kita karena kalau kita mewariskan berarti kita mewariskan yang baik dan yang buruk. Kalau meminjam berarti kita harus mengembalikan dalam keadaan baik, harus menjaganya.
Lalu yang kedua, kenapa kita merasa bahwa emisi karbon ini penting? Karena untuk saat-saat ini kita merasakan sekali terjadinya pemanasan global, adanya gagal panen, cuaca ekstrim yang berlebihan lalu ada El Nino dan La Nina, jadi apa upaya yang bisa kita lakukan sebagai anak muda.
Orang sering berkata kita sebagai agent of change, nah apa yang bisa kita lakukan untuk mengubah lingkungan ini yaitu dengan pertama, kita melakukan riset, penulisan-penulisan mengenai emisi karbon ataupun mengenai lingkungan yang lebih berkelanjutan.
Yang kedua, kita bisa berdiskusi bersama teman-teman mengenai lingkungan yang lebih bersih, lebih sehat, bagaimana kita bisa menciptakan lingkungan yang lebih baik lagi kedepannya.
P : Kalau dari saya sendiri, kenapa penting untuk anak muda mengetahui tentang emisi karbon, pertama, kita ini penerus bangsa, kembali lagi dimana masa depan itu bergantung pada apa yang kita buat sekarang jadi dengan kita mempelajari hal-hal seperti emisi karbon yang sebenarnya menurut kita itu sulit padahal itu bisa kita pelajari, kita tanggulangi jika kita memang betul-betul mau masuk kedalam materi tentang itu dan kemudian kita tahu sendiri kalau pada zaman sekarang ini seperti yang tadi dikatakan kak Rivaldo, pemanasan global makin menjadi-jadi, cuaca yang tidak menentu, pemanasan global di mana-mana, kebakaran hutan karena efek gas rumah kaca, jadi menurut saya ini sangat penting sebagai mahasiswa, sebagai anak muda juga baik yang mengerti tentang lingkungan maupun yang tidak, sama sekali tidak masuk dalam bagian lingkungan tapi kita harus tahu.
Apa itu Pajak Karbon?
A : Pajak Karbon itu sendiri merupakan salah satu jenis pajak lingkungan yang dikenakan pada sektor industri, sektor energi dan juga sektor transportasi. Jadi karbondioksida itu dihasilkan dari aktivitas manusia dengan menggunakan bahan bakar fosil atau bahan bakar batu bara, atau seringkali kita sebut dengan energi tak terbarukan. Apa sih tujuan dari pajak karbon ini?
Pajak Karbon ini diberikan oleh pemerintah kepada industri dan juga masyarakat sebagai salah satu bentuk insentif agar industri dan masyarakat itu bisa beralih dari energi-energi tidak terbarukan ke energi-energi yang lebih terbarukan dan juga lebih ramah dan lebih baik untuk lingkungan.
Kalau Carbon Track App sendiri seperti apa?
Pertama-tama saya mau jelaskan dulu dalam perancangan ide ini saya tidak sendiri, saya bersama teman-teman saya dari tempat yang berbeda, karena saya sendiri yang dari NTT, ada teman-teman saya dari Pulau Jawa, Pulau Sumatera, jadi pada pada dasarnya Carbon Track App ini bertujuan untuk menekan yang namanya emisi karbon yang dihasilkan.
Dari data kasus tahun 2024 yang kami pakai waktu kegiatan lomba, industri itu menyumbang paling banyak emisi karbon di Indonesia. Itu yang memicu kami membuat satu ide atau inovasi yang dekat dengan penggunanya tapi tetap menghiraukan yang namanya pengaturan pajak.
Inovasi Carbon Track App ini tidak hanya aplikasi sendiri, tetapi didukung oleh clouds sama IoT emission reader, semacam sensor yang nantinya akan dipasang ke tempat produksi industri itu sendiri dan kemudian dibaca secara langsung, secara real time di aplikasi.(uzu)