Dedi Mulyadi Ajak Putri Bungsu Ziarah ke Makam Orang Tua, Ajarkan Makna Bersyukur
Hilda Rubiah March 24, 2026 09:11 AM

TRIBUNJABAR.ID - Masih dalam suasana hangat Idul Fitri 2026, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi membagikan momen nyekar ke makam orang tuanya.

Nyekar adalah tradisi masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa, berupa kegiatan berziarah ke makam keluarga atau leluhur yang sudah meninggal dunia.

Tradisi ini biasanya dilakukan menjelang momen-momen penting, seperti memasuki bulan suci Ramadhan dan saat atau setelah merayakan Hari Raya Idul Fitri.

Setelah merayakan Idul Fitri 2026, Dedi Mulyadi berkesempatan ziarah ke makam orang tuanya tersebut di kampung halamannya di Subang, Jawa Barat.

Momen ini dibagikan Dedi Mulyadi dalam tayangan di kanal Youtube-nya, dikutip Selasa (24/3/2026).

Baca juga: KDM Murka Pergoki Jukir Liar di Perbatasan Subang-Bandung, Dedi Mulyadi: Stop atau Anda Ditangkap

Dedi Mulyadi datang ke makam orang tuanya bersama putri bungsunya, Nyi Hyang Sukma Ayu.

Momen ini tidak hanya sekadar ritual tahunan, tetapi juga menjadi sarana Dedi Mulyadi memberikan pendidikan karakter dan nilai moral kepada putri bungsunya tersebut.

Setibanya di area pemakaman, Dedi Mulyadi memberikan tantangan edukatif kepada Nyi Hyang untuk mencari sendiri makam sang nenek dengan membaca satu per satu nama yang tertera di batu nisan. 

Setelah sempat memeriksa beberapa nisan, Nyi Hyang akhirnya menemukan makam sang kakek dan nenek (ayah dan ibu Dedi Mulyadi).

Lalu, Dedi Mulyadi pun mengajak putrinya itu membaca doa bersama di pusara orang tuanya tersebut.

Diketahui almarhum ayah Gubernur Jawa Barat itu bernama Sahlil Ahmad Suryana.

Sedangkan almarhumah sang ibu bernama   Karsiti, yang akrab dipanggil "Mi" oleh keluarga.

Selesai mendoakan di hadapan pusara, Dedi Mulyadi bersama Nyi Hyang menebarkan bunga ke makam orang tuanya.

Suasana berubah menjadi haru ketika Dedi Mulyadi memberikan pesan mendalam kepada Nyi Hyang Sukma Ayu tentang makna bersyukur.

Ia menekankan bahwa segala kenyamanan, fasilitas, hingga kesempatan Nyi Hyang untuk belajar menari dan tampil di berbagai tempat saat ini adalah buah dari pengorbanan dan didikan "Mi" serta "Bapak Mi" kepadanya di masa lalu.

"Nyi Hyang harus bersyukur, kirim Fatihah buat Mi dan Bapak Mi. Karena mereka yang menjadi jalan Ayah hidup seperti sekarang, sehingga Nyi Hyang bisa menikmati fasilitas seperti hari ini," ujar Dedi Mulyadi.

Baca juga: Teguran Keras Dedi Mulyadi ke Pramusaji saat Bagi-bagi Santunan di Gedung Pakuan

Tampak Nyi Hyang hanya diam mendengarkan nasihat dari sang ayahnya tersebut.

Sebagai bentuk kasih sayang, Nyi Hyang memilih bunga berwarna kuning untuk diletakkan dengan hati-hati di atas makam sang nenek.

Setelah memanjatkan doa, Dedi Mulyadi juga menunjukkan kepedulian sosial dengan membagikan uang (THR) kepada warga dan anak-anak yang berada di sekitar lokasi pemakaman.

Kegiatan ziarah tersebut ditutup dengan momen refleksi diri bagi Nyi Hyang Sukma Ayu. 

Pada kesempatan lain, Nyi Hyang menyampaikan permohonan maaf kepada sang Ayah (nyuhunkeun dihapunten) atas segala perilaku manjanya, termasuk kebiasaan sering marah-marah, sulit dibangunkan tidur, hingga sulit diajak mandi. 

Momen ini memperlihatkan kedekatan emosional yang kuat antara Dedi Mulyadi dan putri bungsunya itu dalam memaknai hari kemenangan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.