TRIBUNNEWSMAKER.COM – Rafathar kembali mencuri perhatian setelah diketahui menghabiskan uang hingga Rp30 juta untuk membeli kartu Pokémon. Peristiwa ini pun berujung pada pelajaran penting dari sang ayah, Raffi Ahmad.
Kejadian tersebut berlangsung saat Rafathar berada di Singapura. Tanpa disadari, ia membeli enam set kartu koleksi dengan harga yang jika dikonversikan ke rupiah ternyata cukup fantastis. Hal ini terjadi karena Rafathar belum memahami perbedaan nilai tukar antara Dollar Singapura dan Rupiah.
Berikut kronologi Rafathar menghabiskan Rp30 juta untuk kartu Pokémon, yang kemudian membuatnya diminta bertanggung jawab oleh Raffi Ahmad.
Awalnya, Rafathar mengira harga kartu yang dibelinya tidak terlalu besar. Namun, ia baru menyadari jumlah sebenarnya setelah mengetahui total pengeluaran mencapai Rp30 juta.
"Kebetulan, anak saya memang nggak tahu. Beli kartu, dia pikirkan di Singapura pakai Dollar, dia nggak bisa ngitung. Dia beli lah," kata Raffi Ahmad, mengutip video TikTok @lapakpublik.
"Ternyata Rp30 juta," sambungnya.
Menanggapi hal tersebut, Raffi Ahmad tidak memilih untuk marah. Ia justru memberikan pemahaman kepada putranya bahwa uang sebesar itu bukanlah jumlah kecil dan perlu dipertanggungjawabkan.
Baca juga: Alasan Mbak Lala Stop Jadi Pengasuh Rafathar Anak Raffi Ahmad, Lulus S1 Punya Pekerjaan Mentereng!
Sebagai bentuk pembelajaran, Raffi Ahmad kemudian mengajak Rafathar untuk ikut bekerja bersamanya melalui kegiatan syuting. Hal ini dilakukan agar Rafathar bisa memahami proses mendapatkan uang.
"'Nah ya udah Aa mau bantuin papa nggak?' 'Gimana caranya?' Bantuain papa syuting, biar Rp30 jutanya nanti papa dapat lagi," jelas Raffi Ahmad.
Rafathar yang menyadari kesalahannya sempat enggan, namun akhirnya luluh dan bersedia ikut syuting sebagai bentuk tanggung jawab.
"Dia langsung terketuk kan hatinya. 'Ya udah pa mau'" kata Raffi Ahmad.
Tak hanya itu, Raffi Ahmad juga menjelaskan kepada Rafathar bahwa uang Rp30 juta bisa dimanfaatkan untuk berbagai hal yang lebih penting dan bermanfaat dibandingkan membeli kartu permainan.
"Saya bilang, Rp 30 juta itu bisa buat beli makan kita, bisa kasih ke anak yatim, bisa kita sumbangin dan lain-lain," jelasnya.
Raffi Ahmad menegaskan bahwa dalam mendidik anak, ia tidak ingin membuat mereka merasa bersalah secara berlebihan saat melakukan kesalahan. Menurutnya, yang terpenting adalah anak bisa memahami dan belajar dari pengalaman tersebut.
"Saat dia salah, kita nggak bikin dia merasa bersalah. Tapi kita bikin dia mengerti. Dan akhirnya dia sekarang mau. Dia jadi tahu rasa tanggung jawab," kata Raffi Ahmad.
Diketahui, peristiwa ini terjadi saat Rafathar berada di luar negeri, tepatnya di Singapura. Ia tanpa sengaja menghabiskan sekitar Rp30 juta untuk membeli beberapa set kartu koleksi, termasuk yang populer seperti Pokémon.
Hal ini dipicu karena kurangnya pemahaman mengenai perbedaan nilai mata uang, sehingga Rafathar tidak menyadari bahwa harga yang dibayarkan setara dengan jumlah besar dalam rupiah.
Raffi Ahmad pun menjadikan momen tersebut sebagai pembelajaran, bukan sekadar kesalahan. Ia melibatkan Rafathar dalam pekerjaan sebagai bentuk tanggung jawab, agar sang anak bisa memahami nilai uang dan konsekuensi dari setiap pengeluaran.
Kisah ini kemudian ramai diperbincangkan dan dianggap sebagai salah satu contoh pola asuh yang mengedepankan edukasi melalui pengalaman langsung, bukan sekadar teguran. (Tribunnewsmaker.com/Grid.ID/Fidiah Nuzul Aini)