Iran Tolak Damai Murahan Trump: Syaratkan Kompensasi Perang dan Hukuman Agresor
Budi Sam Law Malau March 24, 2026 11:35 AM

WARTAKOTALIVE.COM – Harapan Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang dengan Iran melalui 'kesepakatan cepat' yang disebutnya sedang terjadi, membentur tembok kokoh.

Meski Trump mengeklaim adanya kemajuan diplomasi, Teheran justru menegaskan bahwa perang hanya akan berakhir jika Amerika Serikat membayar kompensasi penuh atas kerusakan infrastruktur dan mencabut seluruh sanksi ekonomi Iran, tanpa syarat.

Iran meemastikan perang akan terus berkobar, karena bukan pihaknya yang memulainya tetapi AS.

Baca juga: Trump Mundur dari Ultimatum, Iran Siapkan Kejutan Serangan Mematikan, Diklaim Akan Guncang AS-Israel

Mohsen Rezaei, penasihat militer senior Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, dalam pidato televisinya pada Senin (23/3/2026), menegaskan bahwa militer Iran tetap dalam posisi tempur penuh.

Ia menepis klaim Trump tentang pembicaraan produktif dan menyebutnya sebagai upaya sepihak AS yang mulai menyadari kebuntuan militer dan merasa tak mungkin mengalahkan Iran.

"Kita melihat bahwa angkatan bersenjata kita melakukan operasi dan aktivitas dengan kuat," kata Rezaei.

Karenanya menurut Rezaei, perang akan berhenti jika semua kompensasi yang dituntut Iran diberikan dan ada sanksi kuat bagi agresor.

"Kami menuntut jaminan internasional yang mengikat secara hukum untuk mencegah campur tangan AS di masa depan," tegas Rezaei.

Senada dengan itu, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf melalui unggahan di X menuntut hukuman yang lengkap dan penuh penyesalam bagi para agresor.

Ini adalah sebuah pernyataan yang menutup pintu bagi negosiasi AS yang dianggap merugikan kedaulatan Iran.

TRUMP TUNDA SERANGAN - Foto ilustrasi diolah dengan menggunakan AI: Harapan dunia untuk menghindari 'Kiamat Energi' akhirnya menemui titik terang. Presiden Amerika Serikat  (AS), Donald Trump, secara mengejutkan mengumumkan, Senin (23/3/2026) melakukan penundaan serangan militer terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari ke depan.
TRUMP TUNDA SERANGAN - Foto ilustrasi diolah dengan menggunakan AI: Harapan dunia untuk menghindari 'Kiamat Energi' akhirnya menemui titik terang. Presiden Amerika Serikat  (AS), Donald Trump, secara mengejutkan mengumumkan, Senin (23/3/2026) melakukan penundaan serangan militer terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari ke depan. (ist)

Ancaman di Jantung Teluk: Kendali Selat Hormuz

Di tengah laporan intelijen AS bahwa Iran mulai memasang ranjau di Selat Hormuz, juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaghari memberikan bantahan telak namun bernada mengancam.

Ia mengeklaim Teheran memiliki kendali penuh dan kuat atas Teluk Persia hingga perairan Oman tanpa perlu memasang ranjau.

"Dominasi kami sudah cukup kuat. Kami akan menggunakan segala cara untuk memastikan keamanan, dan negara luar tidak berhak ikut campur," ujar Zolfaghari.

Selat Hormuz merupakan urat nadi energi dunia di mana 20 persen pasokan minyak global melintas. Ketegangan di jalur ini telah membuat pasar energi dunia berada dalam kondisi "siaga satu".

Israel Gempur Program Nuklir, Trump Tunda Serangan

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu justru menunjukkan sikap kontradiktif dengan Trump.

Meski mengaku berkomunikasi dengan Trump, Netanyahu menyatakan Israel akan terus menggempur Iran dan Lebanon.

Ia bahkan mengeklaim telah melenyapkan dua ilmuwan nuklir Iran baru-baru ini.

Baca juga: Kiamat Energi Kembali Bayangi Dunia: Iran Bantah Dialog Damai Trump, Israel Gempur Jantung Teheran

"Kami sedang menghancurkan program rudal dan nuklir mereka," kata Netanyahu.

Ia melihat peluang untuk mengubah pencapaian militer menjadi kesepakatan yang melindungi "kepentingan vital" Israel, namun tetap mempertahankan agresivitas di lapangan.

Di sisi lain, Trump yang sebelumnya mengancam akan membom pembangkit listrik Iran dalam 48 jam, kini memilih menunda serangan tersebut selama lima hari.

Trump mengeklaim Iran hampir setuju untuk menghentikan pengayaan uranium, sebuah klaim yang langsung dibantah mentah-mentah oleh Kementerian Luar Negeri Iran sebagai "distorsi realitas."

Mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya, Fars mengatakan Trump telah menarik kembali ancamannya setelah mendengar bahwa Iran akan merespons dengan menyerang semua pembangkit listrik di wilayah tersebut.

Kementerian Luar Negeri Iran kemudian mengatakan pada hari Senin bahwa meskipun menteri luar negeri telah menerima pesan melalui negara-negara sahabat tentang permintaan dari AS untuk pembicaraan, tidak ada yang terjadi sejak awal perang.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.