Gelagat Fuad WN Irak Usai Bunuh Cucu Mpok Nori, Panik Bawa Karpet Korban Kabur, Terekam CCTV
Weni Wahyuny March 24, 2026 01:01 PM

 

TRIBUNSUMSEL.COM - Rashad Fouad Tareq Jameel alias Fuad, seorang Warga Negara (WN) Irak tertangkap kamera CCTV berlari membawa gulungan karpet merah setelah membunuh cucu Mpok Nori, Dwintha Anggary.

Menurut pengakuan Fuad, aksinya membawa karpet itu tak memiliki tujuan apa pun.

"Pada saat selesai dia membunuh korban, dia takut dan panik sehingga dia membawa karpet itu. Sebenarnya tidak ada tujuan spesifik untuk apa,” ungkap Panit 2 Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya, AKP Fechy J. Ataupah kepada wartawan, Senin (23/3/2026), dikutip Kompas.com.

Dari kontrakan korban, dia juga membawa kabur paspor dan ponsel korban.

Sementara pisau yang digunakannya untuk membunuh korban ditinggalkan di atas tumpukan sepatu.

AKP Fechy J. Ataupah mengatakan, pisau berlumur darah itu ia tinggalkan di atas tumpukan sepatu.

“Ditaruh aja gitu di atas,” ungkap Fechy.

Fuad juga meninggalkan bajunya yang ikut terkena darah dari leher korban.

Kedua barang bukti itu kini diamankan oleh kepolisian.

Baca juga: Tabiat Fuad WN Irak Bunuh Cucu Mpok Nori Dibongkar Keluarga Korban, Kerap Cemburu dan Mengekang

Fechy mengatakan, Fuad mengambil ponsel milik Dwintha karena diyakini menyimpan bukti tuduhan perselingkuhan.

Ponsel itu disita kepolisian bersama dengan paspor korban yang dibawa Fuad dalam percobaan pelariannya ke Pulau Sumatera.

“Jadi katanya selain melihat tertangkap basah bersama pria lain, ada juga foto mesra. Cuma HP korban sampai saat ini belum kami buka karena tidak ada yang tahu password-nya,” jelas Fechy.

Sementara, terkait dugaan perselingkuhan, selanjutnya polisi akan mengonfirmasi kepada pihak keluarga yang rencananya akan dipanggil pekan ini.

Kini Fuad telah ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan dengan Pasal 458 subsider Pasal 468 KUHP dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

Tabiat Fuad

Sementara, Dian Puspitasari (40), kakak kandung Dwintha mengungkapkan sikap kerap cemburu sejak korban aktif bekerja dan memiliki banyak relasi, terutama dengan rekan kerja laki-laki.

"Semenjak Anggi kerja, banyak teman, kan rata-rata temannya cowok juga, nah di situ dia cemburu," ujar Dian kepada Kompas.com saat ditemui di lokasi, Minggu (22/3/2026).

Menurut Dian, Dwintha merupakan sosok yang mudah bergaul, dan hal ini diduga menjadi salah satu pemicu kecemburuan pelaku. "Ya mungkin dia cemburunya di situ," ucapnya.

Dian menilai pelaku memiliki sifat cemburuan dan cenderung membatasi ruang gerak korban selama menjalin hubungan.

"Dia agak cemburuan. Jadi kalau orang Irak modelnya 'Kamu mau apa saja saya kasih, tapi kalau untuk pegang duit saya enggak kasih'," ujarnya.

Dian mengungkapkan, pelaku sempat melakukan percobaan bunuh diri setelah ditolak rujuk oleh korban. Pelaku diduga mengalami tekanan emosional karena keinginannya untuk kembali menjalin hubungan tidak direspons.

"Sempat mau bunuh diri tapi enggak berani. Cuma sayat-sayat tangan doang. Itu karena dia pengin balik dan merasa bersalah sama adik saya," kata Dian.

Ia menambahkan, pelaku terus berupaya mengajak korban rujuk, namun tidak mendapat tanggapan.

"Kalau yang saya lihat ya, mungkin almarhumah diajak terus-menerus balikan. Dia ngomongnya 'Anggi cinta sejati' apa segala macam," ujarnya.

Hubungan keduanya, lanjut Dian, telah berakhir setelah pelaku menjatuhkan talak kepada korban pada malam Nisfu Syakban atau sekitar awal Februari 2026.

"Namanya kalau nikah siri ditalak kan sudah selesai," kata Dian.

Meski telah berpisah, pelaku diketahui masih berada di sekitar lingkungan korban. Bahkan, ia menyewa kontrakan tidak jauh dari tempat tinggal korban.

"Dikiranya pihak suaminya sudah pergi jauh, soalnya sempat kabur beberapa minggu. Enggak tahunya dia ngontrak di depan Gang Daman sini. Masih dekat dari kontrakan adik saya," ujar Dian.

Ia mengungkapkan, pelaku diduga kerap memantau aktivitas korban, bahkan mengikuti tanpa disadari.

"Terakhir itu saya mau ke pasar hari Kamis, papasan sama saudara saya. Ternyata dia (pelaku) ada di belakang. Dan kita tidak sadar diikuti," ucapnya.

Dian juga menyebut pelaku sering berada di sekitar lokasi korban beraktivitas, termasuk saat korban pulang bekerja pada malam hari.

"Adik saya juga kalau pulang dari MBG kan malam, dia (pelaku) jagain di es kelapa depan ini. Emang dipantau terus," tuturnya.

Dian menambahkan, komunikasi terakhir dengan korban terjadi pada Kamis malam sekitar pukul 21.30 WIB.

“Nah, pas hari Jumat memang kita tidak ketemu, karena kan itu pada sibuk masing-masing mau Lebaran,” ujarnya.

Aksi pelaku terekam kamera pengawas (CCTV) di sekitar lokasi. Dalam rekaman tersebut, pelaku terlihat mondar-mandir sebelum melancarkan aksinya.

“Tersangka sempat bolak-balik mantau pakai motor. Nah, di atas jam dua belas itu dia balik lagi bawa karpet, gagang pacul, sama lakban,” ungkap Dian.

Pelaku Sempat Akhiri Hidup

Panit 2 Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya, AKP Fechy J. Ataupah, mengatakan pelaku bernama Rashad Fouad Tareq Jameel alias Fuad itu juga sempat melarikan diri ke Bogor sebelumnya.

Namun, Fuad yang berkewarganegaraan Irak tersebut kemudian mengurungkan niatnya.

“Dia memang sempat mau bunuh diri, tapi diurungkan, kemudian dia memilih untuk pergi ke Pulau Sumatera,” ungkap Fechy kepada wartawan, Senin (23/3/2026).

Fechy menjelaskan, Fuad tidak memiliki tujuan spesifik di Sumatera. Ia berangkat menggunakan bus dari kawasan Ciledug, Tangerang, untuk menjauh dari lokasi kejadian perkara (TKP) dan menghilangkan jejak.

“Kalau ke Sumatera enggak ada kenalan, random. Dia berusaha menjauh dari TKP,” ujar Fechy.

Belum diketahui alasan Fuad sempat berniat mengakhiri hidupnya.

Namun, Fechy menyebut Fuad mengalami penyesalan setelah melakukan pembunuhan terhadap Dwintha.

Pelarian Fuad berakhir di ruas Tol Tangerang–Merak tak lama setelah jasad Dwintha ditemukan pada Sabtu (21/3/2026).

Saat ini, Fuad telah berstatus sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan tersebut dan terancam hukuman penjara hingga 15 tahun. Polisi juga tengah berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Imigrasi dan Kedutaan Besar Irak untuk proses hukum lebih lanjut.

Penemuan bermula saat ibu dan adik korban hendak membangunkannya. Karena tidak ada respons, sang adik mencoba masuk melalui jendela yang terbuka dan menemukan korban telah meninggal.

"Korban ditemukan meninggal dunia di lantai dengan kondisi di lantai dan kasur terdapat darah mengering,” ujar Kepala Subdit Resmob Polda Metro Jaya, AKBP Ressa Fiardi Marasabessy, dalam keterangannya, Sabtu.

Menurut keterangan keluarga, Fuad yang merupakan warga negara Irak sempat beberapa kali terlihat di sekitar lokasi rumah korban sehari sebelum kejadian.

Jenazah korban sempat dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk dilakukan autopsi sebelum dimakamkan di TPU Pondok Ranggon.

Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.