BMP RI Papua Tengah Kecam Aksi Kekerasan TPNPB-OPM di Maybrat
Marius Frisson Yewun March 24, 2026 03:12 PM

 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Calvin Louis Erari

TRIBUN-PAPUA.COM, NABIRE - Eskalasi konflik bersenjata di wilayah Provinsi Papua Barat Daya kembali memanas.

Menyikapi hal itu, Wakil Ketua Barisan Merah Putih Republik Indonesia (BMP RI) Provinsi Papua Tengah, Samuel Sauwyar angkat bicara.

Ia mengecam aksi serangan brutal yang dilakukan oleh kelompok Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) di Kabupaten Maybrat.

Menurut kronologis, insiden berdarah tersebut terjadi pada Minggu (22/3/2026) sekitar pukul 07.00 WIT.

Baca juga: Mimika Masuki Pancaroba, Warga dan Nelayan Diminta Waspadai Cuaca Ekstrem

Kontak tembak pecah di Kampung Sori, Distrik Aifat Selatan, Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya.

Dalam peristiwa ini, diduga dua prajurit TNI Angkatan Laut (TNI-AL) dinyatakan gugur di medan tugas.

​Identitas korban yang gugur adalah Prada Marinir Andi Suvio dari Yonmar 7 dan Prada Marinir Elki Saputra dari Yonmar 10.

Selain korban meninggal dunia, satu prajurit lainnya bernama Kopda Marinir Eko Sutikno dari Yonmar 7, dilaporkan dalam kondisi kritis, dan saat ini telah mendapat penanganan medis di Rumah Sakit Angkatan Laut (RSAL) dr. R. Oetojo Sorong.

Baca juga: Koalisi Penegak Hukum dan HAM Papua: Pembangunan Markas TNI di Biak Memicu Konflik Agraria

Diduga juga, kelompok penyerang merampas dua pucuk senjata api milik prajurit sebelum melarikan diri ke hutan.

Wakil Ketua BMP RI Papua Tengah, Samuel Sauwyar mengatakan, tindakan tersebut bukan lagi sekadar gangguan keamanan biasa, melainkan aksi teror bersenjata yang merongrong kedaulatan negara.

​Untuk itu dengan tegas dia mengecam keras tindakan yang dilakukan kelompok bersenjata.

Menurut dia, tidak boleh ada ruang bagi kelompok bersenjata untuk berkembang di tengah kehidupan masyarakat.

"Ini adalah ancaman serius terhadap stabilitas keamanan dan keselamatan publik," kata Samuel dalam keterangan tertulisnya yang diperoleh Tribun-Papua.com, di Nabire, Selasa (24/3/2026).

​Selain itu Samuel juga menyoroti pola serangan yang semakin terorganisir sejak awal tahun 2026 di wilayah Maybrat dan Tambrauw.

Baca juga: Albert Yoku: Pembangunan Infrastruktur di Papua Harus Menyentuh Level Distrik

Menurut dia, kelompok ini tidak hanya menyasar aparat keamanan, tetapi juga tenaga kesehatan dan warga sipil, yang menunjukkan meluasnya spektrum ancaman di Papua Barat Daya.

Untuk itu Samuel mendesak, pemerintah dan aparat penegak hukum untuk mengambil langkah cepat, tegas dan terukur.

​Dia bilang penegakan hukum harus menjadi landasan utama dan maksimal untuk memutus rantai kekerasan ini.

"Kami juga meminta masyarakat untuk tetap tenang namun waspada, serta aktif berperan dalam menjaga situasi kondusif di lingkungan masing-masing," tandasnya.

Samuel berharap peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya persatuan seluruh elemen masyarakat dalam menghadapi aksi terorisme di tanah Papua.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.