TRIBUNJATIM.COM - Presiden AS Donald Trump mengumumkan adanya sosok baru yang akan menggantikan dinasti dari keluarga Kamenei yang ramai dibicarakan di Iran.
Nama Mohammad Bagher Ghalibaf mencuat di tengah eskalasi konflik Iran dengan Amerika Serikat setelah muncul laporan bahwa ia menjadi sosok kunci dalam komunikasi tidak langsung dengan Washington.
Presiden AS Donald Trump menyebut tengah menjalin komunikasi dengan “tokoh paling dihormati” di Iran, meski tidak menyebut nama.
Sejumlah media kemudian mengaitkan sosok tersebut dengan Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran yang memiliki latar belakang militer kuat.
Laporan Politico bahkan menyebut adanya pertimbangan Gedung Putih untuk menjadikan Ghalibaf sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru.
Mohammad Bagher Ghalibaf merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam politik Iran saat ini.
Lahir pada 1961, ia memulai kariernya di Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) sejak awal berdirinya pada 1980.
Selama perang Iran-Irak, ia naik cepat dalam struktur militer dan menjadi salah satu komandan penting.
Ia kemudian menjabat sebagai Komandan Angkatan Udara IRGC, sebelum ditunjuk oleh Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei sebagai Kepala Kepolisian Iran.
Baca juga: Israel Mulai Miskin, Kini Gunakan Senjata yang Usianya Setengah Abad Demi Ngirit Biaya Perang
Dalam karier sipil, Ghalibaf pernah menjabat sebagai Wali Kota Teheran selama bertahun-tahun dan kini menjadi Ketua Parlemen Iran sejak 2020.
Ia juga beberapa kali mencalonkan diri sebagai presiden, meski selalu gagal memenangkan pemilu.
Seorang peneliti senior, Dr Raz Zimmt, menyebut Ghalibaf sebagai figur “orang dalam” yang kuat.
“Ia adalah ‘orang dalam’ dengan cara yang jarang dimiliki politisi lain,” katanya.
“Tidak seperti moderat sipil, Ghalibaf memiliki koneksi dengan (Qasem) Soleimani, yang memberinya kredibilitas di IRGC.”
Meski demikian, reputasinya tidak lepas dari kontroversi.
Ia kerap dituduh terlibat dalam kasus korupsi saat menjabat wali kota, meski juga dipuji sebagai sosok “konservatif pragmatis” yang mampu mengelola birokrasi kompleks.
Di tengah konflik yang memanas sejak akhir Februari, Ghalibaf disebut memainkan peran penting dalam pengambilan keputusan strategis Iran.
Sejumlah pejabat Iran menyebut ia ikut mengisi kekosongan kepemimpinan setelah tokoh-tokoh penting tewas dalam serangan militer.
Selain itu, ia juga dipandang sebagai figur yang berpotensi menjembatani aparat keamanan garis keras Iran dengan pendekatan negosiasi yang diinginkan AS.
Namun, retorika kerasnya terhadap Barat tetap terlihat. Dalam sebuah pernyataan terbaru, ia menyebut bahwa tidak hanya pangkalan militer, tetapi juga entitas finansial yang mendanai militer AS dapat menjadi target sah.
Baca juga: Pemudik Malah Tersesat di Hutan usai Nekat Ambil Jalan Pintas Rekomendasi Aplikasi Peta
Sementara itu, Presiden Donald Trump sebelumnya menyampaikan bahwa perubahan besar dalam kepemimpinan Iran kemungkinan akan terjadi dalam waktu dekat.
Presiden AS itu mengatakan akan ada "perubahan rezim yang sangat serius" di Iran. Ia juga mengeklaim proses tersebut sudah mulai berlangsung seiring melemahnya struktur kepemimpinan lama.
“Mereka benar-benar baru memulai. Secara otomatis akan terjadi perubahan rezim, tetapi kita berurusan dengan beberapa orang yang menurut saya sangat masuk akal, sangat solid,” katanya.
Laporan tersebut juga mengungkap bahwa Trump disebut tidak ingin menyerang Pulau Kharg, yang merupakan pusat utama ekspor minyak Iran.
Hal ini karena ia berharap pemimpin berikutnya akan membuat kesepakatan mengenai minyak yang mirip dengan yang dibuat oleh Presiden interim Venezuela saat ini.
Seorang pejabat menyebut pendekatan yang diinginkan Trump menyerupai skenario di Venezuela, ketika Wakil Presiden Delcy Rodriguez mengambil alih peran penting setelah Presiden Nicolas Maduro ditangkap.
“Ini semua tentang menempatkan seseorang seperti Delcy Rodriguez di Venezuela yang kita katakan, ‘Kami akan mempertahankan Anda di sana. Kami tidak akan menyingkirkan Anda. Anda akan bekerja sama dengan kami. Anda akan memberi kami kesepakatan yang baik, kesepakatan pertama tentang minyak,’” kata pejabat itu.
Namun, beberapa sekutu Gedung Putih skeptis terhadap keinginan AS untuk memilih pemimpin Iran berikutnya seperti yang dilakukannya terhadap Rodríguez di Venezuela.
“Sepertinya hanya gertakan, seolah-olah dia mencoba mewujudkan sesuatu dengan kata-kata,” kata seseorang yang dekat dengan tim keamanan nasional presiden.
“Iran telah membuktikan bahwa mereka dapat menerima pukulan dan tetap mempersulit kita. Mereka tidak akan begitu saja menyerah dan memberikan minyak mereka kepada Trump," imbuhnya.