Lebaran di Amerika, Ibu Detti Bawa Bumbu Rendang, Opor hingga Lontong Instan, Sholat Eid Terasa Beda
Ignatia Andra March 24, 2026 05:14 PM

 

TRIBUNJATIM.COM - Detti Fitrianti, warga Bekasi menjalankan Lebaran dengan penuh warna berbeda tahun ini.

Hari Raya Idul Fitri kerap identik dengan pulang ke kampung halaman bertemu orang tua dan larut dalam suasana yang hangat serta akrab bersama keluarga besar.

Namun bagi Detti Fitrianti, warga Bekasi, Lebaran tahun ini ia menjalani libur lebaran di Amerika Serikat.

Detti Fitrianti menjemput kebersamaan ke Amerika Serikat, tepatnya di Plano, Dallas, di mana sang anak kini menetap.

“Karena rumah orang tua saya dan saudara-saudara lainnya berdekatan dengan tempat tinggal saya. Lebaran tahun ini saya memutuskan untuk visit anak saya yang menikah sama citizen US tapi asli dari Pakistan,” ujarnya kepada Kompas.com, Senin (23/3/2026) malam, dikutip TribunJAtim.com, Selasa (24/3/2026).

Lebaran penuh persiapan

Keputusan itu membuatnya harus berangkat lebih awal.

Sejak H-10 Lebaran, ia sudah meninggalkan Indonesia, membawa rindu sekaligus persiapan yang tidak biasa.

Baginya, Lebaran tanpa masakan khas Indonesia terasa belum lengkap.

Karena itu, ia membawa sendiri bumbu-bumbu dari Tanah Air, sesuatu yang menurutnya sederhana, tetapi penuh makna.

“Saya sudah menyiapkan bumbu-bumbu buat masak masakan khas Indonesia saat Lebaran. Walaupun di sini juga ada yang jual tapi tidak semua merek yang saya mau ada,” kata perempuan yang biasa disapa Detti itu.

Dapur jadi ruang nostalgia

Pada hari terakhir Ramadhan, dapur rumah anaknya berubah menjadi ruang nostalgia.

Ia memasak hidangan yang biasa tersaji saat Lebaran di Indonesia.

“Saya masak rendang, opor, kentang balado, sayur labu siam, bakwan dan krupuk, serta lontong instant yang tinggal rebus. Jadi buat makan buka puasa terakhir Ramadhan dan sebelum menjalankan shalat Eid,” imbuhnya.

Aroma masakan itu bukan sekadar hidangan, melainkan caranya menghadirkan suasana rumah meski berada ribuan kilometer jauhnya.

Baca juga: Mangrove Gunung Anyar Jadi Alternatif Libur Lebaran Warga Surabaya yang Tak ke Luar Kota

Lebaran dalam wajah yang beragam

Selama merayakan hari kemenangan, pengalaman yang paling membekas bagi perempuan asal Bekasi itu datang saat mengikuti shalat Idul Fitri.

Berbeda dengan di Indonesia, pelaksanaan ibadah di sana dibagi menjadi 3 kloter dengan imam yang berbeda karena banyaknya jemaah dan terbatasnya masjid.

“Banyaknya kaum muslim di sini dari berbagai negara lain. Seperti Timur tengah, Afrika dan Asia dan masih banyak lagi negara lain yang stay di sini. Waktu sholat ied ini saya ambil kloter ke 3 di jam 11 pagi karena mau langsung cari lunch di luar sekitar masjid,” tuturnya.

Selama di IANT masjid, ia menyaksikan keberagaman yang begitu nyata, bukan hanya dari asal negara, tetapi juga dari cara merayakan.

“Saya sedikit shock saat masuk area masjid dengan melihat pemandangan orang-orang dari negara yang (maaf) berkulit hitam," kata Detti Fitrianti.

"Mereka pakaiannya sangat mencolok mulai dari warna dan makeup-nya. Menurutnya dandan seperti itu karena sangat antusias menyambut Lebaran. Selain itu setelah sholat ied itu banyak yang membagikan snack setelah shalat,” sambungnya.

Sederhana namun tetap hangat menjaga silaturahmi dari jarak jauh

Setelah rangkaian ibadah selesai, ia dan keluarganya kembali ke rumah. Tidak ada tradisi berkeliling seperti di Indonesia, tidak ada kunjungan ke banyak kerabat.

“Setelah makan siang kita balik ke rumah untuk salam-salaman sekeluarga dan pembagian THR. Karena tidak ada kenalan lain di sini jadinya kita tidak keliling. Karena kebetulan anak baru menikah setahun,” ujar perempuan berusia 41 tahun itu.

Meski sederhana, momen itu tetap terasa utuh. Kebersamaan dalam lingkup kecil justru menghadirkan kehangatan yang berbeda lebih tenang, lebih intimate.

Apalagi perbedaan waktu di Negeri Paman Sam lebih lambat sekitar 12 hingga 17 jam daripada Indonesia. Ini membuat Lebaran di kedua negara itu tidak berlangsung bersamaan, ia pun merasakan perbedaan suasana yang cukup kontras.

“Malamnya kita bersilaturahmi sama keluarga Indonesia lewat video call meskipun mereka telah merayakan ldul Fitri lebih awal,” kata Detti.

“Ya perbedaan dengan Lebaran di Indonesia dan di sini tentu saja tidak semeriah negara sendiri karena tidak denger malam takbiran. Dengar takbir hanya sekitar masjid saja,” pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.