TRIBUNJAKARTA.COM, KEBAYORAN LAMA - Mantan suami siri berinisial RTFJ (49) yang menghabisi nyawa cucu seniman Betawi legendaris Mpok Nori, Dewhinta Anggary (37), sempat membawa handphone korban selama pelariannya.
Pelaku yang merupakan warga negara asing (WNA) asal Irak mengklaim bahwa di HP tersebut terdapat bukti perselingkuhan korban.
"Jadi alasan pelaku membawa ponsel korban karena menurut dia di situ ada bukti perselingkuhan si korban," kata Panit 2 Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKP Fechy J Ataupah, Selasa (24/3/2026).
Berdasarkan keterangan pelaku, terdapat beberapa foto mesra korban dengan pria lain di HP tersebut.
Namun, hingga kini klaim tersebut belum terbukti karena tak ada yang mengetahui password ponsel korban.
"Jadi katanya selain melihat tertangkap basah berdua sama pria lain, ada juga foto mesra katanya seperti itu. Cuma HP korban sampai saat ini belum kami buka karena tidak ada yang tahu password-nya," ujar Fechy.
Adapun korban ditemukan tewas di rumah kontrakannya di kawasan Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur, Sabtu (21/3/2026) dini hari.
Beberapa hari sebelum kejadian, hubungan pelaku dan korban sudah tidak harmonis. Mereka kerap terlibat pertengkaran yang dipicu rasa cemburu pelaku terhadap korban.
"Beberapa hari belakangan terjadi cekcok, sering ribut karena pelaku cemburu dengan korban yang diduga memiliki hubungan dengan laki-laki lain," kata Fechy.
Pada 20 Maret 2026, pelaku melihat korban sedang berjalan bersama pria lain saat menghadiri acara bazar Ramadan.
Ketika itu pelaku sempat menghampiri dan mempertanyakan hubungan tersebut. Namun, pria yang bersama korban memilih untuk pergi.
Dari peristiwa tersebut, pelaku dan korban sempat terlibat pertengkaran di lokasi bazar sebelum akhirnya berpisah.
"Sempat didatangi, ditanya, tapi si prianya pergi. Dia (pelaku) kemudian ributlah dengan korban. Setelah dari situ, pergi, berpisah mereka di Bazar," ungkap Fechy.
Malam harinya, pelaku mendatangi kos korban. Pelaku pun mendapati korban berada di dalam kamar bersama pria yang sebelumnya ditemui di bazar.
Pelaku dan korban kembali terlibat cekcok mulut. Korban pun mengusir pelaku dari rumah kontrakannya.
"Pelaku pun pulang ke kosnya. Di kosnya dia merenung, emosinya sudah tidak tertahan, dia kembali lagi ke kos korban," ujar Fechy.
Saat kembali ke kontrakan korban untuk kedua kalinya, pelaku sudah membekali diri dengan sebilah pisau yang dibawa dari indekosnya.
Setibanya di lokasi, pelaku masuk ke dalam kamar dan kembali terlibat pertengkaran hebat dengan korban. Pelaku kemudian mulai melakukan kekerasan fisik termasuk mencekik leher korban.
Korban disebut sempat melakukan perlawanan. Namun pelaku langsung mengambil pisau dan menganiaya korban hingga tewas.
"Di sana dia masuk, terjadi pertengkaran, pelaku sempat mencekik korban. Kemudian karena korban berusaha memberontak, pelaku akhirnya mengambil pisau dan menganiaya korban," kata Fechy.