TRIBUNNEWS.COM – Manchester United menghadapi tekanan finansial setelah sejumlah sponsor utama mulai mengakhiri kerja sama.
Klub berjuluk Setan Merah itu bahkan dilaporkan berpotensi kehilangan pemasukan hingga mendekati Rp1 triliun dari sektor komersial dalam periode terbaru.
Dalam laporan keuangan kuartal kedua, Manchester United mengonfirmasi adanya penurunan pendapatan komersial.
Salah satu penyebab utama adalah berakhirnya kerja sama sponsor perlengkapan latihan dengan Tezos yang bernilai sekitar £24 juta per musim.
Akibatnya, untuk pertama kalinya sejak musim 2021/2022, United menjalani musim tanpa sponsor di perlengkapan latihan, situasi yang sebelumnya juga terjadi setelah kerja sama dengan Aon berakhir.
Tak hanya Tezos, United juga terancam kehilangan pemasukan tambahan dari sponsor lengan baju.
Kerja sama dengan DXC Technology yang bernilai sekitar £20 juta per musim dijadwalkan berakhir pada akhir musim ini.
Selama empat tahun terakhir, DXC menjadi bagian penting dari identitas komersial klub, termasuk membantu pengembangan interaksi digital dengan para penggemar.
Jika kedua sponsor ini tidak segera tergantikan, total potensi kehilangan pendapatan bisa mencapai angka fantastis sebesar £44 juta (sekitar Rp995 miliar).
Baca juga: Pantang Mundur Manchester United Gaet Luis Enrique, Carrick Belum Bisa Tenang
Meski menghadapi tekanan, pihak Manchester United menegaskan bahwa klub masih menjadi daya tarik besar bagi sponsor global.
Dalam forum penggemar terbaru, juru bicara klub menyatakan:
“Kami tetap melihat performa komersial yang kuat. Kami adalah salah satu klub terbesar di dunia dan tetap menjadi proposisi menarik bagi sponsor dan mitra," tulis keterangan MU dikutip dari Manchester Evening News.
Klub juga mengklaim tengah melakukan pembicaraan aktif dengan berbagai brand internasional untuk menjalin kerja sama baru.
Penurunan pendapatan juga dipengaruhi oleh faktor performa tim.
Minimnya jumlah pertandingan di Old Trafford serta absennya United dari kompetisi Eropa musim ini turut menggerus pemasukan.
Sebagai contoh Liga Champions yang diperkirakan hadiahnya mencapai £3,8 miliar, dengan setiap klub yang berpartisipasi dalam fase liga mendapatkan £16,1 juta (sekitar Rp364 miliar) sebagai imbalan partisipasi, dikutip dari BBC.
Klub-klub mendapatkan tambahan £1,8 juta (sekitar 40 miliar) untuk setiap kemenangan dan £600.000 (sekitar Rp13,5 miliar) untuk setiap hasil imbang.
Di kompetisi domestik Premier League, performa tim juga belum sepenuhnya stabil.
Meski berada di peringkat ketiga di tabel klasemen Liga Inggris 2025/2026, MU meraih hasil yang berbeda dalam tiga laga terakhirnya.
Setelah dikalahkan Newcastle 2-1, MU bangkit dengan membungkam Aston Villa 3-1. Namun Setan Merah justru bermain imbang 2-2 kontra Bournemouth.
Sementara keputusan manajemen, termasuk pemecatan pelatih Ruben Amorim, turut menjadi perhatian suporter.
Pihak klub menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil demi meningkatkan peluang finis setinggi mungkin di klasemen.
Manchester United menegaskan komitmennya untuk tetap berinvestasi pada skuad dan fasilitas klub.
Namun di sisi lain, mereka juga menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan finansial di tengah tekanan inflasi dan peningkatan biaya operasional.
Dengan situasi ini, United kini berpacu dengan waktu untuk mengamankan sponsor baru agar tidak semakin tertinggal, baik secara finansial maupun prestasi di lapangan.
(Tribunnews.com/Ali)