Sosok Mohammad Bagher Ghalibaf Mencuat, Disebut Jadi Kandidat Pemimpin Baru Iran Versi Trump
Tim TribunTrends March 24, 2026 09:38 PM

TRIBUNTRENDS.COM - Nama Mohammad Bagher Ghalibaf mencuat di tengah memanasnya hubungan antara Iran dan Amerika Serikat. Ia disebut-sebut sebagai sosok yang dipertimbangkan dalam skenario perubahan kepemimpinan Iran yang belakangan ramai dibicarakan.

Sosok Kuat di Lingkar Dalam Iran

Mohammad Bagher Ghalibaf merupakan salah satu tokoh berpengaruh dalam politik Iran saat ini. Lahir pada 1961, ia mengawali kariernya di Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) sejak awal pembentukannya.

Karier militernya berkembang pesat, terutama saat perang Iran-Irak, hingga akhirnya ia dipercaya menjabat sebagai Komandan Angkatan Udara IRGC. Setelah itu, ia juga pernah ditunjuk sebagai Kepala Kepolisian Iran oleh Ali Khamenei.

Di ranah sipil, Ghalibaf pernah menjabat sebagai Wali Kota Teheran dan kini menjadi Ketua Parlemen Iran sejak 2020. Ia juga beberapa kali maju sebagai kandidat presiden, meski belum berhasil memenangkan pemilu.

Peran di Tengah Konflik Iran-AS

Di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat, Mohammad Bagher Ghalibaf disebut memainkan peran penting dalam pengambilan keputusan strategis Iran.

Sejumlah laporan menyebut ia menjadi salah satu figur yang terlibat dalam komunikasi tidak langsung dengan Washington. Hal ini membuat namanya dikaitkan dengan pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang mengaku tengah berhubungan dengan tokoh berpengaruh di Iran.

Meski demikian, sikap kerasnya terhadap Barat tetap terlihat. Dalam beberapa pernyataan, ia bahkan menyinggung kemungkinan target terhadap kepentingan Amerika jika konflik terus berlanjut.

Skenario Baru dari Washington

Donald Trump disebut tengah mempertimbangkan skenario perubahan kepemimpinan di Iran. Dalam sejumlah laporan, ia mengisyaratkan adanya peluang perubahan besar dalam struktur kekuasaan negara tersebut.

Ghalibaf dinilai sebagai figur yang memiliki keseimbangan antara latar belakang militer dan kemampuan politik. Ia juga dianggap mampu menjembatani kelompok garis keras dengan pendekatan yang lebih pragmatis.

Namun, wacana ini masih menuai skeptisisme dari berbagai pihak. Sejumlah pengamat menilai Iran bukan negara yang mudah dipengaruhi dari luar, sehingga skenario tersebut belum tentu dapat terwujud dalam waktu dekat.

Tribun Jatim | Ignatia | TribunTrends.com | Afif Muhammad

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.