Laporan The Economist Sebut RI Lebih Stabil Hadapi Krisis Energi, Pakar: Tapi Masyarakat Harus Bijak
Sanusi March 24, 2026 10:33 PM

 

 


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketahanan energi Indonesia belakangan ini mendapat perhatian dari dunia internasional.

Laporan terbaru The Economist menempatkan Indonesia sebagai negara dengan posisi lebih kuat dibanding sejumlah negara lain di kawasan, termasuk Vietnam.

The Economist adalah majalah mingguan internasional yang berbasis di London, Inggris, dan dikenal luas sebagai salah satu publikasi paling berpengaruh di dunia dalam bidang ekonomi, politik, dan hubungan internasional.

The Economist menyajikan analisis mendalam, laporan berbasis data, serta opini editorial mengenai isu-isu global, mulai dari kebijakan ekonomi, geopolitik, teknologi, hingga budaya.

Baca juga: DPR: Percepatan Pengembangan Blok Masela Penting untuk Ketahanan Energi Nasional

Dengan gaya penulisan yang ringkas, tajam, dan berbasis bukti, The Economist sering dijadikan rujukan oleh akademisi, pembuat kebijakan, dan pelaku bisnis untuk memahami tren serta dinamika global yang sedang berlangsung.

Penilaian The Economist

Laporan terbaru The Economist memang menempatkan Indonesia sebagai negara dengan ketahanan energi yang relatif lebih kuat dibanding Vietnam.

Dalam analisisnya, Indonesia digolongkan ke dalam kategori low exposure, strong buffer, yaitu negara dengan paparan risiko rendah namun memiliki bantalan kebijakan energi yang kokoh.

Hal ini membuat Indonesia dianggap lebih aman dari dampak krisis energi global, terutama di tengah eskalasi geopolitik di Timur Tengah.

Penilaian tersebut didasarkan pada kombinasi sumber daya energi domestik yang cukup besar serta kebijakan diversifikasi energi yang dijalankan pemerintah, mulai dari pengembangan energi baru dan terbarukan hingga dorongan penggunaan kendaraan listrik.

Dibandingkan Vietnam yang lebih rentan terhadap gangguan rantai pasok manufaktur global, Indonesia dinilai memiliki skor ketahanan energi lebih tinggi dan posisi strategis yang lebih stabil.

Meski demikian, Guru Besar Universitas Hasanuddin, Prof. Hamid Paddu, mengingatkan agar masyarakat tetap bijak dalam menggunakan energi, terutama menghadapi potensi dampak geopolitik jangka pendek.

Hamid menilai, laporan tersebut sejalan dengan kondisi nyata di dalam negeri. Indonesia dinilai memiliki stabilitas energi yang relatif aman, sehingga tidak terlalu terpapar risiko besar jika ketegangan di Timur Tengah berlanjut.

“Dalam jangka menengah, posisi kita lebih aman dibanding Vietnam. Namun tetap penting menjaga pola konsumsi energi agar tidak menimbulkan kerentanan baru,” ujarnya, dikutip Selasa (24/3/2026).

Ia menambahkan, langkah diversifikasi energi yang dilakukan pemerintah sudah berada di jalur yang tepat.

Upaya ini mencakup pengembangan energi baru dan terbarukan seperti panas bumi, tenaga surya, serta mendorong penggunaan kendaraan listrik. Pertamina juga aktif dalam pengembangan energi alternatif.

Selain itu, Indonesia memiliki cadangan minyak terbukti mencapai 4,4 miliar barel. Menurut Hamid, cadangan tersebut cukup untuk memperkuat ketahanan energi nasional hingga 10 tahun ke depan.

Dengan kondisi ini, ia menilai masyarakat tidak perlu khawatir, meski tetap harus bijak dalam pemakaian energi sehari-hari.

Antisipasi gangguan energi

Sebelumnya The International Energy Agency (IEA) atau Badan Energi Internasional, menyebut berbagai langkah antisipasi untuk menanggulangi gangguan pasokan energi.

Menurut IAE, 20 Maret 2026, upaya yang dapat dilakukan, antara lain dengan menurunkan permintaan. Upaya yang bisa dilakukan, dengan meminimalkan transportasi darat dan udara, bekerja dari rumah jika memungkinkan. Selain itu, juga melalui peralihan ke kompor listrik.

Baca juga: Di Forum Energi Indo-Pasifik, Bahlil Tegaskan Kolaborasi Jadi Kunci Ketahanan Energi

"Mengatasi permintaan adalah alat penting dan segera untuk mengurangi tekanan (pada) konsumen dengan meningkatkan keterjangkauan dan mendukung keamanan energi,” kata IEA.

Di sisi lain, sebelumnya media internasional asal Inggris, The Economist menilai, Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang paling aman dari dampak krisis energi global akibat eskalasi konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Posisi ini menempatkan Indonesia dalam kategori negara dengan paparan risiko rendah namun memiliki bantalan ketahanan yang kuat (low exposure, strong buffer).  

"Beberapa negara, termasuk Indonesia, tampak relatif terisolasi (dari dampak buruk) berkat perpaduan sumber daya energi domestik dan kebijakan bantalan yang kuat," tulis laporan terbaru The Economist bertajuk "Which country is the biggest loser from the energy shock".

Analisis tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki posisi strategis yang jauh lebih stabil dibandingkan negara tetangga seperti Vietnam.

Meski sama-sama berada di zona low exposure, Indonesia tercatat memiliki skor ketahanan (resilience score) yang lebih tinggi, mengungguli Vietnam yang lebih rentan terhadap gangguan rantai pasok manufaktur global. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.