Renungan Malam Matius 26:58, Jangan Menjauh dari Tuhan
Alpen Martinus March 24, 2026 11:22 PM

TRIBUNMANADO.CO.ID - Membaca dan merenungkan firman Tuhan setiap hari sangat baik untuk kesehatan rohani kita.

Baik dilakukan pagi dan malam hari.

Akan membuat kita semakin dekat dengan Tuhan.

Baca juga: Renungan Harian Kristen Hakim-hakim 6: 1-24, Pemimpin Cerdas dan Unik

Berikut renungan harian Kristen berjudul Jangan Menjauh dari Tuhan

Bacaan Aklkitab diambil dalam Matius 26:58.

Jika kita ditanya, siapa murid Yesus yang paling berani?

Pasti kita menjawab, "Simon Petrus!" Petrus yang juga disebut Kefas adalah satu-satunya murid yang pertama kali mengatakan bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah. 

Dia berkata kepada Yesus bahwa dia akan membela Yesus hingga titik darah yang terakhir. 

Dia mengatakan, sekalipun mati, dia akan tetap bersama-sama Yesus. 

Yesus membantah perkataan Petrus itu dan mengatakan bahwa, dia akan menyangkal Yesus 3 kali, sebelum ayam berkokok.

Perkataan Yesus itu terbukti. Meski dia turut diajak Yesus menemani Dia ketika berdoa di taman Getsemani dan sempat memotong telinga hamba Imam Besar yang menangkap Yesus, namun pada proses selanjutnya, Petrus bersama para murid lainnya sudah lari meninggalkan Yesus. 

Mereka tercerai berai, seperti yang dikatakan Yesus sebelumnya. 

Tak terkecuali si murid yang se sumbar akan terus bersama Yesus hingga mati sekalipun. 

Ya, Petrus meski tidak meninggalkan Yesus namun dia tetap melihat dan mengamat-amati dari jauh.

Dia tidak berani mendekat, sebab Yesus dianiaya sedemikian sadis. 

Antara tidak tega melihat penderitaan Yesus dan rasa takut dijadikan musuh bersama, maka Petrus memilih mengambil jarak dengan Yesus. 

Dia tidak meninggalkan Yesus, tapi hanya menjauh sedikit sambil tetap mengikuti pergerakan detik-detik penderitaan dan kesengsaraan Yesus menuju kematian yang mengerikan. 

Itu terjadi setelah Yesus dibawa dari taman Getsemani ke rumah Hanas, mertua imam Besar Kayafas dan selanjutnya diseret menuju halaman Imam Besar, untuk diadili di sana dengan pengadilan agama yang praktiknya adalah pengadilan rakyat yang kejam dan keji.

Itulah yang menyiutkan nyali Petrus. 

Tetapi dia penasaran untuk mengikuti bagaimana proses dan akhir dari kisah Yesus itu. 

Apalagi apa yang dialami Yesus itu semuanya sudah sesuai apa yang dikatakan-Nya kepada mereka, baik tentang penderitaan dan kematian-Nya, maupun kebangkitan-Nya dari antara orang mati, pada hari ketiga. 

Ini juga sesuai dengan nubuatan para nabi. 

Petrus memang masih mengasihi Yesus.

Maka dalam ketidakberdayaannya itu, dia tetap mengikuti proses dan keadaan Yesus. 

Dia masuk ke dalam halaman Imam Besar kemudian duduk di antara para pengawal. 

Dia ingin tahu kesudahan masalah yang dihadapi Yesus meski dari jarak yang jauh. 

Dia takut mendekat karena memang keadaan membuat dia takut. 

Sebab perlakuan kepada Yesus sangat tidak manusiawi. 

Demikian firman Tuhan hari ini.

Dan Petrus mengikuti Dia dari jauh sampai ke halaman Imam Besar, dan setelah masuk ke dalam, ia duduk di antara pengawal-pengawal untuk melihat kesudahan perkara itu. (ay 58)

Sahabat Kristus, keadaan Yesus yang sangat menderita, membuat Petrus takut mendekat.

Dia hanya melihat Yesus dari jauh. 

Dia memang mengasihi Yesus, tapi dia takut kehilangan nyawanya. 

Kata Yesus, siapa yang takut kehilangan nyawanya karena Aku, dia akan kehilangan nyawanya. 

Tetapi siapa yang kehilangan nyawanya karena aku, dia akan memperoleh hidup kekal. 

Maka janganlah menjauh dari Tuhan. 

Jangan takut dan ragu. 

Tetaplah dekat dengan Tuhan. 

Siapa yang dekat dengan Tuhan, pasti dirangkul-Nya, dikasihi dan disayang-Nya.

Kita digendong, dilindungi dan pasti diberkati-Nya. 

Sengsara Kristus mengajarkan kita bahwa setelah kita tahan uji dan tetap setia dalam kesusahan, kita akan menikmati mahkota kehidupan di bumi dan sampai kekal. Amin

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.