TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Keputusan pemerintah pusat membatalkan rencana pembelajaran daring (dalam jaringan) per April 2026 mendapat sambutan hangat dari kalangan orang tua siswa.
Sebagaimana diketahui, rencana tersebut sempat mencuat beberapa waktu lalu, sebagai bagian dari kebijakan efisiensi atau strategi penghematan energi yang tengah dikaji eksekutif.
Raihan, salah satu orang tua siswa di Yogyakarta, mengaku lega begitu mendengar pengumuman batalnya rencana pembelajaran daring oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK).
Sejak awal, ia menyebut, wacana tersebut tidak masuk akal, bahkan terkesan tidak ada korelasinya dengan upaya penghematan Bahan Bakar Minyak (BBM).
"Terus terang, heran banget kemarin ya, tiba-tiba muncul rencana sekolahnya mau dibikin online begitu," tandasnya, Rabu (25/3/26).
Bukan tanpa alasan, pria 40 tahun itu meyakini, pembelajaran daring tidak akan efektif, terutama untuk anak semata wayangnya yang kini masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).
Hal tersebut ia rasakan betul saat pandemi Covid-19 melanda beberapa tahun lalu, yang memaksa murid bersekolah dari rumah masing-masing
"Beda sama anak kuliahan, atau SMA lah, anak-anak SD masih susah nangkep (menyerap ilmu) kalau belajar daring begitu," ungkap Raihan.
Terlebih, kendala yang tak kalah pelik, ia dan istri sama-sama berstatus pekerja kantoran, sehingga jelas kelabakan ketika harus mengawasi anaknya sekolah secara online setiap harinya.
Oleh sebab itu, dirinya menaruh harapan besar agar pemerintah tidak lagi mengapungkan wacana yang membuat para orang tua di tanah air khawatir.
"Sudah, jangan mengada-ada. Kalau memang mau berhemat, ya MBG (Makan Bergizi Gratis) saja yang dievaluasi, jangan malah sekolahnya yang dibikin online," ungkapnya.
"Keinginan rakyat kan pendidikan murah, mudah diakses dan berkualitas. Kalau itu dibikin online, yang terjadi bukannya upgrade, malah downgrade," pungkas Raihan.