TRIBUNMANADO.CO.ID - Hanya 14 Persen Wilayah di Dunia yang Punya Udara Sehat Sesuai Pedoman WHO.
Udara bersih makin langka laporan terbaru menunjukkan hanya segelintir wilayah dunia yang benar-benar memenuhi standar kesehatan global.
Hanya 14 persen negara dan kota di dunia dengan kadar PM2.5 di udara sesuai pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), turun dari tahun sebelumnya yakni 17 persen, menurut laporan perusahaan pemantau udara, IQAir.
Baca juga: 5 Fakta Kebakaran Toko Bangunan El Jaya di Kauditan Minut, Awal Mula Api Hingga Total Kerugian
Adapun kadar PM2.5 yang diatur sebesar lima miligram per meter kubik (µg/m3).
Tim menganalisis data dari stasiun pemantauan di 9.446 kota di 143 negara, lalu menambahkan 12 negara dan wilayah yang tidak terhitung pada tahun lalu.
"Dibandingkan tahun sebelumnya, sebanyak 54 negara mengalami peningkatan rata-rata tahunan PM2.5, 75 negara mengalami penurunan, dan dua negara tidak berubah," tulis IQAir dalam keterangan resminya, Rabu (25/3/2026).
Wilayah mana saja yang paling tercemar?
Peneliti mencatat, hanya 13 negara dan wilayah yang memenuhi pedoman tahunan PM2.5 dari WHO, berdasarkan laporan tahunan ke-8 World Air Quality Report 2025.
Artinya, sebanyak 130 dari 143 negara, wilayah, dan teritori (91 persen) tidak memenuhi nilai pedoman tahunan WHO.
Eropa, Andorra, Estonia, dan Islandia termasuk wilayah dan negara yang memenuhi pedoman tahunan PM2.5 WHO.
Negara-negara lainnya yang masuk dalam kelompok yang sama, antara lain Australia , Barbados, Bermuda, Polinesia Prancis, Grenada, Kaledonia Baru, Panama, Puerto Riko, Réunion, dan Kepulauan Virgin AS.
Menurut laporan ini, 25 kota paling tercemar di dunia seluruhnya berada di India, Pakistan, dan China, dengan India menjadi lokasi tiga dari empat kota paling tercemar.
Kota besar paling tercemar di Amerika Serikat mencakup El Paso, Texas.
Tahun 2025 menjadi tahun kedua berturut-turut tidak ada kota di Asia Timur yang memenuhi pedoman PM2.5 WHO. Pola polusi di China menunjukkan pergeseran konsentrasi tinggi ke arah barat.
Eropa menunjukkan tren campuran, dengan 23 negara mengalami peningkatan PM2.5 dan 18 negara terjadi penurunan. Polusi musiman diperburuk oleh pembakaran kayu saat musim dingin, asap lintas batas dari kebakaran hutan Kanada, dan debu Sahara.
Di Amerika Latin dan Karibia, tren kualitas udara umumnya positif dengan 208 kota mengalami penurunan PM2.5, meningkat, dan sembilan kota lainnya tidak berubah.
Oseania tetap menjadi salah satu wilayah terbersih di dunia, dengan 61 persen kota memenuhi pedoman WHO, meskipun cuaca dingin ekstrem di New South Wales, Australia, pada Juni 2025 menyebabkan lonjakan musiman PM2.5.
Sementara itu, kebakaran hutan yang diperparah oleh perubahan iklim memainkan peran besar dalam memburuknya kualitas udara global pada 2025.
Emisi biomassa dari kebakaran di Eropa dan Kanada mencapai rekor, menyumbang sekitar 1.380 megaton karbon ke atmosfer.
Kanada menjadi tercemar daripada Amerika Serikat untuk kedua kalinya dalam delapan tahun laporan ini, akibat musim kebakaran hutan terburuk kedua dalam sejarah yang memengaruhi kualitas udara di Kanada, Amerika Serikat, serta sebagian Eropa.
Di Amerika Serikat, rata-rata PM2.5 tahunan meningkat menjadi 7,3 µg/m3, dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 7,1 µg/m3.
Berikut daftar wilayah yang memenuhi pedoman kualitas udara WHO (PM2.5):
Andorra
Estonia
Islandia
Australia
Barbados
Bermuda
Polinesia Prancis
Grenada
Kaledonia Baru
Panama
Puerto Riko
Réunion
Kepulauan Virgin AS
Total hanya 13 negara/wilayah di dunia yang memenuhi standar WHO, atau sekitar 14 % secara global menunjukkan udara bersih masih menjadi hal langka di sebagian besar dunia.
Perlunya pemantauan intensif
CEO Global IQAir, Frank Hammes berpandangan, kualitas udara memerlukan pengelolaan aktif untuk melindungi kesehatan masyarakat.
"Laporan ini menunjukkan bahwa tanpa pemantauan, kita tidak dapat sepenuhnya memahami apa yang kita hirup. Perluasan akses data real-time memungkinkan masyarakat untuk bertindak. Dengan mengurangi emisi dan mengatasi perubahan iklim, kita dapat mendorong perbaikan kualitas udara global yang berkelanjutan," jelas Hammes.
Laporan IQAir pun menekankan pentingnya memperluas jaringan pemantauan kualitas udara, terutama melalui sensor berbiaya rendah yang dapat memberdayakan masyarakat, peneliti, dan pembuat kebijakan dengan data yang dapat ditindaklanjuti.
"Pada tahun 2025, pelaku utama seperti pertanian industri, kebakaran hutan, dan bahan bakar fosil terlihat jelas dalam data global IQAir. Data yang terbuka dan transparan ini penting untuk menuntut pertanggungjawaban pencemar dan memastikan lingkungan yang sehat bagi semua," sebut ilmuwan Greenpeace Internasional, Aidan Farrow.
-
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini