BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - Sisa kelembaban tanah menjadi penentu. Menjelang musim kemarau 2026 yang diprediksi datang lebih awal, petani tanaman pangan di Kabupaten Tanahlaut (Tala) didorong berpacu dengan waktu untuk menanam sebelum lahan benar-benar mengering.
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (Distanhorbun) Tala H Fahrizal mengatakan pihaknya telah menyiapkan langkah strategis berbasis mitigasi dan adaptasi menyusul prakiraan BMKG yang menyebut kemarau mulai Mei dengan puncak kekeringan pada Agustus.
“Petani kami dorong mempercepat tanam pada April hingga Mei, memanfaatkan sisa air tanah. Targetnya, saat puncak kemarau, tanaman sudah memasuki masa panen,” ujarnya, Rabu (25/3/2026).
Dalam upaya menjaga pasokan air, Distanhorbun mengoptimalkan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan), khususnya pompa air yang telah diterima pada 2024–2025.
Pompanisasi digerakkan untuk menyedot air dari sungai maupun embung ke lahan sawah yang mulai mengering.
Pengelolaannya melibatkan Brigade Pangan, termasuk kelompok tani milenial, agar distribusi air tetap merata di lahan optimasi (oplah).
Selain itu, strategi budidaya adaptif diterapkan dengan mendorong penggunaan varietas padi tahan kekeringan, baik ungful maupun lokal.
Baca juga: Harga Emas Perhiasan 999 di Martapura Kalsel, Rabu 25 Maret 2026, Stagnan, Giliran Antam Melonjak
Percepatan jadwal tanam menjadi kunci. Dengan tanam lebih awal, panen diproyeksikan terjadi pada Juli–Agustus, sebelum dampak kekeringan mencapai puncaknya.
Manajemen sumber daya air juga diperkuat. Embung desa dimaksimalkan untuk menampung sisa air hujan, sementara sumur bor pertanian dioptimalkan penggunaannya.
Di sisi lain, normalisasi saluran irigasi dilakukan dengan membersihkan parit dan jalur air agar distribusi ke sawah tidak terhambat.
Kondisi kering juga berpotensi memicu lonjakan hama seperti wereng dan tikus. Karena itu, pengamatan oleh petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) ditingkatkan.
Sebagai langkah perlindungan, petani juga didorong mengikuti program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Skema ini diharapkan mampu menjadi penyangga jika terjadi gagal panen akibat kekeringan.
Upaya ini diperkuat melalui sosialisasi intensif lewat grup WhatsApp brigade pangan, penyuluh pertanian, hingga kelompok tani.
Distanhorbun juga menindaklanjuti dengan surat imbauan resmi kepada PPL, PPS, brigade pangan, serta gabungan kelompok tani (gapoktan).
Dengan rangkaian langkah tersebut, pemerintah daerah berharap produksi pangan di Tanahlaut tetap terjaga meski dihadapkan pada ancaman musim kering yang lebih panjang dan ekstrem.
(banjarmasinpost.co.id/banyu lamgit roynalendra nareswara)