TRIBUNGORONTALO.COM -- Perang antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat kini memasuki hari ke-25, dan Teheran menunjukkan sikap keras, tidak ada ruang untuk diplomasi.
Dalam wawancara eksklusif dengan India Today Global, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menuduh negaranya telah “ditipu, dibom, dan dikhianati” bahkan saat masih duduk di meja perundingan.
Baghaei mengungkap, Iran dan AS sebenarnya tengah menjalani proses diplomatik serius terkait kesepakatan nuklir, termasuk pembicaraan teknis di Wina.
Namun, serangan militer AS justru terjadi pada 28 Februari, dan kembali terulang pada Juni, hanya dua hari sebelum putaran negosiasi berikutnya.
Ia menyebut tindakan itu sebagai “pengkhianatan diplomasi” yang kini menjadi istilah umum di Iran.
Baca juga: Peringatan Dini BMKG Besok Kamis, 26 Maret 2026: Mayoritas Wilayah Berawan-Potensi Hujan Ringan
Di tengah serangan berkelanjutan ke kota-kota Iran, ketegangan di Selat Hormuz, hingga serangan rudal Tomahawk ke sebuah sekolah di Minab yang menewaskan lebih dari 170 anak, Iran menegaskan akan terus membela diri.
Teheran juga menuntut ganti rugi dan menyatakan ultimatum dari Washington sebagai indikasi niat melakukan kejahatan perang.
Tak Ada Negosiasi
Iran menegaskan tidak ada pembicaraan apa pun dengan AS selama 25 hari terakhir perang yang disebutnya ilegal. Pengalaman diserang saat negosiasi membuat Teheran menyatakan tidak lagi percaya pada diplomasi Washington.
Mediasi Diragukan
Upaya mediasi, termasuk melalui Oman dan negara lain, dinilai telah “dikhianati”. Iran menyebut sulit mempercayai tawaran damai dari pihak yang terus melakukan serangan.
Fokus Pertahanan
Seluruh sistem pemerintahan Iran kini diklaim solid dan terkoordinasi, dengan fokus utama mempertahankan kedaulatan negara dari serangan.
Respons terhadap India
Iran mengapresiasi hubungan baik dengan India, memastikan kapal-kapal India tetap bisa melintasi Selat Hormuz dengan aman, dan menegaskan India tidak terlibat dalam agresi.
Tudingan AS Dibantah
Iran menolak klaim “ancaman mendesak” sebagai alasan serangan. Teheran menyebut alasan AS berubah-ubah dan tidak berdasar, serta menegaskan program nuklirnya diawasi badan internasional.
Ketegangan Kawasan
Iran menuduh AS menggunakan pangkalan militer di negara Teluk untuk menyerang, sehingga menyeret kawasan ke dalam konflik. Teheran memperingatkan negara-negara tetangga agar tidak membiarkan wilayahnya digunakan.
Serangan ke Sekolah
Serangan dua rudal Tomahawk ke sekolah di Minab disebut sebagai kejahatan perang yang disengaja, dengan tujuan memaksimalkan korban sipil.
Tuntutan Ganti Rugi
Kerusakan miliaran dolar dan korban jiwa menjadi dasar Iran menuntut pertanggungjawaban penuh dari pihak penyerang.
Kesepakatan Nuklir Diragukan
Teheran pesimistis terhadap kebangkitan kembali kesepakatan nuklir, mengingat pengalaman sebelumnya yang berulang kali gagal akibat tindakan AS.
Selat Hormuz Dikontrol Ketat
Iran akan membatasi akses bagi kapal yang terkait dengan AS, Israel, atau sekutu mereka, sementara negara lain tetap diizinkan lewat dengan koordinasi.
Isu Perubahan Rezim
Iran menegaskan sistem pemerintahannya tetap stabil, Pemimpin Tertinggi dalam kondisi baik, dan rakyat bersatu menghadapi serangan.
Pesan untuk Dunia
Iran meminta negara-negara, termasuk India, untuk berdiri membela hukum internasional dan membantu meredakan konflik. (*)