TRIBUNPEKANBARU.COM, MERANTI – Gema takbir berkumandang. Rumah-rumah dipenuhi tawa dan peluk hangat keluarga.
Namun di sudut lain Kota Selatpanjang, suasana lebaran justru berjalan berbeda.
Seperti di Markas Komando (Mako) Pemadam Kebakaran Kepulauan Meranti, sejumlah petugas tetap bersiaga, menatap alat komunikasi yang sewaktu-waktu bisa berbunyi, memanggil mereka untuk bertugas.
Bagi para petugas Damkar, hari raya bukanlah waktu untuk sepenuhnya beristirahat.
Seragam tetap dikenakan, kendaraan disiapkan dan kewaspadaan tidak boleh surut.
Kabid Damkar Satpol PP dan Damkar Kepulauan Meranti, Nirwan, menegaskan bahwa profesi ini menuntut kesiapsiagaan tanpa henti.
“Menjadi petugas Damkar memang dipastikan akan tetap standby 24 jam. Kami harus selalu siap jika ada panggilan pertolongan maupun informasi kebakaran,” ujarnya.
Di tengah momen sakral Idulfitri, pembagian tugas tetap berjalan.
Sebagian petugas menjalani piket jaga, sementara lainnya mendapat kesempatan terbatas untuk berkumpul dengan keluarga.
Bahkan, kebersamaan itu pun seringkali harus terpotong oleh panggilan tugas.
Untuk menjaga keseimbangan, petugas nonmuslim ikut mengambil peran saat rekan mereka melaksanakan salat Id.
“Kami saling menggantikan. Tapi setelah itu, semuanya kembali standby. Tidak ada yang benar-benar lepas dari tanggung jawab,” kata Nirwan.
Hari kedua Lebaran menjadi salah satu momen yang cukup padat bagi petugas.
Sejumlah laporan masuk hampir tanpa jeda.
Mulai dari kebakaran lahan di sekitar kota hingga evakuasi hewan seperti ular yang masuk ke rumah warga.
Dalam satu kejadian, tim harus bergerak cepat menuju lokasi kebakaran lahan yang jaraknya cukup jauh dari permukiman.
Akses jalan yang sempit dan terbatas membuat armada tidak bisa masuk sepenuhnya, sehingga petugas harus mencari cara agar tetap bisa menjangkau titik api sebelum merambat lebih luas.
Di lapangan, tantangan tidak hanya soal api, tetapi juga kondisi yang serba terbatas. Waktu istirahat nyaris tidak ada.
Para petugas kerap hanya “tidur ayam”, karena setiap saat bisa terbangun oleh dering telepon darurat.
Bahkan saat malam Lebaran, ketika banyak orang terlelap usai bersilaturahmi, mereka justru harus tetap siaga di posko.
Pengorbanan ini tentu tidak lepas dari konsekuensi pribadi.
Nirwan mengakui, ada kalanya keluarga merasa kehilangan momen kebersamaan. Keluhan kecil pun tak terhindarkan, terutama dari anak dan pasangan yang berharap bisa merayakan Lebaran bersama.
Namun, di balik itu semua, dukungan keluarga tetap menjadi kekuatan utama. “Memang ada komplain, tapi pada dasarnya mereka paham. Ini adalah tugas kemanusiaan,” ujarnya.
Meski jauh dari suasana hangat rumah, para petugas mencoba menciptakan kebersamaan sederhana di Mako. Mereka berbagi makanan, bercengkerama di sela waktu senggang, dan saling menguatkan satu sama lain.
Lebaran dijalani dengan cara berbeda tanpa kemewahan, tetapi penuh makna pengabdian.
Bagi Nirwan dan anggotanya, rasa lelah dan rindu keluarga terbayar ketika mampu membantu masyarakat yang sedang mengalami musibah.
Setiap panggilan yang direspons adalah bentuk tanggung jawab sekaligus kebanggaan.
“Kami mungkin tidak sepenuhnya merasakan Lebaran seperti yang lain, tapi kami bangga tetap bisa hadir untuk masyarakat selama 24 jam penuh,” pungkasnya.
(tribunpekanbaru.com/ Teddy Tarigan)
Personel Damkar Satpol PP dan Damkar Kepulauan Meranti saat mengamankan ular yang berada di salah satu rumah warga di Selatpanjang, Selasa (24/3/2026) malam.