Dua Dekade Misi Kebudayaan Aceh-Iran
Muhammad Hadi March 25, 2026 10:35 PM

Oleh Dr H Muhammad Heikal Daudy SH MH*)

Dua puluh tahun silam, Kamis (20/7/2006) bertempat di Meuligoe Gubernur Aceh, Ibu Darliza tak lain adalah Istri dari Mustafa Abubakar (Pj. Gubernur Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam) melepas kami Tim Kesenian Aceh dalam misi kebudayaan nasional ke Teheran, Iran.

Pengiriman duta seni asal Aceh tersebut dalam rangka memenuhi undangan dari Bapak Jero Wacik selaku Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia (Menbudpar RI) untuk terlibat dalam event Indonesian Festival 2006 yang akan berlangsung di Ibukota Iran, Teheran. 

Acara yang diprakarsai oleh Menbudpar RI tersebut merupakan program unggulan dalam rangka mendatangkan para Wisatawan Mancanegara asal Timur Tengah (Timteng) ke Indonesia.

Alasan pemerintah mencanangkan program ini antara lain: (1) Warga Negara asal Timteng pada saat itu sangat sulit untuk berpergian ke Eropa dan Amerika karena alasan keamanan; (2) Indonesia sebagai populasi muslim terbesar di dunia ingin menunjukkan bahwa negara ini aman untuk dikunjungi; (3) Menunjukkan komitmen kerjasama antar dua negara; dan (4) Dalam rangka membalas kunjungan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad ke Indonesia di tahun tersebut.

Pada hari Sabtu (23/7/2006) Pukul 23.00 WIB. Rombongan Indonesian Festival 2006 yang terdiri dari panitia, peragawati dibawah asuhan model nasional Ratih Sanggarwati, Ahli masak legendaris Chef Rudy Choiruddin beserta crew, para peseni dari Aceh, Sumatera Barat, Jawa Barat, dan para wartawan dari media cetak maupun elektronik nasional, bertolak menuju Doha, Qatar (QTR) dengan menempuh perjalanan selama 8 Jam. 

Tiba pagi hari waktu Qatar di Doha International Airport, dengan ditemani seorang tour guide, rombongan dibawa city tour melihat kota Doha selama 6 Jam. 

Baca juga: Iran dan Israel Saling Serang Hingga Detik Ini, AS Tambah Kekuatan Militer di Tengah Negosiasi

Mengingat keberangkatan menuju Teheran, Iran, akan dilanjutkan pada siang hari. Perjalanan city tour dimulai pukul 07.00 (QTR) pagi dengan cuaca 40°C, rombongan dibawa berkeliling melihat-lihat kota Doha. 

Spot pertama mengunjungi Camel Market (Pasar Unta), lalu ke Qatari Market (Pasar Tradisional di Kota Doha), kemudian perjalanan dilanjutkan ke Khalifah Stadium tempat penyelenggaraan Asian Games ke-15, ke Taman tepi laut menyaksikan tempat penyulingan air laut menjadi air tawar dan langsung bisa diminum. 

Air sulingan ini didistribusikan ke seluruh penduduk kota Doha, karena air mineral sangatlah bernilai bagi kehidupan mereka, dan benar saja kami mendapati bahwa harga sebotol minuman mineral di Qatar tergolong mahal. 

Agenda city tour berakhir di Carefour Shopping Centre yaitu pusat perbelanjaan terbesar dan termegah di Doha, Qatar. 

Dari sini diperoleh sejumlah kesan bahwa Doha sebagai ibukota negara Qatar, tampil megah berarsitektur modern, kota yang bersih dan terjaga. 

Selain daripada itu, kami melihat pemandangan kota yang tak biasa bahwa kaum perempuan sangat jarang tampak dijalanan umum kota, sekalipun jalan-jalan protokol yang cenderung ramai. 

Sekitar Pukul 13.30 (QTR) Qatar Airways Boeing 737-400 yang membawa kami take off dari Doha International Airport menuju Teheran, Iran, destinasi kami yang sesungguhnya Tepat pukul 15.30 Waktu Iran (IRN), pesawat yang kami tumpangi mendarat mulus di Imam Khomeini International Airport di Teheran, Iran. 

Selanjutnya kami dijemput dan dibawa menuju tempat peristirahatan dipusat kota Teheran tepatnya di Ferdossi Grand International Hotel setelah lelahnya menempuh perjalanan dari tanah air.

Usai beristirahat esoknya hari Senin tanggal 24 Juli 2006 seluruh rombongan dijemput oleh bus khusus untuk menghadiri Open Ceremony Indonesian Festival 2006 di Nia Varan Building Culture Center. 

Tim Kesenian Aceh yang ikut hadir dalam acara tersebut mendapat sorotan kamera photo dan televisi lebih dominan karena dianggap tampil beda dan mencolok menggunakan batik Aceh buah karya tangan terampil Ibu-ibu pembatik korban tsunami asuhan Dekranas NAD.

Baca juga: Kawal Misi Kemanusiaan Jusuf Kalla ke Iran, PMI Banda Aceh Kirim Doa dan Harapan Perdamaian

Open ceremony tersebut dikemas melalui pameran budaya Indonesia. Sejumlah pakaian adat dan pelaminan daerah ikut dipajang, peragaan busana muslim, pembuatan batik pekalongan dan masakan Aceh serta minang yang di ramu oleh Chef Rudy Choiruddin. 

Selain juga ada pameran photo, lukisan, dan souvenir. Ada kesan mendalam khusus untuk Rudy Choiruddin karena dalam setiap demo aktraksinya dia tampil menggunakan busana Aceh.

Selanjutnya Tim Kesenian Nusantara tampil dalam acara ladies program di Wisma Duta KBRI pada hari Selasa (25/7/2006).

Baca juga: VIDEO - Iran Longgarkan Blokade Selat Hormuz, Kapal Jepang Diberi Jalur Aman di Tengah Ketegangan

 Tari Seudati, Tari Saman dan Rapai Geleng dari Aceh. Lalu Tari Rampak Rapai dan Tari Piring dari Sumatera Barat, menjadi suguhan aktraktif pada hari tersebut. 

Puncaknya adalah penampilan pada Gala Dinner Indonesian Festival in The Night 2006 yang berlangsung di Laleh International Hotel pada hari Rabu malam (26/7/2006).

Event yang turut dihadiri Menteri Kebudayaan Iran, Para Duta Besar Negara sahabat yang ada di Iran, para Diplomat dan undangan khusus lainnya. 

Pada malam itu semua tim kesenian daerah tampil dalam performance yang sempurna. Segenap tamu yang hadir dibuat takjub dalam suasana magis tarian nusantara hingga larut malam.

Ekonomi rakyat Iran tergolong makmur 

Dalam misi budaya ini kami mencatat sejumlah hal yang tidak kalah penting untuk dibagi. 

Dimana Rakyat Iran sebagai entitas bangsa dengan jiwa nasionalisme yang tinggi, hidup dengan hukum syariat yang kental, sehingga suasana demikian dapat kami rasakan selama berada di negeri para mullah tersebut.

Keadaan ekonomi rakyat Iran tergolong makmur walaupun terkena embargo ekonomi selama bertahun-tahun.

Pemerintah Iran sangat concern di bidang pendidikan dan kesehatan dengan menggratiskannya. 

Biaya telepon, listrik dan air, wajib dibayar setiap 2 bulan sekali senilai 20.000 to man (pecahan mata uang dibawah Riyal Iran) atau setara dengan Rp. 20.000,- tanpa dihitung banyaknya pemakaian. 

Harga minyak kendaraan yang jauh lebih murah dari harga minyak kendaraan di Indonesia. 

Taman-taman kota dan rumah-rumah penduduk banyak dilakukan penghijauan dengan water system yang terkontrol tanpa henti untuk menjaga kelembaban tanah. 

Keadaan kota yang bersih, paduan bangunan kuno warna gurun ala Timteng pada umumnya dengan bangunan megah yang dibangun dengan arsitektur modern.

Baca juga: Harga Emas Terus Merosot Setelah Lebaran, Segini Harga Emas Per Mayam di Langsa 25 Maret 2026

Secara sadar kami menyaksikan bahwa di Teheran tidak tampak satu pun produk buatan Amerika Serikat.

Semua kebutuhan merupakan buatan dalam negeri atau import dari Perancis, Jerman, Korea atau Jepang dalam volume terbatas untuk jenis komoditas tertentu. 

Selama 5 hari kami berada di Teheran, Iran, dan pada tanggal 28 Juli 2006 kami semua sudah kembali ke tanah air dan daerah masing-masing dengan membawa kenangan yang sulit untuk dilupakan., heikal1985@gmail.com

*) PENULIS adalah Dosen FH Unmuha & Pemerhati Seni Budaya

 

 
 
 
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.