Israel dan Iran Bersatu dalam Musik
Tribunnews March 25, 2026 11:38 PM

Konflik Israeldan Iran tidak lepas dari ketegangan politik yang telah terjadi selama puluhan tahun. Hal ini turut membentuk persepsi warga negara kedua belah pihak.

Terlepas dari permusuhan historis, para musisi asal kedua negara yang berbasis di Berlin, Jerman, bertekad menunjukkan bahwa dialog antar dua kebudayaan ini masih dapat terjalin.

Ensambel Sistanagila diinisiasi oleh Babak Shafieian, seorang warga Iran yang pindah ke Jerman di usia muda untuk menempuh pendidikan.

Ia memulai proyek ini sekitar 15 tahun lalu untuk menentang retorika antisemitisme yang dipromosikan oleh presiden Iran saat itu, Mahmoud Ahmadinejad, yang juga menjadi sorotan internasional karena menyangkal Holokaus dan kerap mengancam kehancuran Israel.

"Pandangan Ahmadinejad tidak mencerminkan sikap saya terhadap Israel dan orang-orang Yahudi," kata Shafieian kepada DW. "Jadi saya berpikir kita bisa menciptakan sesuatu bersama-sama, orang Iran dan Israel, yang dapat menunjukkan solidaritas kedua bangsa."

Shafieian terinspirasi oleh latar belakang musik keluarganya serta Orkestra West-Eastern Divan milik Daniel Barenboim, di mana dalam orkestra tersebut musisi Yahudi dan Palestina memainkan musik klasik secara berdampingan.

Untuk membentuk eansambel tersebut, pertama-tama Shafieian menghubungi Yuval Halpern, seorang musisi dan komposer Israel, yang kini ini menjadi direktur musik di ensambel tersebut.

Halpern mengingat reaksinya pertama kali membaca surat elektronik berisi perkenalan dari Shafieian, "Awalnya saya agak was-was, karena biasanya orang Iran tidak menghubungi orang Israel. Dan saya pikir dia mungkin seorang teroris atau seseorang yang ingin menculik saya," kisahnya kepada DW.

Namun, setelah mencari informasi lebih lanjut tentang Shafieian di internet, Halpern memutuskan untuk menemuinya di restoran hummus di Neukölln, distrik dengan komunitas Arab terbesar di Berlin.

Dari pertemuan itu mereka pun menemukan lebih banyak musisi dari negara asal mereka masing-masing. "Ini adalah proyek yang hanya bisa terjadi di Berlin - bukan di Israel, bukan di Iran," kata Halpern, yang juga turut bernyanyi di ensambel tersebut.

Perpaduan musik tradisional Persia - Yahudi dengan jazz dan rock progresif

Para musisi asal Israel dan Iran dari Sistanagila bersama-sama mengeksplorasi warisan musik mereka, mencari cara memadukan berbagai jenis musik, termasuk elemen-elemen musik klasik Persia, nyanyian Yahudi, dan melodi Klezmer (tradisi musik instrumental kelompok Yahudi Ashkenazim di Eropa tengah dan timur.

"Kami menemukan banyak kesamaan dalam musik Sephardic (yang berasal dari kaum Yahudi Iberia), yang memiliki nuansa lebih oriental, seperti nada-nada Arab," jelas Halpern. Namun, setiap musisi memberikan pengaruh musik yang berbeda ke dalam kolaborasi ini: "Gitaris kami menyukai heavy metal, saya berasal dari latar belakang musik klasik, dan kami juga memiliki musisi jazz," kata komposer asal Israel itu.

Nama ensembel ini juga menghubungkan dua budaya "Sistan" merujuk pada provinsi Sistan dan Baluchistan di Iran, sementara "Nagila" mengingatkan pada lagu Yahudi yang terkenal, "Hava Nagila."

Pernyataan politis lewat musik

Di tengah situasi geopolitik yang kompleks di Timur Tengah, setiap anggota grup memiliki "pendapat politikaya masing-masing," kata manajer band Babak Shafieian. "Dalam hal ini, pandangan kami sangat beragam,” tambahnya. "Selalu ada diskusi, tetapi untungnya, secara umum, kami sepaham soal persahabatan antara rakyat Israel dan Iran."

"Banyak orang yang bertanya kepada kami apakah ini proyek yang politis. Pada dasarnya, konten kami tidak bersifat politis," kata Halpern. "Kami tidak menyanyikan lagu-lagu yang menentang suatu rezim atau mendukung suatu negara atau yang mengatakan, 'Mana yang lebih baik Israel atau Iran?' Hal seperti ini bukanlah fokus kami. Kami membuat musik bersama. Kami ingin menciptakan sesuatu yang indah bersama-sama. Dan itulah proyek perdamaian ini."

Dia menambahkan bahwa, tentu saja, ada pernyataan politis dalam proyek kerja sama ini yang dikerjakan warga Israel dan Iran bersama-sama. "Itulah mengapa proyek ini sangat penting, untuk menunjukkan bahwa rakyat bukanlah masalahnya. Masalahnya ada pada pemerintah dan para politisi," katanya.

Menanggapi perang AS-Israel dengan Iran, Shafieian berharap agar rakyat Iran tidak dilupakan. "Sekarang bisa jadi lebih berbahaya jika mereka ditinggalkan sendirian dengan rezim yang ada," katanya. Dia hanya bisa berharap perang ini "akan menjadi yang terakhir."

Pendiri Sistanagila memandang proyek musiknya sebagai salah satu dari sekian banyak inisiatif artistik, politik, dan sosial yang saat ini berupaya mempererat hubungan antara rakyat Iran dan Israel.

"Sistanagila menampilkan sebuah perspektif untuk masa depan dan semoga dalam waktu dekat orang Iran dan Israel dapat menjadi teman," katanya. "Dan kedua negara dapat menjalin persahabatan serta mengembangkan hubungan yang erat."

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Yuniman Farid

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.