TRIBUNJAKARTA.COM - Kepala Badan Intelijen Strategis (Kabais) TNI, Letjen Yudi Abrimantyo, resmi menyerahkan jabatannya sebagai bentuk pertanggungjawaban atas keterlibatan anak buahnya dalam penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus.
"Sebagai bentuk pertanggungjawaban, hari ini telah dilaksanakan penyerahan jabatan Kabais," ujar Kapuspen TNI, Mayjen Aulia Dwi Nasrullah, dalam konferensi pers singkat di Mabes TNI, Cilangkap, Rabu (25/3/2026).
Meski mengonfirmasi penyerahan jabatan tersebut, Mayjen Aulia memilih bungkam saat dicecar pertanyaan mengenai status Letjen Yudi—apakah ia mengundurkan diri secara sukarela atau dicopot secara paksa oleh Panglima TNI.
Suasana konferensi pers sempat memanas saat awak media mempertanyakan siapa pengganti Yudi.
Namun, jenderal bintang dua itu hanya melempar senyum tipis sebelum menyudahi pertemuan.
"Terima kasih," ucapnya singkat sambil bergegas meninggalkan ruangan.
Manajer Hukum dan Humas RSCM, Yoga Nara, mengatakan dalam tiga hari terakhir tim medis menemukan kondisi iskemia atau kekurangan aliran darah pada sekitar 40 persen area bawah (inferior) sklera mata kanan Andrie.
Kondisi tersebut menyebabkan penipisan jaringan di sekitar bagian mata kanan korban.
“Berdasarkan evaluasi tersebut, diputuskan untuk melakukan tindakan lanjutan guna menjaga kondisi jaringan dan mendukung proses penyembuhan,” ujar Yoga dalam keterangan tertulis yang diterima, Rabu (25/3/2026) malam.
Ia menyebutkan, pada Rabu pukul 10.00 WIB, Andrie menjalani operasi terpadu yang melibatkan tim spesialis mata dan bedah plastik.
“Pada hari Rabu, 25 Maret 2026 pukul 10.00 WIB pasien menjalani tindakan operasi terpadu yang melibatkan tim spesialis mata dan bedah plastik,” lanjutnya.
Dalam operasi tersebut, tim dokter melakukan pemindahan jaringan dari bagian dalam mata untuk menutup area terbuka, penempelan membran amnion, serta pemasangan kembali lensa pelindung.
Tindakan ini bertujuan memperbaiki permukaan bola mata dan mendukung proses penyembuhan jaringan secara optimal.
Selama tindakan berlangsung, tim medis juga menemukan penipisan jaringan kornea yang bersifat progresif pada bagian atas hingga sisi luar kornea mata kanan.
Kondisi ini terjadi akibat proses inflamasi yang masih berlangsung.
“Untuk mengatasi kondisi tersebut, dilakukan penempelan membran amnion tambahan serta penjahitan sementara kelopak mata kanan,” ujar Yoga.
Langkah tersebut dilakukan untuk melindungi permukaan mata sekaligus memaksimalkan proses pemulihan jaringan.
Yoga menambahkan, fokus utama penanganan saat ini adalah mempertahankan integritas bola mata kanan serta mengendalikan inflamasi agar tidak semakin memburuk.
“Kondisi pasien secara umum masih dalam pemantauan ketat oleh tim medis multidisiplin, dengan perawatan yang dilakukan secara komprehensif dan berkesinambungan,” tambahnya.
Kasus ini bermula pada Kamis malam (12/3/2026), saat Andrie Yunus diserang di kawasan Senen, Jakarta Pusat.
Ironisnya, pelaku penyerangan diduga kuat adalah empat prajurit TNI yang bertugas di Detasemen Markas (Denma) BAIS TNI, yakni NDP, SL, BHW, dan ES.
Serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah Andrie menyelesaikan rekaman siniar (podcast) di kantor YLBHI yang membahas isu sensitif: “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia.”