TRIBUNNEWS.COM - Perdana Menteri (PM) Lebanon, Nawaf Salam geram menuduh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengendalikan operasi militer Hizbullah dalam konflik melawan Israel.
Tuduhan ini muncul di tengah hubungan yang memanas antara pemerintah Lebanon dan kelompok Syiah tersebut, yang berada pada titik terendah dalam beberapa tahun terakhir, dikutip dari Al Jazeera, Kamis (26/3/2026).
Salam menyatakan dalam wawancara dengan stasiun Arab Saudi al-Hadath bahwa IRGC mengarahkan Hizbullah, termasuk serangan drone ke Siprus dari Lebanon.
“Itu adalah (Korps) Garda Revolusi (Iran), yang hadir dan, sayangnya, mengelola operasi militer di Lebanon. Orang-orang ini (anggota IRGC) telah memalsukan paspor dan memasuki negara ini secara ilegal,” tegasnya.
Di sisi lain, para analis menilai pernyataan Salam konsisten dengan laporan tentang pengaruh Iran terhadap strategi militer Hizbullah.
Baca juga: Israel Luncurkan Serangan Udara Besar ke Teheran, Targetkan Fasilitas Rudal IRGC
Sejak awal Maret, serangan Israel di Lebanon telah menewaskan lebih dari 1.000 orang dan memaksa 1,2 juta warga mengungsi, lebih dari 20 persen populasi, menurut Human Rights Watch.
Meski klaim Salam sulit dibuktikan secara langsung, IRGC diperkirakan berperan penting dalam persiapan Hizbullah untuk kembali aktif dalam konflik yang sudah berlangsung sejak 2023.
Pada 2 Maret, Hizbullah menembakkan enam roket sebagai balasan atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dan agresi Israel terhadap Lebanon.
Serangan itu mengejutkan warga dan politikus Lebanon karena sebelumnya Hizbullah menjamin tidak akan memasuki perang untuk mendukung Iran.
Pemerintah Lebanon menanggapi dengan melarang kegiatan militer Hizbullah dan meminta beberapa warga Iran yang terkait IRGC meninggalkan negara itu.
Namun langkah ini terbatas di lapangan, karena Hizbullah tetap melanjutkan aksi militernya, termasuk pertempuran melawan militer Israel di selatan Lebanon.
Menteri Luar Negeri Lebanon Youssef Rajji menyatakan duta besar Iran untuk Beirut persona non grata, sementara militer Israel menyatakan rudal yang ditembakkan dari Iran mendarat di Lebanon.
Presiden Israel Isaac Herzog menyebut langkah Lebanon “sangat berani,” dan Menteri Pertahanan Israel Israel Katz memastikan serangan terhadap posisi Iran akan berlanjut.
Baca juga: Israel Luncurkan Serangan Udara Besar ke Teheran, Targetkan Fasilitas Rudal IRGC
Hizbullah, didirikan tahun 1982 dengan dukungan IRGC, tetap memandang Iran sebagai pembimbing spiritual dan strategis.
Setelah gencatan senjata November 2024, IRGC mengirim perwira ke Lebanon untuk audit dan restrukturisasi, termasuk transformasi struktur komando menjadi sel-sel otonom, sesuai metode pertahanan “mozaik” IRGC, melansir Reuters.
Nicholas Blanford dari Atlantic Council mengatakan serangan roket Hizbullah kemungkinan dilakukan koordinasi langsung dengan Pasukan Quds, unit luar negeri IRGC.
Hal ini menegaskan bahwa pengaruh IRGC dalam strategi militer Hizbullah tetap kuat, meski pemerintah Lebanon mencoba membatasi kekuasaan mereka.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)