Atok Masri, Petugas Parkir 72 Tahun di Mentok yang Tetap Ramah dan Tarif Parkir Seikhlasnya
Asmadi Pandapotan Siregar March 26, 2026 12:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Sinar matahari menyengat menyelimuti Kecamatan Mentok, Kabupaten Bangka Barat ( Babar ), Kamis (26/3/2026), pagi. Di tengah hiruk pikuk aktivitas Pasar Mentok, sosok Atok Masri tampak sibuk mengatur kendaraan yang terparkir di depan Warkop Anen.

Dengan rompi kuning yang melekat di tubuhnya, pria berusia 72 tahun itu sigap mengatur keluar masuknya kendaraan roda dua maupun roda empat. Meski rambutnya mulai memutih dan kulitnya mengerut dimakan usia, semangatnya tetap terlihat kuat. 

Dulunya, ia merupakan buruh pikul di Pelabuhan Mentok. Kini, selama enam tahun terakhir, ia beralih menjadi petugas parkir. 

Warga sekitar mengenalnya sebagai sosok yang ramah. Tak jarang, ia mempersilakan pemilik kendaraan membawa motornya tanpa harus membayar parkir.

"Lanjut saja, bawalah motornya," kata Masri kepada pemilik motor saat hendak membayar biaya parkir ke Masri, Kamis (26/3/2026) siang di Pasar Mentok.

Keramahan Masri begitu terasa. Setiap kali warga melihatnya, mereka tak segan menyapa, bahkan memanggil namanya usai berbelanja.

Pria yang saat ini berusia 72 tahun itu, selalu ramah menyapa pemilik sepeda motor.

Usai pemilik motor selesai berbelanja, ia selalu mengarahkan sepeda motor sesuai dengan arah yang hendak dituju.

Meski biaya parkir ada tarifnya, Masri, tidak pernah memaksa pemilik kendaraan untuk membayar parkir. 

Ia ikhlas dan menerima secara sukarela jumlah yang diberikan oleh pemilik kendaraan.

"Tarif parkir biasaya motor Rp 1.000 dan mobil Rp 2.000 jadi seikhlas orang lah ngasihnya. Tidak maksa. 

Pernah ngasi lebih, ada juga kurang ada, mobil bayar Rp 1000. Tetapi ikhlas saja. Terima saja, yang penting ada," kata bapak enam anak ini.

Ia mengatakan, pekerjaan sebelumnya, menjadi kuli pikul di pelabuhan dan saat ini semakin berkurang. 

Sehingga memilih beralih menjadi petugas parkir daripada tidak memiliki pekerjaan sama sekali. 

"Karena pekerjaan mikul sudah kurang, saya melanjutkan parkir daripada tidak ada kerja lain. Anak enam, masih tangung jawabnya. Jadi tetap bekerja," kata pria asal Tanjung Mentok itu.

Masri menceritakan, pendapatannya sekitar Rp 90 ribu per hari, cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Baginya, mengatur kendaraan sudah menjadi kebiasaan, bahkan ia mengaku menyukai pekerjaannya saat ini.

"Sehari pendapan Rp 90 ribu. Mengatur motor suka saja, sudah kebiasaan. Setiap hari setornya ke dinas perhubungan per hari Rp 20 ribu,"tutupnya. (Bangkapos.com/Riki Pratama)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.