Petani Suela Ubah Lahan Kering Jadi Lumbung Pangan dengan Sistem Irigasi Tetes
Idham Khalid March 26, 2026 12:04 PM

 

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Rozi Anwar 

TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK TIMUR - Keterbatasan anggaran pembangunan pertanian ditengah dominasi lahan kering yang mencapai lebih dari 70 persen di Kecamatan Suela, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) mendorong lahirnya terobosan baru. 

Mengandalkan prinsip efisiensi, Speaker Kampung melalui jurnalis warga dan konten kreator setempat mulai mengkampanyekan sistem irigasi tetes sebagai solusi konkret untuk mengubah lahan tidak produktif menjadi lumbung pangan hijau.

Ketua Yayasan Speaker Kampung, Hajad Guna Roasmadi, menilai bahwa di tengah keterbatasan biaya pembangunan infrastruktur air konvensional, irigasi tetes menawarkan efektivitas biaya yang jauh lebih rendah. Sistem ini dinilai sebagai jawaban atas kebutuhan ketahanan pangan tanpa harus membebani anggaran besar.

“Kita tidak bisa terus bergantung pada musim hujan atau menunggu anggaran besar untuk irigasi mahal. Lahan kering di Suela mencapai lebih dari 70 persen. Irigasi tetes adalah jawaban. Ini adalah ekonomi hijau yang sesungguhnya, menghemat air, meningkatkan produktivitas, dan yang terpenting, sangat efisien dari sisi biaya operasional,” kata Eros, sapaan akrabnya, saat ditemui pada Rabu (25/3/2026).

Menurut Eros, efisiensi anggaran dalam pertanian lahan kering dapat diwujudkan karena sistem irigasi tetes hanya membutuhkan modal awal yang relatif terjangkau, seperti selang berlubang, tandon atau derigen, serta pemanfaatan reservoir air hujan. Secara teknis, sistem ini menyalurkan air langsung ke akar tanaman, terbukti mampu mengurangi konsumsi air hingga 50 persen lebih dibandingkan sistem konvensional. Efisiensi ini tidak hanya berdampak pada penghematan air, tetapi juga pada penghematan biaya pemupukan dan tenaga kerja.

"Saya dua tahun bertani di lahan pertanian sambil mempelajari solusi lahan kering. Setelah saya pelajari, irigasi tetes ini adalah solusi yang paling ramah kantong. Idealnya dalam 1 hektar ada 5 are untuk kolam penampungan air hujan. Dengan persiapan itu, kebutuhan air selama musim kemarau akan terpenuhi tanpa biaya energi yang besar," jelas Eros.

Baca juga: Tiga Jaringan Irigasi Rampung, Siap Diresmikan Saat HUT Ke-67 NTB

Eros menceritakan, sebelumnya lahan kering itu hanya berfungsi di musim hujan saja, dengan menanam jagung saja. Tapi jika menggunakan sistem irigasi tetes maka seperti tanaman cabai, tomat dan biji-bijian bisa dihasilkan saat musim kemarau.

"Saat musim hujan kita tampung air untuk mengairi ladang di musim panas untuk mengairi tanaman sperti tomat, cabai dan biji-bijian seperti komak, kendokak dan kedelai hitam, jadi musim panas ada penghasilan warga dengan biaya yang cukup murah," jelasnya.

Melalui kampanye sistem irigasi tetes yang akan dilakukan melalui video dan tulisan oleh jurnalis warga dan konten kreator, diharapkan petani menerapkan sistem irigasi tetes di ladang nya masing-masing.

"Melalui kampanye yang dilakukan oleh para jurnalis warga dan konten kreator itu bisa memberikan edukasi oleh warga yang mempunyai ladang yang tidak difungsikan saat musim panas," pungkasnya.

Kepala Dinas Pertanian Lombok Timur melalui Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan dan Hortikultura, Zukiadi, yang hadir dalam diskusi tersebut, menyatakan bahwa program ini sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam melakukan efisiensi dan efektivitas program. Pemerintah tengah menyiapkan pendampingan serta bantuan paket irigasi tetes yang ditargetkan tepat sasaran bagi desa dengan akses air terbatas.

“Kami apresiasi langkah Speaker Kampung yang proaktif mengedukasi petani. Ini sejalan dengan visi kabupaten dalam mempercepat adopsi teknologi pertanian adaptif perubahan iklim yang tentunya juga mempertimbangkan nilai guna dari setiap rupiah anggaran yang dikeluarkan,” ujarnya.

Meski dalam pertemuan tersebut penyelenggara menyampaikan permohonan maaf kepada penyelenggara, karena tidak hadirnya Kepala UPP Suela, para penyuluh, dan sejumlah pihak yang tidak dapat hadir, diskusi tetap berfokus pada sinergi lintas bidang. 

Zukiadi menambahkan bahwa persoalan prasarana yang secara domain tugas berada di Bidang PSP (Prasarana dan Sarana Pertanian) akan segera dikoordinasikan.

“Nanti akan saya sampaikan dan laporkan kepada Bapak Kadis Pertanian mengenai program ini, agar dukungan anggaran bisa disinergikan, baik untuk irigasi tetes maupun prasarana pendukung lainnya,” ujarnya.

Ke depan, kampanye ekonomi hijau melalui irigasi tetes ini diharapkan menjadi model pembangunan pertanian yang mengutamakan efisiensi anggaran. 

"Dengan dominasi lahan kering yang ada, penerapan teknologi ini menjadi kunci untuk meningkatkan indeks pertanaman dan kesejahteraan petani tanpa memerlukan biaya pembangunan infrastruktur berskala besar," tutupnya.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.