Oleh: Baharuddin Solongi
Pemerhati Masalah Sosial Ekonomi
TRIBUN-TIMUR.COM - Dua puluh enam kali pertemuan bukan sekadar angka. Ia adalah bukti konsistensi, daya tahan, dan semangat kolektif yang tidak mudah pudar. Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM), yang digagas oleh tokoh-tokoh besar seperti Muhammad Jusuf Kalla, Aksa Mahmud, dan Alwi Hamu, telah menjelma menjadi salah satu forum ekonomi berbasis budaya paling berpengaruh di Indonesia Timur.
Namun lebih dari itu, PSBM adalah tentang harapan, tentang bagaimana jejaring, nilai, dan identitas dapat menjadi energi besar untuk masa depan.
PSBM tidak lahir dari ruang kosong. Ia bertumpu pada nilai luhur Bugis Makassar, siri’ na pacce, harga diri dan solidaritas. Nilai inilah yang menjadikan jejaring saudagar bukan sekadar relasi bisnis, tetapi juga ikatan kepercayaan.
Dalam dunia ekonomi modern, kepercayaan adalah mata uang yang paling mahal. Dan PSBM telah memilikinya.
Dengan jaringan yang melampaui batas daerah hingga internasional, PSBM sesungguhnya telah memiliki semua prasyarat untuk menjadi kekuatan ekonomi berbasis diaspora yang besar.
Optimisme terhadap PSBM justru lahir dari kesadaran bahwa perjalanan ini belum selesai. Dengan 26 kali pertemuan, arah ke depan semestinya menjadi semakin jelas, mengubah kekuatan jejaring menjadi dampak yang lebih luas dan terukur.
Ini bukan kritik, melainkan peluang besar. Bayangkan jika jejaring besar ini membuka ruang lebih luas bagi UMKM, investasi yang terbangun diarahkan pada sektor produktif daerah, dan generasi muda dilibatkan sebagai motor inovasi. Maka PSBM tidak hanya akan kuat di tingkat elit, tetapi juga mengakar hingga ke lapisan masyarakat paling bawah.
Peran besar Muhammad Jusuf Kalla dan para pendiri telah meletakkan fondasi kokoh. Kini, tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa energi ini terus hidup melalui regenerasi. Dan kabar baiknya, generasi muda Bugis Makassar hari ini sebagian besar memiliki kapasitas yang jauh lebih besar, terdidik, terkoneksi digital, dan adaptif terhadap perubahan global.
Jika generasi ini disinergikan dengan jejaring senior, PSBM berpotensi melahirkan gelombang baru saudagar modern yang tidak hanya kuat secara ekonomi, tetapi juga visioner.
Kita sedang berada pada momentum strategis. Pembangunan Indonesia Timur semakin menjadi prioritas nasional. Infrastruktur berkembang, investasi terbuka, dan peluang tumbuh di berbagai sektor.
Dalam konteks ini, PSBM bukan sekadar forum, ia bisa menjadi aktor kunci yang menjembatani peluang dengan eksekusi nyata.
Dengan pengalaman, jaringan, dan legitimasi yang dimiliki, PSBM memiliki posisi unik untuk mempercepat investasi. Juga mampu mendorong pemerataan ekonomi. Serta dapat mengangkat potensi daerah menjadi kekuatan nasional.
Optimisme terhadap PSBM bukanlah harapan kosong. Ia berdiri di atas fakta. Konsisten 26 pertemuan. Keterlibatan tokoh-tokoh strategis. Serta, kekuatan budaya yang mengikat.
Yang dibutuhkan hari ini bukan perubahan arah, tetapi penguatan langkah. Sedikit lebih inklusif, sedikit lebih terukur, dan sedikit lebih berani mengeksekusi.
PSBM telah membuktikan bahwa komunitas berbasis budaya mampu bertahan dan berkembang di tengah perubahan zaman. Kini, langkah berikutnya adalah memastikan bahwa setiap pertemuan tidak hanya mempererat hubungan, tetapi juga menghasilkan perubahan nyata.
Sejarah besar selalu dimulai dari pertemuan-pertemuan kecil yang konsisten. Dan PSBM telah melangkah lebih jauh dari itu.
Tantangan ke depan bukan lagi apakah PSBM akan bertahan, tetapi seberapa besar dampak yang akan ditinggalkannya bagi Indonesia.
Dengan semangat siri’ na pacce, satu hal menjadi pasti, PSBM tidak hanya akan berkumpul, mereka akan terus bergerak, membangun, dan menguatkan masa depan. Wallahualam Bissawabe.(*)