Gunung Marapi Meletus Puluhan Kali hingga Maret 2026, Kolom Abu Capai 3.000 Meter, Warga Waspada
Rahmadi March 26, 2026 03:27 PM

TRIBUNPADANG.COM, BUKITTINGGI – Aktivitas vulkanik Gunung Marapi di Sumatera Barat tercatat masih berlangsung dinamis sejak awal tahun 2026 hingga Kamis (26/3/2026).

Data Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Bukittinggi menunjukkan, puluhan gempa letusan terjadi dengan variasi amplitudo, durasi, hingga tinggi kolom abu yang fluktuatif.

Petugas PGA Bukittinggi, Ahmad Rifandi, menjelaskan bahwa aktivitas Marapi sudah terlihat sejak awal Januari 2026 dan terus berlanjut hingga saat ini.

“Sejak Januari, aktivitas letusan sudah mulai terekam dengan amplitudo kecil hingga sedang. Beberapa di antaranya bahkan disertai kolom abu yang teramati,” ujarnya, Kamis (26/3/2026).

Pada Januari 2026, aktivitas letusan terjadi secara sporadis. Tercatat pada 6 Januari, letusan memiliki amplitudo 3,1 mm dengan durasi 35 detik dan kolom abu setinggi 250 meter.

Baca juga: Truk Tangki BBM Hantam Minibus dan Motor di Bypass Padang, Pemotor dan Bayi Jadi Korban

Aktivitas kemudian berlanjut pada 7 dan 8 Januari, meski tinggi kolom tidak teramati akibat kabut.

Puncak aktivitas Januari terjadi pada pertengahan bulan. Pada 13 Januari, amplitudo letusan mencapai 30,3 mm dengan durasi 35 detik.

Sehari berselang, pada 14 Januari, kolom abu teramati mencapai 1.600 meter di atas puncak, menjadi salah satu letusan tertinggi pada periode tersebut.

Aktivitas kembali tercatat pada 18 Januari dengan durasi cukup lama mencapai 145 detik, serta kolom abu setinggi 300 meter.

Hingga akhir bulan, letusan masih terjadi, termasuk pada 25, 26, dan 28 Januari dengan amplitudo yang tetap relatif tinggi, meskipun sebagian besar kolom abu tidak teramati karena cuaca berkabut.

Baca juga: Gunung Marapi Erupsi 2 Kali Kamis Pagi, Cek Daftar Wilayah Berpotensi Hujan

Memasuki Februari 2026, intensitas aktivitas meningkat. Pada 5 Februari, terjadi tiga kali letusan dalam satu hari. Salah satu letusan bahkan menghasilkan kolom abu hingga 3.000 meter, dengan amplitudo maksimum 30,3 mm dan durasi 87 detik.

“Awal Februari cukup signifikan karena terjadi beberapa letusan beruntun dalam satu hari dengan energi yang cukup besar,” kata Rifandi.

Aktivitas kemudian berlanjut pada 8, 9, dan 10 Februari dengan amplitudo bervariasi. Meski sebagian besar kolom abu tidak teramati, gempa letusan tetap terekam dengan durasi puluhan detik.

Pada pertengahan hingga akhir Februari, aktivitas masih terjadi, di antaranya pada 18 dan 19 Februari dengan amplitudo mendekati 30 mm.

Selain itu, pada 22 Februari tercatat dua kali letusan dalam satu hari, diikuti letusan pada 23 Februari dengan amplitudo 11,7 mm.

Baca juga: BMKG Prediksi Cuaca Kabupaten Solok: Pagi Cerah Berawan, Siang hingga Dini Hari Hujan Ringan

Memasuki Maret 2026, aktivitas Gunung Marapi masih berlanjut. Pada 1 dan 3 Maret, amplitudo letusan kembali berada di kisaran 30 mm dengan durasi cukup lama, masing-masing 68 detik dan 86 detik.

Salah satu letusan yang menonjol terjadi pada 9 Maret, di mana kolom abu teramati mencapai 1.600 meter di atas puncak. Sementara itu, pada 14 Maret tercatat durasi letusan terpanjang dalam periode ini, yakni mencapai 201 detik.

“Durasi letusan yang panjang menunjukkan adanya pelepasan energi yang cukup signifikan, meskipun tidak selalu diikuti dengan kolom abu yang terlihat,” jelasnya.

Aktivitas juga tercatat pada 19 dan 24 Maret, dengan dua kali letusan dalam satu hari pada 24 Maret. Kedua letusan tersebut memiliki amplitudo di atas 28 mm, namun tinggi kolom tidak teramati akibat kondisi cuaca.

Pada Kamis (26/3/2026), Gunung Marapi kembali mengalami dua kali erupsi pada pagi hari. Erupsi pertama terjadi pukul 08.28 WIB dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi sekitar 27 detik. Kemudian, erupsi kedua terjadi pukul 09.56 WIB dengan amplitudo 10 mm dan durasi 22 detik.

Baca juga: Persib Bandung Kembali Latihan Usai Libur Lebaran, Laga Terdekat Hadapi Semen Padang FC

“Untuk dua letusan hari ini, kolom abu tidak dapat diamati karena tertutup kabut,” ungkap Ahmad Rifandi.

Ia menegaskan, hingga saat ini status Gunung Marapi masih berada pada Level II (Waspada). Masyarakat, pendaki, dan wisatawan diimbau untuk tidak mendekati kawasan dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas di Kawah Verbeek.

Selain itu, warga yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu dari Gunung Marapi diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lahar, terutama saat hujan turun.

“Gunakan masker saat terjadi hujan abu, lindungi sumber air bersih, dan bersihkan atap rumah dari timbunan abu. Yang tidak kalah penting, masyarakat diminta tidak mudah terpengaruh informasi yang belum jelas kebenarannya,” tutupnya.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.