SURYA.co.id – Harga minyak mentah dunia (Brent dan WTI) merosot lebih dari 5 persen pada Rabu (25/3/2026) setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan sinyal negosiasi dan rencana gencatan senjata dengan Iran.
Penurunan harga ini langsung direspons positif oleh pasar global, ditandai dengan kenaikan bursa saham Asia dan turunnya harga energi yang sebelumnya melonjak akibat konflik Timur Tengah.
Anjloknya harga minyak mentah global ini menjadi angin segar bagi masyarakat Indonesia.
Pasalnya, pergerakan harga minyak dunia sangat berpengaruh terhadap evaluasi harga BBM non-subsidi di dalam negeri, seperti Pertamax dan Dexlite, yang ditinjau setiap awal bulan oleh PT Pertamina (Persero).
Jika tren penurunan ini bertahan hingga akhir bulan, maka ada peluang harga BBM non-subsidi turun pada penyesuaian bulan depan.
Sebelum muncul sinyal negosiasi, pasar global sempat panik akibat konflik Iran dan Israel yang memicu kekhawatiran penutupan Selat Hormuz.
Jalur laut ini merupakan rute utama pengiriman minyak mentah dan gas alam cair dunia.
Gangguan di wilayah tersebut membuat harga minyak melonjak tajam dalam beberapa hari terakhir karena pasar menambahkan “premi risiko” geopolitik.
Situasi mulai berubah setelah pemerintahan Trump dilaporkan menawarkan rencana gencatan senjata 15 poin kepada Iran.
Trump mengatakan AS sedang bernegosiasi dengan Iran untuk mengakhiri perang, seiring meningkatnya upaya diplomatik pada Selasa.
Pernyataan ini langsung menurunkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak global.
Baca juga: Imbas Donald Trump Klaim Dapat Akses Selat Hormuz Direaksi Keras Kubu Iran, Kedubes Sindir Menohok
Meski demikian, Iran membantah bahwa negosiasi sedang berlangsung.
Di sisi lain, konflik militer masih terjadi. Israel mengatakan telah melakukan serangkaian serangan besar-besaran terhadap "lokasi produksi" Iran, tanpa memberikan informasi lebih lanjut.
Di Teheran, sebuah ledakan besar terdengar di lingkungan utara dan satu lagi di pusat kota.
Iran juga menembakkan setidaknya selusin gelombang rudal ke Israel.
Petugas tanggap darurat mengatakan tiga orang terluka di Israel selatan, dan empat lainnya menderita luka ringan di Tel Aviv.
Seorang kontraktor sipil Maroko yang bekerja untuk angkatan bersenjata Uni Emirat Arab tewas di Bahrain dalam serangan Iran.
Di Kuwait, saluran listrik terkena pecahan peluru pertahanan udara, menyebabkan pemadaman listrik sebagian selama beberapa jam.
Arab Saudi mengatakan telah menghancurkan drone Iran yang menargetkan Provinsi Timur yang kaya minyak.
Artinya, penurunan harga minyak saat ini lebih dipicu harapan damai, bukan karena konflik benar-benar berhenti.
Penurunan harga minyak terjadi cukup tajam dalam waktu singkat.
Minyak mentah Brent, standar internasional, turun 5,9 persen menjadi 94,42 dolar AS per barel.
Padahal sehari sebelumnya, Selasa (24/3/2026), harganya masih berada di sekitar 104 dolar AS per barel.
Sementara itu, minyak mentah acuan Amerika Serikat turun 5,1 persen menjadi 87,65 dolar AS per barel pada Rabu pagi, dikutip SURYA.co.id dari Tribunnews.
Penurunan ini menjadi kabar baik bagi Indonesia karena dapat meringankan tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama untuk subsidi energi dan kompensasi BBM.
Semakin rendah harga minyak dunia, semakin kecil beban pemerintah untuk menambal selisih harga energi di dalam negeri.
Yang paling ditunggu masyarakat adalah apakah harga BBM akan ikut turun.
Secara mekanisme, harga BBM non-subsidi seperti Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex memang dievaluasi setiap tanggal 1 oleh PT Pertamina (Persero) dan badan usaha lainnya.
Penyesuaian harga BBM non-subsidi tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan menggunakan formula yang mengacu pada rata-rata harga minyak dunia yang dipublikasikan melalui Mean of Platts Singapore (MOPS) atau Argus, serta nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Jika rata-rata harga minyak dunia dalam satu bulan turun dan rupiah stabil, maka harga BBM non-subsidi berpeluang turun pada bulan berikutnya.
Namun jika konflik kembali memanas dan harga minyak naik lagi sebelum akhir bulan, maka harga BBM berpotensi tetap atau bahkan naik.
Karena itu, penentuan harga BBM di Indonesia tidak berdasarkan harga harian, melainkan rata-rata harga selama satu bulan penuh.
Pengamat energi dari Reforminer Institute menilai peluang penurunan harga BBM tetap terbuka, namun sangat bergantung pada tren harga minyak hingga akhir bulan.
Menurutnya, jika harga minyak bisa bertahan di bawah 100 dolar AS per barel sampai akhir bulan, maka ada ruang bagi Pertamina untuk menurunkan harga BBM non-subsidi.
Namun jika konflik kembali memanas dan harga melonjak lagi, maka penurunan harga BBM kemungkinan ditunda.
Sementara itu, ekonom dari INDEF menambahkan bahwa selain harga minyak dunia, faktor nilai tukar rupiah juga sangat menentukan karena impor BBM menggunakan dolar AS.
Penurunan harga minyak dunia lebih dari 5 persen akibat sinyal negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran menjadi kabar baik bagi pasar global dan berpotensi berdampak ke Indonesia, terutama pada harga BBM non-subsidi.
Namun, situasi geopolitik Timur Tengah masih sangat dinamis.
Jika negosiasi benar-benar terjadi dan konflik mereda, harga minyak bisa terus turun dan membuka peluang penurunan harga BBM bulan depan.
Sebaliknya, jika perang kembali memanas, harga minyak bisa melonjak lagi.
Karena itu, masyarakat disarankan untuk terus memantau pergerakan harga minyak dunia hingga akhir bulan sebelum tanggal penyesuaian harga BBM pada awal bulan depan.