Dokter Tifa Bantah Ikuti Jejak Rismon Merapat ke Solo di Kasus Ijazah Jokowi: Perjuangan Tak Mudah
Hanang Yuwono March 26, 2026 04:29 PM

 

TRIBUNSOLO.COM - Isu mengenai mundurnya Tifauzia Tyassuma dari polemik ijazah Joko Widodo sempat ramai diperbincangkan publik.

Spekulasi ini muncul setelah dr. Tifa terlihat jarang muncul di media maupun media sosial dalam beberapa waktu terakhir, sehingga memunculkan dugaan bahwa dirinya telah menghentikan perjuangannya atau bahkan “merapat” ke Solo.

Namun, kabar tersebut langsung dibantah.

Baca juga: Di Balik Pertemuan Jokowi dan Budi Arie di Solo, Ada Laporan soal Agenda Besar Projo

Melalui penjelasan yang disampaikan Refly Harun, disebutkan bahwa absennya dr. Tifa murni karena fokus beribadah di 10 hari terakhir Ramadan 2026.

“Akhirnya beredarlah spekulasi bahwa saya diam-diam ke Solo menghadap Raja Jawa untuk mengharapkan pengampunan,” ujar Refly membacakan klarifikasi dr. Tifa.

Dalam pernyataan lainnya, dr. Tifa juga mengungkap alasan dirinya rehat sementara dari aktivitas publik.

“Beberapa hari ini saya memilih menarik diri sejenak dari berbagai urusan. Memasuki sepuluh hari terakhir Ramadan, saya ingin memusatkan diri pada ibadah,” tulisnya.

Bantah Merapat ke Solo

Meski sempat “menghilang”, dr. Tifa menegaskan dirinya tidak berhenti menyuarakan kritik.

Hal ini dibuktikan dengan peluncuran buku terbarunya berjudul Otak Politik Jokowi (OPJ), yang disebut sebagai lanjutan kajian sebelumnya.

“Siapa bilang Dr. Tifa quit?” tulisnya di akun media sosialnya.

Buku tersebut mengulas pendekatan neuropolitik terhadap kepemimpinan Jokowi, termasuk isu pendidikan, ijazah, hingga kebijakan publik.

Karya ini juga mendapat pengantar dari Rocky Gerung.

Baca juga: Profil Budi Arie yang Temui Jokowi di Solo : Eks Aktivis Kampus Sempat jadi Kader PDIP dan Menteri

Selain itu, dr. Tifa turut menyampaikan kritik terhadap praktik kekuasaan yang dinilai mulai mengarah pada upaya melemahkan para pengkritik.

“Cara-cara yang digunakan tidak lagi mencerminkan etika seorang negarawan, tetapi lebih menyerupai praktik kekuasaan yang mempertahankan diri dengan mengorbankan orang lain,” ujar Refly menyampaikan pesannya.

Ia juga menegaskan bahwa polemik yang terjadi sebenarnya bisa diselesaikan secara terbuka.

“Jika memang tidak ada yang disembunyikan, cukup tunjukkan saja. Di mana pun, di depan publik, di pengadilan,” tegasnya.

Baca juga: Profil Tina Talisa yang Temui Jokowi di Solo : dari Jurnalis, Kini Stafsus Wapres dan Komisaris BUMN

Di sisi lain, dr. Tifa menyoroti langkah Rismon Sianipar yang memilih mengajukan restorative justice setelah mengakui keaslian ijazah Jokowi.

Ia mengaku tidak berada pada posisi yang sama.

“Terus terang saya menyesalkan langkah tersebut. Saya tidak berada pada posisi yang sama dengannya,” ujarnya.

Ia juga mengungkap bahwa dirinya sempat terkejut dengan perubahan sikap tersebut dan bahkan menghubungi Roy Suryo.

Baca juga: Pesan Jokowi ke Dua Stafsus Wapres Gibran saat Silaturahmi di Kediaman Solo, Bukan Bersifat Pribadi

Meski begitu, dr. Tifa mengaku memahami bahwa setiap orang bisa berada di bawah tekanan.

“Tekanan itu bisa berupa ancaman yang kasar tetapi sering kali justru lebih kuat dalam bentuk yang jauh lebih halus,” ungkapnya.

Menutup pernyataannya, dr. Tifa menegaskan bahwa dirinya tidak akan mundur dari sikap yang diyakini.

“Perjuangan ini mungkin tidak mudah. Namun saya percaya, kebenaran tidak membutuhkan keramaian. Ia hanya membutuhkan keteguhan,” pungkasnya.

(*)


 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.